Tuesday, October 17, 2006

satu hari di jakarta

Aku membuka mata, mendengar bel roti, mendengar musik bayi yang menghipnotis, mencium aroma pagi yang berkeringat. Melakukan rutinitas di pagi hari tanpa mau berkompromi dengan terang. Tidak lupa menelan butir putih itu tapi tetap saja lambung membandel.

Saat membuka pagar, saat aku harus bercinta dengan terang dan dengan hari. Selanjutnya adalah pergulatan semu tentang kemacetan yang tidak kunjung usai. Mendengarkan radio yang itu-itu saja. Mencoba menggantinya adalah sebuah kesia-siaan bagi rasa yang sudah terkungkung ini.

Ketika laci dibuka, satu persatu perangkat masa kini dipasang. Berharap paling tidak satu bunyi membawa senyum. Menera lega untuk beberapa jam ke depan. Sejauh mata memandang dalam ruang empat kali empat, kudapati lukisan hijau itu. Sebuah utopia kehidupan di mataku.

Jakarta tidak pernah diam. Jakarta selalu mengusik. Jakarta adalah kenyataan.

juli

Saturday, July 01, 2006

Usia dan adrenalin


Dari dulu aku selalu suka taman hiburan. Seperti taman ria, pasar malam, sirkus, dunia fantasi. Bermain adalah kegiatan yang paling menyenangkan. Disitu ada tawa, celoteh, gerak, minum, makan dan sahabat. Mungkin seperti satu hari di pelangi.

Hari ini aku ulang tahun. Ke 31 tahun. Aku sendiri terkejut betapa panjangnya sudah usiaku. Tapi tidak terlalu aku pikirkan. Waktu tidak bisa diajak mundur. Entah karena aku bosan dengan ulang tahun yang isinya cuma makan-makan dan ngobrol, aku memilih pergi ke taman hiburan saja. 6Flags New England bersama Ari, Esti dan Romo Bagus. Ceritanya seperti Dunia fantasi, tapi katanya lebih thrilling. 1 Juli 2006, summer and above 80F. Panas tentunya. Menyengat dan terik. Ada pertandingan piala dunia. Membuat Ari sedikit terkoreksi perhatiannya. Kasihan juga dia. Tapi dalihnya, demi aku apapun harus mengalah. Haa manis rasanya seperti madu.

Memang benar, banyak banget wahana yang bikin jantung mau copot dan otak melayang. Jenisnya mirip-mirip semua. Seingat aku, waktu masih kuliah, aku tidak mikir-mikir naik wahana yang aneh-aneh gitu. Nikmat kan rasanya menaikkan adrenalin?
Tapi hari ini, baru melihatnya saja sudah bikin takut dan bikin perut sakit. Kami sepertinya yakin kalau kami tidak merasa rugi sudah bayar tapi tidak naik wahana adrenalin itu. Tapi ada yang lucu, kami tertipu juga. Sudah berusaha menghindari hal-hal yang membuat badan terbalik, ehhhh ternyata ketipu saat mencoba Houdini. Dipikir hanya nonton ilusinya Houdini. Ternyata..... badan dibolak-balik buat melihat lukisan dan ruangan yang terbalik-balik. Kok aku takut ya sekarang?
Jangan-jangan karena aku sudah tua.

ps. ari memenangkan game berhadiah. Dapat singa gendut dan dora.

Friday, June 23, 2006

Hebohnya pindahan













I hate myself for buying so many things! Aku pikir yang aku beli-beli untuk dibawa pulang ke Jakarta tidak banyak. Ternyata banyak banget. Apalagi dengan kondisi bagasi yang sudah dikurangi jatahnya. Aku pikir sudah beli oleh-oleh yang kecil-kecil bentuknya. Tapi, kecil-kecil menjadi bukit. Alhasil banyak barang yang harus didonasikan atau dibuang. Sayang oh sayang. Pusingnya mengatur barang-barang masuk koper. Berhari-hari ribet. Sampai-sampai beli tiga koper baru. Kilat khusus ditemani Sharief ke Target yang rada jauh.

Aku pikir membersihkan apartemen yang unyil tidak terlalu lama dan sulit. Ternyata banyak pritil-pritil yang tidak terkira. Pertama, furnitur harus disingkirkan dahulu. Caranya? Jual lewat craigslist dan kasih ke teman. Persiapannya lumayan juga, buat foto-fotonya dulu, nentuin harga secara asal, bikin iklannya dan posting. Sedikit demi sedikit terjual. Tapi ada juga mendapatkan pengalaman buruk. Misalnya, katanya mau beli, ternyata mangkir. Kan repot musti re-posting lagi. Ngejawab-jawab email dan telepon lagi. Pada akhirnya barang paling mahal yang tidak laku adalah televisi kecil kita. Yang beruntung kita titipkan adalah Esti. Setelah barang-barang keluar, hidup jadi minimalis. heehe...

Selanjutnya, belum selesai. Kerja keras, mari kita kerja. Menyapu, mengepel, menggosok kamar mandi, membersihkan kompor, mengelap lemari-lemari, membersihkan dapur dan menyapu balkon yang bercita rasa burung merpati (bonus telur mati, uh sedihnya si mama burung).

Bye Peabody Terrace 2-511.
ps. ada jejak kura-kura yang tertinggal di balkon. See you someday!

jul

Saturday, May 27, 2006

Sudah mencapai bulan kelima

Sudah mencapai bulan kelima. Sebentar lagi waktu akan membawa kita ke belahan lain di bumi ini. Apakah hatiku? Apakah hatinya?

Sebenarnya aku belum lama tinggal di kota ini. Cambridge, MA, USA. Tidak sampai 2 tahun. Itupun musim panas tahun lalu, kita pulang ke Jakarta. Tapi aku pikir, banyak hal baru yang aku rasakan.

Aku ingat waktu pertama datang kesini. Ari sudah sibuk kuliah. Dia tidak bisa menemani aku terus-terusan. Aku takut sekali. Takut nyasar! Untung ada Charles River yang bisa jadi patokan. Awalnya senang banget keliling-keliling daerah Harvard. Lama-lama bosan juga karena sudah hafal.

Aku ingat dinginnya sudah menusuk semenjak aku datang tanggal 5 November 2004. Dingin itu juga yang menjadi alasanku untuk tidak bangun dari jetlag. Bermanja-manja di tempat tidur kecil tapi nyaman banget. Menikmati apartemen yang unyil ini. Ternyata enak punya tempat tinggal yang kecil. Life is so simple.

Aku ingat bertemu Teh Ely dan Kang Dadi. Di sebuah malam yang masih jetlag, kita menuju Irving Street. Selanjutnya hari-hari berjalan ringan dengan adanya Teh Ely. Tur bersejarah, belanja-belanja, makan-makan, ngopi-ngopi. She is my bestfriend.

Aku ingat aku datang tanpa tahu mau punya kegiatan apa. Tidak apa-apa. Aku pada dasarnya mencintai santai, memuja bengong, menikmati kesendirian dan sepi. Tidak disangka aku bisa bekerja di Admission Office Keneddy School. Memang jalurnya KKN, tapi KKN yang bertanggung jawab. heeh... It was difficult in the beginning. The language and the culture. But then, I loved the place, the people, the tiny miny job and the money! and they loved me too.

Aku ingat betapa beratnya bawa belanjaan, harus naik turun bus dan jalan kaki 20 menit. Apalagi kalau lagi salju tinggi dan berkostum bantal. Market Basket jadi favorit, Whole Foods jadi pilihan terakhir. Tiap minggu adalah waktu mengubek-ubek flyer supermarket mencari segenggam diskon. Love it!

Cambridge, MA, USA. Aku pasti rindu pada Harvard square dengan cita rasa seninya yang campur aduk. pada Peabody Terrace dengan kenyamanannya. pada semua pohon yang meranggas indah di musim semi. pada semua es yang sudi meleleh. pada tempat jajan favorit Ari (Dunkin tentunya!). pada tempat jajan favoritku (Paradiso, Dado Tea, La Luna).

Juli

Thursday, April 27, 2006

Spring and bike


akhirnya....... sepeda saya berguna juga! Kasihan banget deh dia. Selama summer 2005 yaitu 3 bulan, dibiarkan kepanasan di parkiran Peabody Terrace. Ketika kita datang lagi di musim gugur, dia terlupakan. Karena apa? karena bannya kurang angin. Kemudian, datanglah winter. Tidak seheboh tahun 2004, tapi tetep aja.... namanya juga winter.... ya dingin. Males banget naik sepeda.

Spring 2006 datang. Hore! Tapi engga bisa gembira dulu. Soalnya cuacanya suka ganti mood. satu minggu bisa hot hot warm warm. Minggu berikut windy windy bete. Si sepeda merah tua itu ya tetep aja dicuekin.

Sampai jumat minggu lalu. Sepeda aku yang tua itu dan tambah lagi sudah karatan dan kempes, diberi tag oleh management. Si merah dianggap abandon. Jadi kalau tag-nya tidak diambil, maka dia akan di-tow! whhaaaaaa...... meracau deh aku. Ngomel-ngomel ke Ari. Seolah-olah semua kesalahan ada di Ari. Hehehe..... Luckily, my husband is the patient one.

Hari minggunya, padahal cuaca drop dan dingin. Males banget keluar apartment. Tapi aku kasihan sama si merah. Kapan dong dia didayagunakan......
Setelah susah payah bangkit dari tempat tidur, akhirnya kita pergi ke pom bensin kira-kira 10 menit dari apartment. Membawa si merah dan si hitam (sepeda Ari yang umurnya jauh lebih muda). Gratis pula ngisi anginnya!

Lucunya, setelah diisi angin, si merah jadi lincah lagi. Sementara si hitam malah rusak sak sak. Rear gear-nya karatan berat! si Ari sampai luka berdarah mencoba betulin. whuuuuu.... gimana sih, yang muda malah error.

Kemudian kemudian...... ceritanya berakhir dengan bahagia walau tidak sempurna. Si merah bisa dipakai lagi oleh si nyonyah untuk berangkat dan pulang kerja. Sooo happy. Si nyonyah engga capek lagi jalan kaki dan bisa menikmati Charles River.... si merah engga bosen lagi nongkrong di parkiran.

Tapi ya ituuuu..... si merah tidak bisa lagi jalan-jalan sama si hitam!

jul

Saturday, April 22, 2006

the forgotten Revolutionary hero



Hari ini membaca puisi "Paul Revere's Midnight Ride" by Henry Wadsworth Longfellow. Sebab Senin yang lalu adalah hari libur Patriots' Day di Massachussetts & Maine. (tapi sayangnya Harvard tidak mau libur dan artinya Ari tetap kuliah dan aku tetap bekerja).

Patriots Day intinya mengenang kemenangan Patriot Amerika/minutemen terhadap tentara Inggris di tahun 1775. Beberapa tokoh pemberontakan yang populer adalah John Hancock (yang punya menara tinggi) dan Samuel Adams (yang namanya jadi merek bir).

Tokoh yang juga aku kenal karena berkali-kali napak tilas freedom trail, adalah Paul Revere. Rumahnya masih ada sampai sekarang di daerah Little Italy jadi museum. Tapi sayangnya di buku guide Boston (yang aku punya) dibilang 'tidak perlu kesana'. Jadinya aku tidak pernah kesana!

Paul Revere dengan kudanya pergi di suatu malam untuk memberikan peringatan pada pemberontak-pemberontak yang lain di Concord/Lexington untuk bersiap karena tentara Inggris akan menyerang. Jadi Revere adalah pahlawan.

Tapi sebenarnya Paul Revere tidak sendiri. Ia pergi melalui jalan sungai dan ada seorang lagi yaitu William Dawes yang pergi melalui darat.

The night was over.... Paul Revere was a hero. How about William Dawes? Check this:http://www.pbs.org/wgbh/amex/patriotsday/peopleevents/p_dawes.html

So Forgotten It's Funny

Over the years, Dawes' relative anonymity has become something of a joke. In 1896, Helen F. Moore published a parody of Longfellow's famous poem about the historic night, entitled "The Midnight Ride of William Dawes," one verse of which reads:'Tis all very well for the children to hear of the midnight ride of Paul Revere;But why should my name be quite forgot,Who rode as boldly and well, God wot?Why should I ask? The reason is clear --My name was Dawes and his Revere.

A cartoon in the early 1960s turned on the same humor, namely that "Dawes" was a name less suited for rhyming than "Revere" (in that comic strip, Longfellow is stuck on "Listen my children while I pause, to tell the ride of William Dawes" when his wife suggests using the name of that other rider). More recently Dawes was the punchline on an episode of "The Simpsons," as the epitome of the forgotten Revolutionary hero.

jul


Tuesday, April 18, 2006

Just in case


I haven't told you yet today....

I love you!

;) me too me too

jul

Friday, April 14, 2006

holy holy

Holy Friday
truly blessing day.
you can have your skin tanned by the sun .
you can have your refreshing ice coffee. ehm smells good.
you can have the grass covered your open leg.
you can have the happy fat doves.
you can have the pretty girls (and cute boys) walking around.

it's just a perfect day. it's sooo tempting.

but I want to restrain to enjoy the too much things. it's holy friday.
I need that silentio.....
ehm.... for a while

jul

Tuesday, April 11, 2006

Order and Chaos

The nature of ORDER & CHAOS

We adore chaos because we love to produce order (M.C. Escher)

what a reflective statement. at least for me, who loves order, who makes lists.

I saw the exhibit in University Place coincidentally. but I said to Ari I don't think I adore chaos. I hate it. I adore something routine. I love order because it's beautiful.

jul

Monday, April 10, 2006

BAD DAY


Where is the moment when we need it the most
You kick up the leaves and the magic is lost
They tell me your blue sky's faded to grey
They tell me your passion's gone away
And I don't need no carrying on

Stand in the line just ahead of the law
You're faking a smile with the coffee you go
You tell me your life's been way off line
You're falling to pieces every time
And I don't need no carrying on

*Cause you had a bad day
You're taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don't know
You tell me don't lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day
The camera don't lie
You're coming back down and you really don't mind
You had a bad day
You had a bad day

Well you need a blue sky holiday
The point is they laugh at what you say
And I don't need no carrying on *

Sometimes the system goes on the blink and the whole thing it turns out wrong
You might not make it back and you know that you could be well oh that strong
Well I'm not wrong

So where is the passion when you need it the most
Oh you and I
You kick up the leaves and the magic is lost *

You had a bad day
You've seen what you like
And how does it feel for one more time
You had a bad day
You had a bad day

www.danielpowter.com
Jul, enjoy this song very much

Wednesday, April 05, 2006

Cute lines from cute boy

"Bank apah? BII apah?"

"Aku moncong putih!"

"Kapi (sapi) ..... kekakutan (ketakutan) .... napas (panas) .... yapung (payung)...."

"Ami...Ami (bell sounds)"

"Gak sampoooo!"

"tu lumah ami (ke rumah ami)"

"Ni, cacar nih cacar"

"Kak, tolongin dong kak!"

"Bohong aja sana sendiri!"

"utule (lutuye)"

"Mamaahhhhhhhh..... (nada sebel)"

"Aku ga mau dipenjara..... (meraung-raung)"

"Ko cium terus sihhhh"

"Eh, itu kan punya koooo (aku)"

"rumpuk (rumput), trompek (trompet)"

"hijo (hijau), hitem (hitam)"

"Ah Ami ko ga tau sih, ini kan Akohhh (aku)...."

"Om sekolahnya bahasa Inggris yah?"

"Om Ari agamanya apa?"

"Om bodoh bener sih"

"Om Ari ga boleh dikasitahu!"

"Aku lagi makan kue bulu (bolu)"


Beben, Om Ari dan Ami miss you so much. You will be 5 this month. keep cute forever, oke? Jul

Monday, March 27, 2006

Puppy mati


Beritanya
bagai salju yang datang di siang hari yang bermandi matahari
ya Puppy mati
tepatnya si Tio
Pemilik aslinya, kakak Richard memberinya nama Tio. Tapi Tio tinggal di rumah Benhil sejak dia masih bayi, sendirian karena ibunya di Sunter. Lalu aku memanggilnya Puppy.

Aku hampir-hampir tidak pernah mau bermain dengannya. Karena aku tidak suka dicium. Tapi aku senang memberinya makan. dan suka penasaran kalau dia tidak mau makan.

Aku pernah ditinggal sendirian di rumah, tanpa Opa tanpa Iin. Aku harus mengurus Puppy yang hampir tercekik karena kelilit talinya. Aku harus menyentuhnya! terpaksa. Aku harus mengurus kotorannya! terpaksa.

Ada suatu masa aku benci sama dia karena tiap pagi dia hobi menggonggong siapa pun atau apa pun yang lewat.

Ada suatu masa aku kasihan sama dia karena dia selalu berada di dalam rumah, jarang keluar, paling sehari tidak sampai 1 jam dibawa jalan-jalan sama opa.

Ada suatu masa Puppy sakit sehingga bulu-bulunya rontok. Dibedaki sama opa sehingga dia jadi putih. Sampai dia sehat lagi.

Sekarang Puppy sudah mati. Terbunuh secara kejam oleh anjing tetangga yang gila. Tragis.

Seharusnya aku biasa-biasa saja. Aku rasanya tidak jatuh cinta padanya. seharusnya ya.....

Tapi aku merasa sedih. Aku memikirkannya, betapa tragis kematiannya. Paling tidak Puppy sudah bersama kami selama kurang lebih 5 tahun. Di depan rumah opa, tak akan kulihat lagi sosok hitam yang akan bangkit happy ketika melihat aku datang atau tertunduk patuh melihat Ari. Tak ada lagi Puppy yang mengesalkan. Tak ada lagi yang bisa aku kasih roti atau martabak. Tak ada lagi....

jul

Friday, March 24, 2006

Duniaku sudah menua

Hari ini aku mendapat berita sedih. Aku sedih. Aku kaget. Sudah 2 orang anggota keluargaku yang meninggal dalam jangka waktu 6 bulan. Apakah memang sudah waktunya? Siapa yang bisa tahu? Bahwa aku akan hidup lebih dari 100 tahun?

Mungkin aku terlalu naif selama ini. Tapi inilah kenyataannya. Dunia adalah hidup dan mati. Umurku bertambah. Sudah lewat batas asuransi yang kedua. Duniaku sudah menua. Aku berusaha untuk terbiasa. Inilah dunia, ada yang hidup ada yang mati. Semoga.

Jul

Thursday, March 09, 2006

to kill a mockingbird (1962)


"... but to remember it was a sin to kill a mockingbird. Well, I reckon because mockingbirds don't do anything but make music for us to enjoy. They don't eat people's gardens, don't nest in the corncrib, they don't do one thing but just sing their hearts out for us."

Film ini sekarang menjadi film favoritku. Mengalahkan rekor 5 bulan film Alfie sebagai film favorit.
Kemiskinan, keadilan, persahabatan, prasangka, rasisme dan kasih sayang di mata gadis kecil tomboy usia 6 tahun Jean Louise 'Scout' Finch.

"You never know someone," Atticus tells Scout, "until you step inside their skin and walk around a little."

jul

I know

buat kamu yang di ruang sebelah
yang selalu rebyek dengan laptop toshiba
yang seringnya berkerut-kerut jidatnya
yang kalau mengetik terlalu keras
(kasihan atuh keyboard-nya)

I know you are good
I know how hard you work
I know you deserve the best
it just, every road has its obstacles
and I know for sure
You can face it (with me!)

jul

Tuesday, March 07, 2006

bye bye part 2

Suatu sore yang langitnya biru glossy seperti photo, capek juga habis kerja.
but I always love to check our mailbox.
always happy to see something inside.
always waiting, nothing is waited though

ehm, ada amplop kuning besar...
asik buat aku buat aku!
ternyata tidak. buat ari dari tito
I didn't recognise that small white usual envelope.

haaaaaa
whaaaaaa
bye bye LA

jul

Tuesday, February 28, 2006

bye bye

suatu siang, setelah kenyang sedikit ngantuk.
ini dia waktunya.
type the name, mine first or yours?
sudah ada hasilnya!
reject
tanganku jadi berkeringat, sedikit deg2an
I'm sorry Juli, she said
type the other names, bla bla bla

hari yang membingungkan
hari yang sedikit kelabu
hari untuk memulai penantian lain
hari yang menyadarkan.....

bye-bye Cambridge, Harvard square, Peabody Terrace, KSG office, Boston, Little Italy, Market Basket Somerville, Central square, Super 88, Chinatown.....

Saturday, February 11, 2006

One Perfect Rose

This is my favorite poem for Feb 14:

A single flower he sent me, since we met
All tenderly his messenger he chose,
Deep-hearted, pure, with scented dew still wet
One perfect rose.

I knew the language of the floweret
"My fragile leaves," it said, "his heart enclose."
Love long has taken for his amulet
One perfect rose.

Why is it no one ever sent me yet
One perfect limousine, do you suppose?
Ah no, it's always just my luck to get
One perfect rose.

by. Dorothy Parker

Friday, February 10, 2006

Delapan Februari


Delapan Februari. suamiku ulang tahun. Pastinya aku tak lupa. Jauh-jauh hari sudah kupikirkan apa yang akan kuberikan. Tahun lalu aku membuatkan kue ulang tahun dari mbak Betty. haha.... bolu standar banget... tapi biar kelihatan meriah, ditempelinlah dengan krim macem2. Anyway, he loved it (I guess). Oya, aku juga memberinya coklat yang kotaknya bergambar Daffy Duck berbentuk hati. Hati? ya, karena hari ulang tahunnya kan dekat dengan hari Valentine. Dijual dimana-mana, US$1.49 saja..... He kept it untill now (I mean the box).

Tahun ini? Apa kira2 aku kehabisan ide ya? Dari bulan Desember aku sudah punya ide yang kayaknya ok, krn ada unsur surprising nya. Tapi entah kenapa aku tu koooooo comel banget. Masa hadiah ulang tahunnya aku bocorin di bulan Januari. soo silly............... I hate me.

Delapan Februari. Dua hari yang lalu. Aku membuatkan kue yang lebih canggih dan lebih enak dari tahun lalu. TIRAMISU. hehe..... till now, I can't imagine that this Juli can make it such complicated cake. and it actually isn't complicated at all. very easy, fun and fast! not that pretty but delicious enough. Tapi ini engga surprise sama sekali. Habis gimana, kitchen dan meja belajar Ari jadi satu. He knew that I made it for him, for the celebration at 12. Yes, off course he loved it.

Aku sembunyikan hadiah kecil untuknya di balik bantal. Hurrah.... I think it's surprising him. even though the present was the one that I told him before.

Tahun depan, depannya lagi... lagi... lagi.... apa ya? do we really need to prepare a present? I think yes..... because it's fun!

This is for you my dear Ari from Shakespeare (Sonnet 116)

Let me not to the marriage of true minds
Admit impediments. Love is not love
Which alters when it alteration finds
Or bends with the remover to remove
O no! it is an ever-fixed mark
That looks on tempests and is never shaken
It is the star to every wandering bark
Whose worth's unknown, although his height be taken
Love's not Time's fool, though rosy lips and cheeks
Within his bending sickle's compass come
Love alters not with his brief hours and weeks
But bears it out even to the edge of doom
If this be error and upon me proved
I never writ, nor no man ever loved.

Saturday, January 21, 2006

Classic lines from classic movies

"Keep your friends close, but keep your enemy closer" (Al Pacino, The Godfather II)

"We still have Paris" (Ingrid Burgman, Casablanca)

"Your girl is lovely, Hubble..." (Barbra Streisand, The Way We Were)

"You want the truth? You can handle the truth!" (Jack Nicholson, A Few Good Men)

"What can you say about a twenty-five-year-old girl who died? That she was beautiful and brilliant? That she loved Mozart and Bach, the Beatles, and me?" (Ryan O'Neil, Love Story)

"What can you say about a twenty-five-year-old girl who died? Bury her, before she gets rotten...!" (Bart Simpson)

Match point

There are moments in a match when the ball hits the top of the net. And, for a split second, it can either go forward or fall back. With a little luck, it goes forward and you win... or maybe it doesn't and you lose...

Match Point (Woody Allen, 2006)

Monday, January 09, 2006

get busy living or get busy dying

setiap langkah yang kupilih - sukarela ataupun terpaksa - adalah seribu kemungkinan. bisa indah, biasa saja, ataupun neraka. dari hal yang kuimpikan, yang sekilas pernah mampir, hingga yang tak mungkin terpikirkan.

hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Andy Dufresne - "you choose: get busy living or get busy dying"

jul-jan 05
the shawshank redemption, 1994

Wednesday, January 04, 2006

New York, New York...


We spent the last few days of 2005, including the New Year's eve, in New York. Yes, the city indeed never sleeps. We've mixed feelings for the city. Juli doesn't like it very much. She said the city is too crowded and filthy. I think, well, it's not that bad. Although I love Cambridge/Boston more, after all. It's always nice to get back home (to Cambridge) after any trip we've made so far...

Sunday, January 01, 2006

tahun baru di NYC

New York City,

kota ini,,,, apa ya? sudah banyak dibahas dimana-mana. intinya, kota yang tidak pernah tidur. Memang benar sih. subway selalu ada penumpang. selalu ada sampah. selalu ada bau menyengat. selalu ada orang aneh. selalu ada yang buru-buru.

keluar dari dunia bawah tanah, juga selalu ada orang lalu lalang. banyak yang buru2. membuat jalanku juga (terpaksa) buru2. juga selalu ada kantong2 sampah bertebaran. juga ada orang yang terlihat aneh.

di manhattan ada apartemen2 bagus terawat, tapi tetap compact. ada banyak apartemen2 yang keliatan jelek, tua, kotor. tapi kalau tahu harganya.... ehm..... berdecak sebal deh.

NYC menjelang countdown. tahun baru 2006. so damned crowded. bayi2, adek2, kakak2, om2, tante2, ibu2, bapak2, oma2, opa2...... siapapun ada. di jalan, di cafe, di restoran, di museum (yg suggestion donation), di panggung broadway, di mall, dimana2.

but anyway, NYC, aku suka makanan Indonesiamu. aku suka supermarket yang menjual ting2 salatiga dan sale pisang. nyam nyam nyam!

NYC punya magnet yang menarik jutaan orang untuk mencicipinya di malam tahun baru. tapi tidak bagiku.

jul-jan 06

Thursday, December 22, 2005

saved by the angel

Do you believe in 'angel'?

mixed feeling. I can't say....
never struck on my mind.

but that day, I think the angel was with us.

hari yang terus rintik, Berkeley menjadi sendu. setelah perjalanan panjang dari satu kereta ke kereta berikut, sampai juga kita di UC Berkeley. tapi kita tetap riang dan tertawa dan bercanda. hujan boleh tidak berhenti, but holiday goes on..... our feet need space!

brokeback mountain... adalah cinta mendayu yang membuat kita lupa waktu pulang. oh gosh! we had to wait the 12.25 train! waiting is boring. we have to make it fun then....
singing is the answer.... malaika, nakupenda malaika.... (I don't know the right spelling of this swahili song) means: angel, I love you angel. on and on....

malas jalan kaki, membuat kita tergoda stop di Palo Alto dan menunggu bis. malas adalah jahanam.... kenapa sih malesssss??? we had to wait another hour! karena dengan imutnya engga ngecek jadwal. what's next? malaika, nakupenda malaika.....

ketika bis datang, that's an amazing experience. never happened to me before. bus was full of..... homeless! who were cuddling their big bag and had goodnight sleep and happiest face and special smells. and us? we were stunning, speechless and dag dig dug.... but only me and ajeng I think... the others were sooo sleepy....

Hollywood store...hollywood store... where are you?? ini patokan jalan menuju rumah ony di mountain view. I hate you hollywood , I hate you. you made me rushed and stupid. I didn't know why.... that's a wrong stop or we had a block mind. for summary, we had lost! we didn't know where we were. adrenalin naik lahhhh..... sunyiiiiii. calling and calling and confused. at the end we chose to walk and walk and walk. didn't know how many miles. we saw a cab, tried to stop but it went away. walk and walk and sad. then, that funny (but sometimes scary) guy who taught us that malaika song called.... asking and telling standard and (we thought) stupid things.

but, you know what? his funny and stupid questions made me turned around.... and there was yellow blinking car coming in the middle of nowhere !! it's a cab!!

happy ending. we're saved by our malaika.... our angel

jul-dec 05

Saturday, December 17, 2005

Santa and the reindeer




How does Santa look like?

He was dressed all in fur, from his head to his foot
his clothes were all tarnished with ashes and soot
he looked like a peddler just opening his pack
his eyes -- how they twinkled!
his dimples how merry!
his cheeks were like roses,
his nose like a cherry!
his droll little mouth was drawn up like a bow
and the beard of his chin was as white as the snow
the stump of a pipe he held tight in his teeth
and the smoke it encircled his head like a wreath
he had a broad face and a little round belly
that shook, when he laughed like a bowlful of jelly
he was chubby and plump, a right jolly old elf

and how about the reindeer?

There are 8 tiny reindeer
their names are Dasher, Dancer, Prancer, Vixen, Comet, Cupid, Donder and Blitzen

as dry leaves that before the wild hurricane fly
when they meet with an obstacle, mount to the sky
so up to the house-top the coursers they flew

MERRY CHRISTMAS!

taken from 'The night before Christmas' by Clement Moore

Sunday, December 11, 2005

Nuansa bening

(Keenan Nasution)

oh tiada yang hebat dan mempesona
ketika kau lewat di hadapanku
biasa saja

waktu perkenalan terjalin sudah
ada yang menarik pancaran diri
terus mengganggu
mendengar cerita sehari-hari
yang wajar tapi tetap mengasyikkan

kini terasa sungguh
semakin engkau jauh
semakin terasa dekat
akan tumbuh kembangkan
kasih yang kau tanam
di dalam hatiku

oh tiada kejutan pesona diri
pertama kujabat jemari tanganmu
biasa saja
masa perkenalan lewatlah sudah
ada yang menarik bayang-bayangmu
tak mau pergi
dirimu nuansa-nuansa ilham
hamparan laut tiada bertepi

menatap nuansa-nuansa bening
tulusnya doa bercinta

Our song-forEVER...

Old habits die hard

(Mick Jagger & Dave Stewart)

I thought I shook myself free,
you see, I bounce back quicker than most,
but I'm half delirious, it's too mysterious,
you walk through my walls like a ghost.


And I take everyday at a time,
I'm proud as a lion in his lair,
now there's no denying it, and no decrying it,
you’re all tangled up in my head.


Old habits die hard, old soldiers just fade away,
old habits die hard, hard enough to feel the pain.


We haven't spoken in months,
you see, I've been counting the days,
I dream of such humanities, such insanities,
I'm lost like a kid and I'm late.


But I've never taken your calls,
you see, I put the block on my phone,
I act like an addict, I just got to have it,
I never can leave it alone.


Old habits die hard, old soldiers just fade away,
old habits die hard, harder than November rain.
Old habits die hard, old soldiers just fade away,
old habits die hard, hard enough to feel the pain.


And I can't give you up, can't leave you alone,
and it’s so hard, so hard, and it’s hard enough to feel all the pain.


SOnG of tHe yeAr..... Jul-05

Sunday, December 04, 2005

Go on, teaching me about men and women

Hai, hai,

Pernahkah kamu berpikir tentang persentase sifat feminin dan maskulin dalam dirimu?
Memang, apa pentingnya, apa gunanya?
Ehmm, apa ini malah jadinya berkaitan dengan masalah jender yang tidak perlu?
Begitukah?

Beberapa minggu yang lalu, temanku menyelenggarakan sebuah diskusi tentang 'Women Wave'. Begini sebagian cuplikannya:

We are living in an environment where masculine power is valued, which is the quality of men. Living in such an environment where men power is valued we are trying to act like men, taking place of the man and destroying the possibility of harmonious contact. What is the function of woman? What is her power?

Rasanya memang benar kalau dunia ini masih mengagungkan masculine power. Tapi, aku tidak memandang maskulinitas sebagai sebuah hal yang dapat merusak harmoni. But anyway, I don't really care about that sentence, it's all about relativity for me.

Bagiku yang menarik adalah kalimat selanjutnya, kalimat pertanyaan itu. Aku tidak punya saudara kandung laki-laki. Kakak-kakakku perempuan. Bapak, walaupun dibesarkan dalam lingkungan yang patriarkis, tapi sama sekali tidak patriarkis. Di rumah, memang ada peran yang berbeda antara bapak dan mami. Peran yang memang diasosiasikan dengan peran fungsional laki-laki dan perempuan. Namun, di saat tercipta perubahan kondisi, bapak dengan sendirinya menjalankan peran yang sehari-hari bukan perannya. Misalnya, mencuci baju dan memasak.

Aku tidak suka mendikotomi peran. Tidak suka mengatakan ini pekerjaan perempuan, itu pekerjaan laki-laki. Aku sebal ketika berada di lingkungan patriarkis yang memungkinkan laki-laki untuk duduk-duduk, ngopi, makan enak.... tapi tak ingat bahwa semua itu bukan sulap. Apalagi tak ingat untuk berterimakasih dan menghargai.

Aku bersekolah di sekolah perempuan yang bagiku mengondisikan kemandirian dan meniadakan ketergantungan (salah satunya pada laki-laki). Menjauhkan anganku dari cita-cita romantis mendapatkan 'gentlemen'. Membuatku menertawakan simbol-simbol materialistik sebagai ungkapan cinta.

Pada intinya, aku menjauhkan diri dari pemikiran tentang pemisahan peran, baik yang bersifat mentalitas maupun fisikal. Karena bagiku, semuanya bisa sama. Hmm kecuali hal yang berkaitan dengan perkara biologis.

Kembali pada diskusi Woman wave, kembali pada pertanyaan tentang sisi feminin dan pemberdayaannya. Menarikku berkontemplasi sejenak tentang diriku sendiri. Selama ini - bagiku - peran apa, sifat apa, seharusnya bisa ada di dalam aku. Tergantung diriku sendiri. Tapi apa sebenarnya sisiku? Dulu sekali, dulu, kemarin, saat ini, selanjutnya? Let me feel it then....


"To begin with - let’s not ignore our sex. If we do not realize the woman within us, we will not be able to understand her properly." (Djyldyz Kydyrova, Nov 21, 05)

Jul-dec 05

Tuesday, November 29, 2005

Kura-kura mungil berterbangan

Apa yang dirasakan jika yang dinanti tak kunjung tiba?

Aku melihat ke luar jendela. Matahari datang dari satu arah yang salah. Tapi ia menciptakan bayangan kura-kura berterbangan. Tipis saja, harus diperhatikan dengan teliti. Aku tersenyum dan menanti. Kura-kura mungil tetap saja berterbangan dan belum mau mendarat. Matahari masih terlalu tinggi. Terlalu sulit untuk digapai.

Ada keengganan disana. Anehnya menyatu dengan keinginan yang menggebu. Berputar diantara kedua rasa yang bertolak belakang. Bergesekan tapi tak berpindah.

Kulihat sekali lagi... kura-kura mungil masih berterbangan. Belum mau turun....

Jul - Nov 05

Tuesday, November 15, 2005

The world of Peter Rabbit



"Once upon a time there were four little rabbits, and their names were - Flopsy, Mopsy, Cotton-tail and Peter. They lived with their Mother in a sand-bank, underneath the root of a very big fir-tree." (The Tale of Peter Rabbit by Beatrix Potter)

World of Peter Rabbit adalah karakter yang aku gemari sekarang. Walaupun judulnya World of Peter Rabbit, ternyata Peter tidak selalu menjadi tokoh sentral. Banyak sekali karakter yang ada dalam kisah-kisah menarik yang dibuat Beatrix Potter (1866-1943). Tapi memang Peter yang muncul menjadi karakter populer.

Selain Peter, si kelinci kecil yang selalu ingin tahu, tentu saja ada Flopsy, Mopsy dan Cotton-tail saudaranya. Ada juga Jemima Puddle-duck si bebek cantik yang ingin mandiri. Foxy Whiskered Gentlemen, rubah yang licik. Mr. McGregor, pemilik kebun yang kesal oleh ulah Peter. Benjamin Bunny, sepupu Peter yang juga selalu ingin tahu. Mrs. Tiggy-Winkle, ibu hedgehog, si tukang cuci yang baik hati. Squirrel Nutkin, tupai kecil yang cerdik. Karakter-karakter ini yang sudah aku baca ceritanya. Tapi masih banyak karakter lain seperti Tom Kitten, Jeremy Fisher,Hunca Munca, John Joiner, Samuel Whiskers, Mr. Tod, Miss. Moppet, dan Pigling Bland.

Gambar-gambar dalam cerita Beatrix Potter sangat detail, anggun, fasionable dan cute. Beatrix menggambar karakter-karakter tersebut bukan sekedar dari imajinasinya. Melainkan diperolah dari observasinya terhadap binatang-binatang peliharaannya. Ia adalah Victorian England girl dan dibesarkan di keluarga yang mampu. Oleh karena itu, Ia banyak belajar melukis.

Walaupun Beatrix tidak memiliki anak (Ia menikah di usia 47 tahun), namun cerita yang ia buat sungguh menarik untuk anak-anak (dan orang dewasa). Kisah-kisahnya memberikan detail tentang alam, binatang dan tumbuhan. Selalu ada nada bijaksana tapi tidak pernah menggurui. Peter si kelinci kecil yang selalu ingin tahu, tapi sebenarnya nakal.... tapi ya itu nakalnya anak-anak. ehmm tidak bisa bikin marah!

I love Peter Rabbit!
http://www.peterrabbit.co.uk/
Juli-Nov 05

Monday, November 14, 2005

Defensive stance, READY!


"Woman must NOT depend on the protection of man but must be taught to defend herself" (Susan B. Anthony, 1871)

Apa yang akan kulakukan jika aku diganggu seorang laki-laki?
Apa yang akan kulakukan jika segerombolan laki-laki melecehkan aku?
Apa yang akan kulakukan jika aku ada dalam situasi perkosaan?
Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Selama 30 tahun hidupku, aku membaca, mendengar, dan menonton televisi tentang kisah perkosaan. Bahkan aku mempelajarinya di kuliah. Cerita yang kerap aku dengar, tapi seolah jauh dan mengawang. Hidupku sejauh ini adalah aman. Lingkunganku rasanya bersih. Orang-orang disekitarku tampaknya orang-orang yang normal. Pelecehan dan perkosaan, jauh dari pikiranku. Ia hanyalah mitos bagiku.

Entah mengapa aku tidak pernah berpikir 'is it any ways to avoid such condition?'.
Entah mengapa aku kadang berpikir hal tersebut adalah musibah, nasib buruk.
Such a destructive mindset!

Empat kali hari senin ini aku beruntung. Aku punya kesempatan untuk mengikuti RAD (rape aggression defense) training yang diselenggarakan Harvard Police. Sungguh pelajaran dan pengalaman yang berguna.

You have choices to do something to save your own life!
Awareness,
risk reduction,
avoidance and
defensive
The intention is not to injure or kill anyone, it is simply to survive, be escape, nothing more.

Defensive stance, ready!
- I feel good.

Juli- nov 05

Sunday, November 06, 2005

".... any moment might be our last ..."

"I'll tell you a secret. Something they don't teach you in your temple. The Gods envy us. They envy us because we're mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we're doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again." (Achilles - Troy, 2004)

Manusia tidak dapat dipisahkan dari kematian. Tidak juga Achilles, yang perkasa dan sangat tangguh dalam perang Trojan. Tidak juga Kurt Cobain, yang lagu-lagu spektakulernya sempat aku hapal. Tidak juga mamaku yang kupikir akan bersamaku hingga paling tidak usiaku 40 tahun. Kematian ada di depan mata sejak adanya kelahiran. Dua hal yang bertolak belakang namun tak terpisahkan bagai koin mata uang.

Manusia yang bertambah usia harus menerima ketuaannya. Keriput yang tak diundang, rambut putih yang menggoda, nafas yang terasa menipis, gerak yang melambat. Manusia detik ini, bisa jadi 180 derajat berbeda dari sebelumnya, bisa jadi 0,00001 derajat berbeda dari sebelumnya.

Muda adalah masa lalu, yang terkadang dikenang indahnya, terkadang dirindukan pedihnya. Pengalaman tidak akan berulang sama sebangun. Setiap kejadian adalah satu dan berbeda dari yang lainnya. Entah datar biasa saja, entah mengejutkan, entah memberi rasa. Adakalanya membuat terkenang, tertanam dalam memori. Adakalanya dibungkus dan disimpan untuk dilupakan.

Aku ingin bisa menikmati setiap momen milikku, yang putih, hitam, ataupun abu-abu. Seperti kata Achilles ".... any moment might be our last ..."

juli- Nov 05

Wednesday, October 12, 2005

Apa yang kau cari?


"I subscribe to the European philosophy, my priorities leaning toward wine, women, and --well, actually that's it wine and women. Although women and women is the fun option." (Alfie Elkins)

Alfie, this film is a humorous, sexy and often touching tale of philosophical womenizer (Jude Law) who is forced to question his seemingly carefree existence. (Paramount Picture, 2004)

Being single..... isn't it great?
Alfie adalah single sejati. dia cinta kebebasannya. Bisa memiliki seorang Julie, single mom yang penuh cinta. Bisa mendapatkan malam yang liar dengan Dorie, istri orang. Bisa menikmati kemewahan bersama Liz, perempuan yang cocok jadi ibunya. Bisa mengisi malam tahun barunya dengan Nikki, muda dan naif.

Kebebasannya terusik karena malam yang salah. Yang tidak seharusnya terjadi. Alfie bermaksud baik, mendamaikan Marlon sahabatnya yang sedang bertengkar dengan kekasihnya Lonnette. Tapi Alfie sial, di saat yang sama, Julie mencampakkannya karena tahu Alfie bercinta dengan Dorie.

Alfie kalut, Lonnette marah. Alfie dan Lonnette larut pada malam yang dingin dan hujan deras. Padahal mereka berdansa dengan indah. Padahal mereka adalah sahabat. Tapi terlanjur....
Selanjutnya? tambah kacau..... karena Lonnette hamil.

Alfie kangen Julie dan Max anaknya. Tapi Julie sudah menganggapnya masa lalu. Alfie membutuhkan 2 sahabatnya, Marlon dan Lonnette, tapi mereka jauh. Alfie ingin memperindah hubungannya dengan Liz, tapi kali ini Alfie hanyalah salah satu kekasih bagi Liz. Bukan satu-satunya.

Seorang Alfie, mempertanyakan kesendiriannya. Kebebasan yang ia puja. Kebebasan yang penuh petualangan. Tapi ternyata, kebebasan yang ... sepi.... yang tidak tahu sampai dimana.... Apa yang kau cari, Alfie?
Aku pun menangis untukmu.

-juli, Oct 05

Saturday, August 13, 2005

Terima kasih Gie



"Cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan. Yang takkan pernah kutahu, dimana jawaban itu... Bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi. Sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati." (Theme Song Soe Hok Gie, 2005)

Sebuah senja yang padat manusia dan kata, tapi sepi rasanya. Pelangi ada di lain pulau. Hanya sebentar bagi hitungan kalender. Namun sejuta tahun bagi hatinya. Jam pasirnya berlalu sendirian, melupakan pikirannya. Menengok, membelalak, menengadah.... tanpa bisa menjamah, memeluk, mencinta. Angan ada dalam doa, tapi belum beranjak. Angan masih di alam mimpi.

Terima kasih Soe Hok Gie, untuk wajahmu, kisahmu, jalan pikiranmu dan puisimu. Begitu mengundang hatinya. Membawanya berlari, tapi tidak terengah. Membawanya menunduk, tapi tidak takut. Membawanya tersenyum, tapi juga menitikkan air mata.

Satu lagi, lagunya indah menusuk.

Jul-Aug 05

Friday, May 20, 2005

What to Eat around the Square

Hobi aku dan Ari ngemil dan ngopi. Sepertinya disini tersalurkan karena cukup banyak tempat yang nyaman dan membumi. Hehe.. maksudnya kalau di Jakarta tempat2 yang nyaman itu umumnya kinclong2, jadi suka ga enak kalau kita lagi butek. Aku coba list ya tempat2 yang suka kita datangi di Harvard Square.

Ngopi/ngeteh dan nyemil

1. Dunkin Donut di Arrow Street. Cukup besar karena gabung jadi satu dengan Baskin Robbins. Biasanya Dunkin ini jadi markasnya polisi Cambridge. Polisi disini kayaknya identik dengan kopi & donatnya Dunkin. Jadi mereka banyak yang gendut2, kebanyakan donat kali ya. Hehe… Kalau suka dengan Baskin, biasanya Tuesday is $1 loh. Pesanan kesukaan Ari adalah hot latte with caramel swirl, spice tea dan strawberry frosted donut. Pesanan aku adalah hot latte with mocha swirl dan hot chocolate
2. Dunkin Donut di JFK Street (dulunya Eliot Café). Tepatnya di depan KSG. Dunkin ini juga besar karena menyediakan menu lunch sandwich, burger & croissant. Oya toko roti/pastry disini umumnya juga jual buah pisang & apel. Jadi buat yang diet bisa lunch dengan salad dan buah juga. Yang asik di Dunkin sini, ada outdoornya walaupun kecil (yah emang cuma bisa saat musim semi/gugur yang ga dingin aja sih). Letaknya di pertigaan gitu. Jadi cukup strategis dan nyaman buat meeting point
3. Dado Tea di Church Street. Tempatnya terlalu cilik sih, padahal asik. Bisa buat internetan. Yang paling ok disini tentu menu minumannya. Seperti namanya, menu tehnya emang unik2. Ada teh lemon jahe yang gelasnya kayak mangkok gede gitu. Tapi kalau aku dan Ari kebanyakan tentu pesan black coffee, latte atau mocha. Gelasnya dari clay yang unik. Oya, disini juga jual kue mochi dan simple lunch. Satu lagi Dado Tea adalah bisnis lokal di Harvard Square. So, it’s unique! Selain itu Dado Tea ada juga di Massachussetts Avenue. Nah kalau ini tempatnya besar. Ada bangku2 yang dari batang kayu segala. Terus juga ada merchandise seperti teko dll
4. Paradiso di Church Street. Disini selain kopinya nyam2 juga ada gelato yg juga nyam2. Gelasnya juga gede. Tempatnya cukup besar dan kalau lagi cuaca hangat ada outdoor-nya.
5. La Burdick di Brattle Street. The best hot chocolate ever! Benar2 rich teksturnya. Ampun deh nyam2 kalau lagi dingin. Tapi yang nyebelin, tempatnya unyil banget. kalau lagi dingin, pasti engga dapet seat. Oya, disini juga dijual coklat batangan, tapi aku belum pernah beli. Makanya sampai di Jakarta menyesal tidak pernah merasakannya.
6. Peets Coffee & Tea di JFK Street. Excellent coffee with cozy place. Soalnya lokasinya persis di depan taman yang pada jaman baheula adalah pasar petani. Tamannya walaupun tidak besar tapi enak banget dengan rumput tebal, banyak burung dara yang berkumpul dan juga street performance yang oke. Kalau lagi ultah, Peets bener2 murah hati. Free coffee at noon and free bean for buying things!
7. Science Center di deket GSAS Sebenarnya rasa kopinya standar aja. Namanya juga kantin mahasiswa. Tapi tempatnya nyaman. Kaca2 gitu jadi indoor tapi berasa di taman.
Nah, selain itu aku list beberapa tempat lain yang jarang kita datangi tapi oke lah buat icip2.
1. Algiers Coffee House di Brattle Street. Tempatnya bagus seperti rumah dengan dekor yang menarik. Bertingkat pula. Tapi sayangnya kopinya tidak oke banget. mungkin buat dinner oke ya.
2. Tealuxe around the square Sebenarnya jualannya teh aja, tapi kemasannya oke banget. soalnya disini kita bisa liat canggihnya si bartender buat teh dengan alat2 yg unik. Padahal tempatnya kecil loh, tapi compact dan fungsional. Karena aku dan Ari lebih milih ngopi daripada ngeteh kalau hang out, jadi aku hanya sekali kesini. Itupun ditraktir Allison, student co-ordinator di kampus. Rasanya…. Ya bagi aku seperti beli twinnings sih ya….. but if you love tea, maybe this is the right place! And It’s in the heart of Harvard square.
3. Finale Bakery di Massachussetts Avenue. Memang kue2 disini enak banget. Tapi harganya juga mahal banget buat kantong kita. Jadi jarang2 banget kesini. Kalau bukan ditraktir ya biasanya kesini karena ada acara perpisahan. Soalnya tempat yang paling gampang ditemukan.
4. Au Bon Pain in the heart of the square. Nah ini tempat memang ikon banget ya. Soalnya bener2 eye catching. Besar banget tepat di jantung square. Ada permainan catur di bagian luarnya yang selalu jadi tontonan. Belum lagi street performance dan demonstrasi. Kopinya lumayan standar seperti starbuck lah. Sandwich nya lumayan enak. Tapi aku tidak terlalu suka kesini karena terlalu ramai dan sering ada orang yang aneh2. eh tapi ada au bon pain yg kecil di deket2 situ juga. Kecil tapi nyaman juga tempatnya.
5. Dudley House Cafetaria di dalam Harvard Yard di dekat Johnston Gate. Buat minum2 ketemu teman lumayan sekalian merasakan auranya mahasiswa lagi (undergrad pula).
6. Pamplona Café, yg hobi bikin pengumuman mau tutup, tapi ga jadi2. lumayan keren hehe.
7. Coffee House di lt 2 Harvard Book Store. Lumayan, setelah ngubek2 cari buku diskonan.

Makan gede

1. Pinocchio’s Pizza
2. Mr. Bartley’s Burger (ngantrinya buseett deh…. Rasanya? So so sodara2…. Tapi sepertinya minumannya canggih, namanya aja lucu2. Aku beli pernah beli, karena pelit)
3. Crepes @ Massachussetts Avenue (waaaa yummy for diet lunch)
4. 9 Tastes
5. Spice Thai
6. Bombay
7. Tamarind Bay (love the buffet lunch sooo much, affordable & yum yummy)
8. Tanjore
9. Pizza mba dewi (Campo de Fiore)
10. Pho Pasteur/ Lee’s (Fave place forever!)
11. Felipe’s Taqueria
12. Charlie’s Kitchen
13. Spangler
14. Grendel’s Den (looking for the lunch menu)
15. Bertucci’s

Ice cream
1. Herrell’s
2. Toscanini (my idol)
3. Ben & Jerry’s
4. Baskin & Robbins
5. Paradiso

#Juli#

Saturday, December 18, 2004

Urus ini Urus itu

Ada beberapa hal yang musti diurusin setelah aku tiba. Soalnya kita kan bukan turis yang dating cuma buat senang2 terus pulang. Ada dokumen dll yang harus diurus menyangkut status residen kita. Yang pertama aku melapor ke international office Harvard tentang kedatanganku. Selanjutnya membuat kartu identitas Harvard. Biarpun bukan mahasiswa, tapi dependen dapat privilese juga loh disini. Dengan kartu tersebut aku punya akses ke perpustakaan Harvard (tidak hanya di KSG) dan museum Harvard. Selain itu kartunya juga bisa jadi kartu debit. Bisa diisi dan digunakan untuk bayar laundry di Peabody terrace, makan di kantin Harvard dan juga beberapa tempat fotokopi. Sungguh nyaman deh.

Hal ketiga membuat kartu perpustakaan. Aku buat kartu di Boston dan juga di Cambridge. Perpustakaan disini sangat sangat nyaman. Bukan sekedar bisa minjam buku, vcd, dvd gratis, tapi juga bisa mendapatkan free pass masuk museum2 di Boston dan kebun binatang.

Berikutnya aku mengurus kartu kesehatan ke Cambridge Hospital. Aku tidak punya asuransi Harvard (alasan klise, kemahalan), jadi hanya punya asuransi standar yang murah. Enaknya disini, kesejahteraan bagi orang2 tak berpenghasilan cukup okeh. Karena status Ari adalah mahasiswa yang tidak berpenghasilan, maka aku eligible mendapat kartu kesehatan untuk digunakan di Cambridge Hospital dan klinik2nya. Tapi memang coverage-nya ga semualah.

#Juli#

Saturday, November 20, 2004

Kennedy School of Government Building

Suatu pagi yang ternyata sudah siang, aku jalan2 di pinggir sungai menuju kampus Ari. Sebenarnya ada banyak jalan menuju kampus Ari. Tapi yang paling gampang ya menyusuri sungai. Aku tiba dengan selamat. Kurang lebih 20 menit lamanya. Ehm, capek juga. Kampus Ari rupanya bukan gedung2 kuno seperti yang ada di gambar2. Yang kuno itu ya kampus utamanya. Gedung KSG terpisah dari kampus utama. Harvard Business School bahkan ada di Boston bukan di Cambridge walaupun sekedar sebarang sungai saja.

Karena sekolah Ari relatif baru, jadi gedungnya juga model baru. Dari luar tampak plain saja, gedung yang berwarna merah bata dan abu2. Setelah masuk, memang biasa2 saja tidak kelihatan besar, high-tech atau mewah. Malah seperti kantor. Tapi kalau diperhatikan bangunannya unik juga. Sebenarnya ada 3 gedung dengan nama berbeda, tapi ternyata jadi satu. Maksudnya supaya kalau musim dingin kita tidak perlu bersusah payah pindah gedung dan kedinginan. Jadi tak usah bongkar pasang jaket gitu. Selain itu ada 1 gedung lagi yang terpisah. Aula utamanya juga unik banget. Kelihatannya kecil, tapi kalau diperhatikan, tiap lantai (sampai lantai 4) sengaja dibuat memutari aula tersebut. Jadi kalau ada acara, bukan hanya orang dibawah di aula tersebut yang bisa hadir, tapi banyak orang yang bisa duduk di sekeliling di tiap lantai. Jadi seperti nonton opera.

Kalau tidak digunakan untuk seminar/debat, aula tersebut jadi kantin. Pokoknya semua tampak fungsional dan praktis. Kantinnya bisa dibilang mungil. Sodexo namanya. Isinya ada pizza, soup, sandwich, salad, burger, fruit platter, cookies, nuts, yoghurt, sushi, dan minuman2 standar. And I love that creamy broccoli soup! Kalau ada acara2 di kampus, ya semuanya pakai katering ini.

Di bagian yang mengarah ke sungai Charles, ada taman namanya JFK Park. Lumayan tenang loh padahal dikelilingi jalan Memorial dan jalan JFK yang ramai kendaraan. Jadi kalau lagi mau merenung boleh juga.

Simple and enough!

Juli

Thursday, November 18, 2004

Settling down

Jet lag itu benar2 kejam. Siang bagai malam dan malam bagai siang. Aku tidak bisa tidur di malam hari. Baru bisa menutup mata jam 3 atau 4. Alhasil bangun tidur jam 12 siang! Ya ampun seumur-umur belum pernah sesiang itu. Tidurnya padahal sudah cukup lama, tapi badan tidak enak. Apalagi harus langsung berhadapan dengan cuaca musim gugur yang berangin. Mata dibelai2 terus jadi maunya bobo aja. Kurang lebih ada 2 minggu aku jet lag. Lama banget ya? Kata Ari, dia tidak begitu waktu sampai di Florida (ada acara dulu disana dengan Fulbright sebelum ke Cambridge). Sebab Ari langsung punya aktivitas yang padat. Sampai di Cambridge Ari juga harus math camp. Jadi dipaksa untuk cepat menyesuaikan diri dengan waktu. Sementara aku kan tidak punya komitmen apa-apa. Jadinya ya gitu, malasnya dibawa terus selama 2 minggu. Kalau kata Markus iparku, biasanya jet lag itu lamanya begini: tiap 1 jam beda waktu sama dengan 1 hari jetlag. Jadi karena Jakarta bedanya 12 jam dengan Cambridge, maka aku bisa jetlag sampai 12 hari. Ehm, makanya aku error selama 2 minggu.

Oya, hari pertamaku (sesudah tidur nyenyak di ranjang kecil tapi empuk) berjalan-jalan keliling Harvard Square bersama Ari. Ari kan jago jadi tour guide. Aku ditunjukin semua sisi kampus tua Harvard. Dari Johnston Gate sampai Memorial Hall. Ehm jauh juga loh. Biarpun mata seperti Garfield, tapi tetap berfoto-foto. Lalu aku dapat es krim Ben & Jerry. Sebenarnya males banget makan es krim di musim gugur yang dingin juga ini. Tapi aku kalap lihat es krim yang macam2 gitu modelnya. Agak malam-an Ari mengajak aku naik bis No. 1 menuju Central Square. Ari mau kasitahu aku supermarket Shaws.

Lantas apa yang kulakukan di minggu2 awal? Sebelumnya aku tidak punya rencana harus ini itu. Yang jelas karena aku statusnya J2, maka aku ingin cari kerja. Saat aku tiba, Ari sudah sibuk kuliah, jadi tidak bisa nemenin Miss Jetlag ini terus kan. Tinggallah aku bersama peta. Yang jelas aku harus belajar area sekitar Harvard dulu. Dari petanya sih kelihatannya gampang juga. Selanjutnya aku berusaha jalan2 sendiri di sekitar Harvard. Patokannya kalau nyasar ya kudu nemuin sungai, pasti bisa deh balik ke apartment. Hehe…

Selanjutnya aku kalap dengan internet. Bayangkan, di Jakarta aku harus irit2 pakai dial up yang mahal tapi lamban. Disini hurah, tidak bayar dan 24 hours! Jadinya aku kerajingan surfing cari kerja atau kegiatan. Jadilah kerjaanku beres2 rumah (dengan malas2an), masak dan surfing tentunya!

Juli

Wednesday, November 10, 2004

Our Apartment, 2 Peabody Terrace #511

Musim gugur 2004, Boston & Cambridge MA. Ehm, cukup tenang tidak seperti hingar bingar pagi Jakarta. Pemandangan kurang terang, sedikit gloomy tapi lembut. Kurang konsentrasi melihat-lihat pemandangan karena tentunya Ari, Grace dan aku ngobrol. Rasa capek ko belum terasa. Yang ada begah banget ingin mandi. Soalnya hampir 2 hari tidak mandi.

Ternyata area Cambridge tempat tinggal kita cuma sepelemparan batu dari Boston. Tinggal sebrang sungai Charles saja. Apartment kita Peabody Terrace persis di pinggir sungai. Tapi apartment dan sungainya dipisahkan oleh jalan Memorial Drive. Tampaknya bakal menjadi tempat tinggal yang home sweet home. Semoga!

Sebelumnya sudah sedikit terbayang gedung apartment-nya. Soalnya sudah lihat gambar dari brosur waktu Ari diterima. Agak terkaget2 gitu tahu harganya. Maklum dari negera berkembang. Hehe… Habis sewa apartment 1 kamar sebulannya bisa buat sewa kos2an bagus selama setahun di Jakarta. Tapi kita cari amannya saja. Soalnya Peabody Terrace adalah apartment yang masuk bloknya Kennedy School. Maksudnya sudah ada jatah untuk mahasiswa KSG. Kalau mau apartment Harvard yang lain harus lottery dan saingannya seluruh mahasiswa baru Harvard yang banyak banget kan. Lagian harga apartment nya ya rata2 seperti itu. Kita belum berani cari apartment di luar Harvard. Takutnya ada masalah dengan owner dll. Kalau apartment kampus kan biasanya terima beres, artinya listrik, pemanas, perawatan, internet sudah diurusi.

Dari luar tampak oke dengan dominasi warna hijau, marun dan putih. Karena Ari tinggal duluan, Ari sudah cerita soal kekurangan apartment kita yang mahal ini. Kita tinggal di lantai 5 dengan lift yang hanya ada 2. Suatu ketika, kata Ari, pernah lift-nya macet. Padahal yang paling tinggi ada lantai 26. Bayangkan, turun tangga segitu banyak. Masih untung Ari di lantai 5. Belum lagi Ari cerita betapa minimnya lampu yang ada di dalam apartment.

Oya, lift tidak berhenti di setiap lantai (ada kaitan dengan harga tentunya!). lift berhenti di lantai 4 dan 6, tapi tidak di 5. Jadi koperku yang gendut2 itu harus digotong. Pekerjaan yang lumayan ya. Kalau tidak mengerti konsep arsitekturnya pasti bawaannya mau nyela apartment ini. Soalnya temboknya seperti tidak mulus ada yang bolong2, sengaja diperlihatkan seperti model di pabrik2 gitu. Katanya, gedung ini memang dibangun tahun 70-an dengan konsep industrial.

Ketika masuk, ya ampun memang kecil apartment ini. Sebenarnya sih sudah tahu, tapi ketika berhadapan sendiri tetap saja kaget. Masuk pintu berwarna hijau, disambut tempat sepatu dan kiri dikit pintu toilet. Kiri banget dapur yang jadi satu dengan ruang tv dan sebelah kanan kamar tidur. Itu thok. Oiya, ada balkon yang dipisahkan dari ruang tv dengan pintu kaca. Secara peraturan gedung, balkon itu sebenarnya jadi jalan darurat. Dipisahkan dari tetangga dengan connecting door dan kita tidak boleh meletakkan barang disana karena bisa menghalangi jalan. Tapi pada praktiknya banyak juga yang nakal. Ada yang meletakkan kursi malas, sepeda, jemuran etc. Kalau Ari meletakkan kardus2 bekas disitu.

Apartment-nya juga agak berantakan walaupun Ari sudah berusaha keras merapikannya. Hehe… Furnitur/perlengkapan yang sudah disediakan apartment yaitu kompor listrik plus oven, kulkas, banyak lemari di ruang tv, lemari baju serta meja belajar kecil di kamar tepat di jendela. Ehm posisi yang lumayan enak, bisa melamun kalau lagi di depan laptop. Barang2 yang sudah Ari beli ada tempat tidur, lampu, kursi kecil, meja dan rak pendek buat telepon. Jadi kamarnya sudah cukup nyaman. Tapi ruang tv kurang nih. Soalnya baru ada lampu, lemari buku, meja, kursi dan lampu belajar, 1 kursi duduk, rak tv dan microwave. Oya tentu beserta peralatan dapur dari panci, baskom, sodet, pisau, piring, gelas, talenan, sendok garpu, lap, tempat sampah, blender, coffee maker, rice cooker etc dan perlengkapan kamar mandi. Ternyata Ari pintar deh, beli pritil2nya lengkap juga. Nah kurang nyaman karena kurang satu hal, belum ada sofa buat nonton tv. Masa duduk di lantai atau di kursi kayu yang tidak empuk.

Anyway, glad to be here. Ketemu suamiku tersayang is most wanted!

Juli

Sunday, November 07, 2004

Ari and Cambridge, here I come!

Logan International Airport di pagi hari tanggal 5 November 2004. Lelah sekali setelah perjalanan sepanjang jalan tiada henti tiada ujung. Tati ga punya problem dengan tidur. Kalau aku susah tidur dengan posisi duduk begini. Biarpun sudah ikuti cara Tati, tetap saja uring-uringan. Mau tahu cara Tati? Minum wine secukupnya (atau sebanyak-banyaknya, hehe), tunggulah beberapa saat lagi anda akan tertidur pulas.

Anyway, it was tiring but fun. With Tati by my side. Kita baru kenal sejak urusan amerika2 ini, tapi cepat banget akrabnya. Dari Tati aku dapat ilmu spontanitas dan mostly enjoy the life and food to the fullest! Hehe… kalau kata Tati sih, dia belajar lebih organize dari aku. Pokoknya Tati banyak nurut deh sama apa kataku. Bahkan kadang lebih nurut sama aku daripada sama suaminya. Haha….

China Airlines was not so bad. Makanannya enak-enak aja tuh. Pramugarinya juga baik-baik. Tapi ya itu, banyak transitnya yang bikin capek. Ada untungnya juga sih, bisa olahraga jalan-jalan di airport. Bisa ngaso-ngaso di toilet yang jelas jauh lebih besar dari toilet pesawat.

Los Angeles International Airport adalah tempat perpisahan aku dengan Tati. Sedih tentunya. Karena kami ga tau kapan bertemu lagi. Mungkin di sebuah liburan yang menyenangkan. Tugas berat menanti (beneran berat!) soalnya kita harus ngangkat koper kita yang segede-gedenya itu keluar dari terminal internasional menuju domestik. Untung berdua, jadi saling bisa bawain. Sudah gitu banyak anjing herder lagi cium-cium. Huuu takut. Tapi ternyata ya di Amerika ada porter juga ya. Aku pikir cuma di Indonesia aja.Bye-bye Tati, have a pleasant flight to NYC and meet your silly Sahalio! Miss you.

Sekarang saatnya naik penerbangan domestik US. Aku naik Delta Airlines menuju Boston. Deg-degan gitu deh. Soalnya bawaanku yang masuk kabin juga berat. Pokonya ga mau rugi, semua kg harus tercapai sampai sekoma-komanya. Untungnya karena bule-bule suka dibilang gentlemen, jadi koper aku yang kecil tapi berat itu diangkut oleh si bule. Lagian tinggi juga ya, kayaknya lebih tinggi dari pesawat Indonesia. Hawa domestik terasa sudah. Dengan pramugari berumur yang tegas-tegas, aku cuma dapet air mineral sama pretzel (yang ga enak itu).

Deg-degan nya juga karena mau bertemu Ari. Halah….hehe… iya bener, soalnya sudah hamper 3 bulan tidak ketemu. Jadi kangen dan ga tau mau bilang apa. Come on, kayak orang baru pacaran aja. Begitulah….

Ketika sampai, aku takut juga kalau Ari belum jemput. Soalnya nih, aku bingung itu koper gede2 mau dikemanain kalau ga ada yang bantuin. Logan International Airport. Jauh lebih kecil dan senyap dibanding LAX. Iyalah, kan aku tiba pagi-pagi gitu. Eh ternyata tidak perlu bingung dan takut, ternyata Ari sudah ada di depan mata, siap bawa trolley segala. Hehe…. Bagus deh soalnya aku kan tidak punya koin US. Ari jemput aku sama Grace. Grace ini teman SMP & SMA Sanur. Jadi advisorku sebelum berangkat. Tempat aku bertanya-tanya tentang bagaimana cuaca disana dan apa yang harus kubawa. Grace baik banget deh pokonya. Thank you Grace!

Juli

Monday, October 18, 2004

Make a list, please. (The journey starts)

5 November 2004. Adalah hari keberangkatanku ke Cambridge, USA. Hari yang aku nantikan dengan beragam perasaan. Dinantikan sekali, senang banget, tapi juga takut. Hidupku di pertengahan 2004 bagai rollercoaster. Aku masih harus menyelesaikan tugas akhir kuliah paskasarjana di bulan Agustus dan harus lulus. Kalau tidak bagaimana aku bisa tenang menyusul Ari ke USA. Jalan menuju lulus berliku juga. Setelah gonta ganti topik dan akhirnya menemukan topik yang pas, ternyata masih banyak kesulitan yang datang. Ehm cukup diingat jadi nostalgia saja, jangan sampai terulang. Well, pada akhirnya aku memang bisa menyelesaikannya dengan nilai baik dan diwisuda di bulan September (tanpa suami yang hadir mendampingi, hik hik…).

Lalu bagaimana dengan persiapan keberangkatan? Saking girangnya karena akan tinggal di tempat baru, malah jadi bingung apa saja yang harus dipersiapkan. Ok ok, make a list, please! Pertama, yang jelas penting adalah urusan dokumen-dokumen untuk mendapatkan visa. Beruntung sekali, sebagai istri penerima Fulbright Scholarship, aku masih dibantu dalam proses mendapatkan visa. Yang juga membuat aku senang, aku tidak sendirian dalam penerbangan yang hampir 30 jam. Aku berangkat bersama Tati. Sahal suami Tati juga sudah ada di New York City sejak Agustus.

Sempat ada panic attack karena dokumen penting untuk visa yang dikirim Ari tidak sampai-sampai juga. Mengutuklah aku pada PT Pos. Sampai-sampai Ari harus mengirim lagi via ekspres. Selanjutnya mengisi dokumen untuk visa harus teliti dan berulang-ulang diperiksa. Membuat foto untuk visa juga harus tepat, jangan sampai harus difoto ulang. Selain itu harus mempersiapkan diri untuk wawancara di kedutaan, seperti menebak-nebak apa isi wawancaranya. Aku belum pernah ke USA dan terlalu banyak cerita-cerita sedih susahnya dapat visa bukan...


Hal kedua adalah urusan mencari tiket. Nah yang ini seperti berburu hantu. Musti rajin telpon berbagai biro travel, musti bawel tanya berbagai airline dan berbagai alternatif tanggal, musti siap line teleponnya disambung sana sini, musti sabar menghadapi mbak atau mas yang kurang ramah. Ya, semua demi mendapatkan tiket murah tentunya. Ketika akhirnya ditemukan tiket yang paling murah, ternyata ada hal lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Masalah keribetan membayar dalam US dollar. Ampun ampun negeriku penyembah dollar licin. Uang dollar yang aku punya hampir sebagian besar ditolak karena inilah dan itulah. Setelah tukar sana sini lewat nepotisme, akhirnya kugenggam juga tiket one way, destination Logan Airport Boston, dengan itinerary yang panjang banget karena stop sana stop sini.

Rencananya kami akan tinggal di Cambridge hingga pertengahan 2006. Jangka waktu 2 tahun bisa dibilang singkat, bisa panjang juga. Jadi hal ketiga yang harus dipikirkan adalah mengurusi banyak hal menyangkut properti. Tidak banyak sih (apalagi semakin berkurang karena dipakai untuk tambahan biaya di USA), tapi biar bagaimanapun juga harus diurus kan. Rumah yang kami tempati adalah pinjaman dari orang tua. Barang-barangnya seperti furnitur, elektronik dll sudah banyak. Kami tidak bisa membuang atau menjualnya begitu saja, karena 2 tahun lagi kami akan balik dan membutuhkan barang-barang tersebut kembali. Jadi aku berusaha mencari orang yang mau mengisi rumahku, beserta isinya. Walaupun kami meninggalkan rumah beserta isinya, tapi tetap saja banyak barang pribadi yang harus dibereskan dan dititipkan di rumah orang tua. Kalau begini, baru sadar deh bahwa ternyata barang kita banyak banget. Padahal rumahnya kecil mungil! Lah tapi jadinya juga ada kesempatan mengumpulkan barang-barang yang ternyata sudah tidak kita butuhkan tapi masih bisa disalurkan untuk orang lain yang memerlukannya. Urusan rumah ini agak tricky juga. Setelah dapat penyewa, aku harus membuat daftar-daftar seperti misalnya cara pakai mesin cuci, tanggal-tanggal bayar tagihan macam-macam, mengenalkan si penyewa dengan tetangga dekat dan ketua RT. Pritil-pritil tapi jangan sampai kelupaan daripada ada masalah di kemudian hari.

Selanjutnya properti sektor perbankan. Hayo diselesaikan supaya efisien. Masing-masing dari kami memiliki lebih dari satu bank tabungan. Oleh karena itu kami harus menutup atau menguras isinya supaya masing-masing punya 1 tabungan saja. Tabungan tersebut akan dititipkan ke orang tua aku maupun Ari. Sebab bagaimanapun juga ada transaksi-transaksi yang terjadi selama kami tidak di Jakarta. Seperti misalnya pembayaran asuransi, pemasukan honor Ari menulis di koran atau hal-hal insidentil seperti angpaw pernikahan dan uang duka.

Selanjutnya hal keempat adalah urusan putus memutus langganan. Telepon seluler, internet, koran majalah, fitness centre. Telepon genggamnya perlu dijual atau dikasih saja ke saudara atau sekalian dibawa ke US nih?

Lalu lalu sekarang pikirkan apa yang akan aku bawa ke USA? Nah untuk hal yang kelima ini perlu tanya banyak orang supaya tidak kecele. Yang bisa jadi sumber berita adalah orang yang benar-benar pernah atau tinggal di daerah yang kita tuju. Urusan pakaian dan perlengkapannya tentu jadi penting di negara 4 musim. Tapi seberapa perlu beli ini itu, maka tanyalah pada yang lebih tahu. Kalau punya banyak uang sih, ga perlu repot mikir.

Pergi meninggalkan kota Jakarta yang kutinggali selama kurang lebih 27 tahun (2 tahun pertama hidupku di Jayapura) membuat aku senang sekali. Akhirnya oh akhirnya aku bisa juga pergi untuk waktu yang lama menghindari kemacetan dan kejahatan polusi Jakarta. Tapi biar bagaimanapun juga jeleknya Jakarta, tapi aku punya banyak teman dan keluarga disini. Friends and family are priceless, isn’t it? Jadi hal keenam yang harus diingat adalah pamit sana sini. Dengan grup ini grup itu. Mengatur jadwal supaya semua pada bisa. Makan-makan terus deh. Aku sangat suka bagian ini (bukan makan-makannya maksudnya, tapi acara pamitannya itu). Menjaga tali kebersamaan penting, sehingga walau kita sibuk urus sana sini harus ingat acara pamitan.

Hi Ari @ Cambridge, I’ll be there soon!

Juli

Friday, January 02, 2004

Monday, January 20, 2003

to be continued.....




Bongkarlah aku

jauh malam yang pekat menggetarkan
dengusanku mendesah sunyi
tatapanku menembus dinding
jangan sampai air mata darah yang jatuh

gemetarku sejuta lebah gemuk
melagukan nyanyian sumbang kepedihan
ada apa lagi hatiku?

kekasihku indah, kekasihku bunga
kekasihku takutku, kekasihku pedihku
satu malam bisa menjelma jutaan malam
jutaan malam bisa terburai satu malam

kekasihku, bongkarlah aku.

Jul
Jan 03

Sunday, July 07, 2002

A love odyssey 4





4. Dinding-dinding itu

Dinding-dinding itu
Yang kasat mata,
namun keberadaannya nyata
Satu hari nanti mungkin kita akan
menabrakkan diri
Namun genggaman tanganmu
Masih membuatku enggan untuk berlalu

Feb ’97

Tapi langkah mencari emas di ujung pelangi tidaklah ringan. Di hadapan kami ternyata ada sebuah dinding yang tebal. Entah siapa yang mendirikannya, yang jelas kami tak pernah merasa mendirikannya. Dan kami pun tak tahu kenapa dinding itu harus ada, dan untuk apa ia ada.

Pada mulanya, kami tak terlalu hirau akan keberadaannya. “Nantilah suatu saat kita pikirkan bagaimana cara memanjatnya. Sekarang ini, nikmatilah hari-hari yang kita miliki.” Tapi waktu terus bergulir. Dinding itu semakin dekat, semakin jelas. Dan semakin terlihat bahwa ia begitu kokoh.

Kutanya pada orang-orang yang lalu lalang, untuk apa dinding itu ada? Kenapa ia harus ada?

Tradisi. Iman. Kepercayaan. Itulah jawaban yang selalu kudapat. Tapi apakah iman dan kepercayaan dibuat untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai? Kalau begitu kenapa si pencipta menciptakan cinta dan dinding sekaligus? Apakah si pencipta memang suka bercanda? Ah, jawaban-jawaban itu tak pernah memuaskanku.

Tapi ada satu-dua yang berbisik padaku. Tidak, iman dan kepercayaan tidak dibuat untuk menghambat cintamu. Sayangnya suara mereka terlalu lemah, dan jumlah mereka terlalu sedikit. Meskipun bisikan itu tetap memberiku semangat dan keyakinan untuk terus melangkah.

Lalu beberapa mencoba memberikan jawaban yang (mereka anggap) lebih bijak. Katanya, dinding itu ada untuk melindungimu. Untuk menghindarkanmu dari masalah yang mungkin timbul kalau kau berjalan meniti pelangi. Kutanya, memang kenapa dengan berjalan meniti pelangi? Mereka jawab, karena pelangi punya terlalu banyak warna. Tak mudah berjalan di antara berbagai warna. Lebih baik kau berjalan dalam satu warna.

Aku tetap tak bisa menerima penjelasan mereka. Menurutku, setiap keputusan adalah risiko. Dan tidak mungkin kita mengeliminir risiko. Yang bisa kita lakukan adalah membangun keyakinan bahwa kita bisa mengatasinya. Sekarang berikanlah aku kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku mampu. (Tidak, tetap tidak bisa, kata mereka).

Lama-kelamaan aku pun menyadari bahwa apapun pendapatku, mereka tak akan mendengarkan. Karena masalahnya, bukan masalah apa yang akan timbul kalau AKU melalui dinding itu. Tapi masalah apa yang akan MEREKA dapatkan kalau mereka membiarkanku melewati dinding itu. Ternyata diriku, pikiranku, bukanlah semata-mata milikku. (Karena kita orang Timur, dan bagi orang Timur keluarga adalah segalanya…) (Dan salah satu konsekuensinya kita bukanlah lagi seorang individu yang memiliki kehendak bebas).

Tapi buatku, diriku adalah milik diriku. Dan masa depanku bersamanya adalah milik kami. Kutanya padanya, apakah kau siap untuk menabrakkan diri ke dinding itu? Dan ia pun menyatakan kesiapannya. Kami pun lalu mengatur langkah untuk itu.

(Sebuah yayasan pimpinan seorang tokoh yang sering diasosiasikan sebagai ‘Islam liberal’ membantu kami menunjukkan jalan. Baju dan barang-barang sudah mulai dimasukkan kopor. Akankah aku menulis kisah ‘anak durhaka’ abad 21?).


#ari
7 Juli 2002- kami menikah

Wednesday, July 03, 2002

A love odyssey 3



3. Hujan, Pelangi, dan Matahari

Kaukah itu
Yang membukakan saat pintumu kuketuk
Menyilakan masuk
hadir dalam ruang tamumu

Dan tak menghentikanku
Untuk memulai membicarakan awan
dan hujan dan matahari dan pelangi
Juga tak memintaku pulang
Walaupun hari telah larut?

Well, aku salahkan kau untuk itu!

Feb ‘97

Kehadirannya dalam kehidupanku membawa beragam perasaan (dan juga sebaliknya, yang belakangan ku sadari). Terkadang ada penyangkalan tentang apa yang ada di antara kami. Terkadang ada ketakutan untuk jujur terhadap diri sendiri. Tapi si ‘stupid cupid’ sudah menembakkan panahnya; ‘the crazy little thing called love’ datang tanpa tertahan. Mungkin kau bisa bohong pada semua orang, tapi tidak pada diri sendiri! Sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengalah pada perasaan.

Semenjak itu, hari-hari kami selalu diisi oleh diskusi mengenai hujan, pelangi dan matahari. Kukatakan padanya, aku mencintai hujan karena hujan membawa kesejukan. Tapi ia tidak. Katanya, hujan membawa kesenduan. Ia lebih suka pada matahari. Dan begitulah hari-hari kami terisi. Tapi satu hal, ia begitu mencintai pelangi. Masalahnya, ketika kukatakan bahwa tak mungkin ada pelangi tanpa ada hujan, ia selalu membantah dengan mengatakan, “mataharilah yang menjadikan pelangi!”

Dan ketika lelah berdebat tentang siapa yang lebih berperan dalam menjadikan pelangi, kami akhirnya berkhayal berjalan menyusuri pelangi, mencari pundi berisi emas di ujung pelangi…

#ari

Tuesday, July 02, 2002

A love odyssey 2



2. Awalnya, dan Selanjutnya…

Mungkin Plato benar bahwa cinta adalah bagian dari sebuah grand design. Karena ketika pertama aku menyadari kehadirannya di dunia ini (spesifiknya, di kampus Depok nun panas itu), aku sepertinya diingatkan akan sebuah konsep yang begitu indah dan luhur, ketika aku masih ada di alam ide, sebelum dipindahkan oleh si pencipta ke alam materi.

Samar-samar aku merasa bahwa sebelum menjalani kehidupan ini, aku sudah dipertemukan di alam ide oleh si pencipta dengannya. Dan samar-samar aku bisa mengingat bahwa si pencipta pernah menjanjikan bahwa satu masa di alam material, aku akan kembali dipertemukan dengannya, seperti halnya kami dipersatukan di alam ide.

Tapi mungkin juga Aristoteles yang benar. Sejak perjumpaan itu, sejak berbagai interaksi yang terjadi di antara kami, aku diperkenalkan oleh sebuah konsep, sebuah gagasan tentang hubungan antara dua manusia, yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gagasan itu terdiri dari berbagai faktor. Kebahagiaan saat aku bersamanya, kehilangan saat aku tidak bersamanya, ketakutan bahwa aku tidak bisa bersamanya, dan sebagainya.

Atau mungkin lebih tepat jika kukatakan, aku membangun sebuah gagasan yang belum pernah ada sebelumnya, setidaknya dalam diriku. Mungkin gagasan itulah yang dinamakan cinta. “But I know that love is just another word to say what I’m feeling…” (Europe).

Hari-hari selanjutnya, semuanya mengalir seperti sungai. Aku sudah tidak hirau lagi pada Plato atau Arisoteles. Pada cinta sebagai ide, atau cinta sebagai pengalaman empiris. Hingga aku kembali membuka buku filsafat itu dan menemukan chapter tentang Immanuel Kant. Katanya, jangan bergantung hanya pada rasio, atau hanya pada indra dan perasaan. Keduanya bisa menipumu. Ketika kau ragu pada keduanya, maka itulah saatnya kau menggunakan ‘kepercayaan’ (belief).

Dan aku pun percaya, aku memang telah jatuh cinta…

#ari

Monday, July 01, 2002

A love odyssey 1



1. Prolog

How do I know when it’s love? I can’t tell you but it lasts forever.
How does it feel when it’s love? It’s just something together… (van Halen)

Aku mencari di buku-buku filsafat, mengapa orang jatuh cinta dan mengapa orang harus jatuh cinta.

Ku buka chapter mengenai Plato. Kata Plato, di belakang semua yang terjadi di alam materi ini, ada sebuah ‘ide’. Ide itu milik siapapun yang menciptakan dunia dan isinya. Ide itulah yang menjadikan dunia seperti ini. Dan siapapun si pencipta itu, ia pasti menciptakan dunia beserta isinya dengan sebuah maksud. “Tuhan (nama bagi si pencipta menurut orang-orang beriman) tidak bermain dadu dengan alam semesta,” kata Einstein.

Fakta bahwa cinta adalah sesuatu yang eksis membawaku pada kesimpulan rasional: cinta ada karena si pencipta menghendaki manusia (ciptaannya) saling jatuh cinta. Cinta adalah konsekuensi logis (rasional) bagi manusia, karena cinta adalah bagian dari ‘grand design’ si pencipta atas ciptaannya. Maka manusia dan cinta, semua ada karena grand design tersebut. Dan karena tidak ada makhluk yang eksis selain karena dikehendaki, maka sekarang aku memproklamirkan, “I love, therefore I am… Aku mencintai, maka aku ada…!”

Tapi di chapter selanjutnya, Aristoteles mengatakan bahwa bukan rasionalitas yang membuat manusia sadar akan eksistensi cinta. Ia memang tidak menolak kalau dunia ini ada karena ide si pencipta. Tapi segera setelah manusia tercipta sebagai materi (fisik), manusia tidak lagi tahu apa sesungguhnya ide besar tersebut. Sebaliknya, kata Aristoteles, manusia mengonstruksi konsep-konsep, ide-ide atau gagasan mengenai dunia ini melalui indra dan perasaan (sense).

Demikian juga pendapatnya mengenai konsepsi atas cinta. Kata Aristoteles, cinta ada di antara manusia melalui pengalaman empiris. Baik secara fisik (melihat, menyentuh, mencium), maupun secara perasaan (membutuhkan, melindungi). Dari pengalaman empiris itulah manusia membangun gagasan mengenai cinta.

Mana yang benar jadinya? Tak tahulah. Seorang Platonis-rasionalistis akan mengatakan pada kekasihnya, “I knew I loved you before I met you..” (Savage Garden). Tapi seorang Arisotelian-empirisis akan mengatakan, “I’ve never known love until I met you…”


#ari

Monday, December 31, 2001

Juli's 2001

Kota apa yang paling tidak kusukai

Selamat pagi kepada siapapun yang merasakan pagi memberi enerji yang indah untuk menjalani hari baru. Mau tahu tidak kota apa di dunia ini yang paling tidak kusukai? Jakarta? Ya betul aku memang tidak suka dengan kota bejat ini, tapi ternyata ada lagi kota yang lebih menghantuiku. Kota Canberra. Kota kecil yang teratur dan tentram. Aku pernah kesana dan merasakan keteraturan di antara kesepiannya. Ketentraman di antara kesenduannya. Kota impian di masa berumur bukan?

Tanpa sengaja Canberra menoreh nanah di pelupuk hatiku. Merekam ingatan akannya mengalirkan gigil di telapak tanganku yang patah. Senandungkan nada sumbang di detak jantungku yang pipih. Merengaskan kulitku menjadi keriput sakit. Menguliti bibirku yang kering berdarah. Menyumbat lenggang tenggorokan yang sudah terengah-engah.

Canberra, jangan ada lagi kejutan peluru tandan yang tersisa. Atau jangan kautularkan kota lain untuk menelanjangi hatiku jadi beku.

Canberra, berikan aku senyum bintang yang paling manis. Dia dan aku memang masih tidak tahu sampai kapan pemberhentian kami. Tapi ia dan aku masih ingin punya cerita.

*November entah mengapa tidak ramah padaku


satu... jangan...

satu saja.
jangan dua.
yang kemarin sudah cukup membuat ledakan sebuncah bunga

satu noda.
jangan lagi.
yang dulu sekali pun masih pucat menebas kukuhnya seuntai perisai

satu mauku.
jangan usik dengan permainan sundal yang kasat mata.

satu hujan satu badai satu pelangi satu senja merah satu titik titik
jangan lebih perih jangan lebih gelap jangan lebih merona jangan lebih nikmat
jangan lebih titik titik

karena aku hanya manusia biasa
yang hanya kadang-kadang suka hal yang tidak biasa

*nopember pasi

Sunday, December 31, 2000

Ari's, 2000



sekarang musim semi ceritanya.
kata orang yunani,
musim semi adalah saat2 kembalinya dewi persefone kebumi.
persefone adalah putri zeus, dia dewi pemberi kesuburan di bumi.
kecantikannya memikat hati pluto,raja hades.
hades adalah kerajaan bawah tanah, tempat kegelapan dan jiwa orang2 mati.
dengan keretanya yang ditarik kuda2 berwarna hitam,
pluto menculik persefone ke hades dan menikahinya.
hera, sang ibu, begitu sedih.
stl 'negosiasi', pluto mengijinkan persefone untuk kembali ke permukaan bumi,
selama tiga bulan dalam setahun.
saat ia kembali itulah bunga2 merekah,
dan bumi mengakhiri saat2dingin dan kelam.
itulah musim semi.

kalo orang bule bilang,
spring is hope. musim semi adalah harapan.
memang sih, stl musim dingin yang membuat orang hanya ingin di dalam ruangan,
musim semi seolah2 menawarkan nuansa dan semangat baru.
makanya,aku ingin mengimpor musim semi ke indonesia kalau bisa.
biar negaraku itu bisa punya sedikit harapan...


"selalu ada cahaya di ujung lorong..."
kata orang bijak
dan untuk mencapainya,
tak ada pilihan lain
kita harus berjalan terus
karena berhenti atau mundur berarti hancur (taufik ismail)

di sanalah peri tengah menunggumu
bersama sayapnya yang kemilau
menantimu meniti tangga pelangi
menuju pundi2 emas di ujungnya

ap



hey...

katanya,
hari kemarin adalah pengalaman
hari ini adalah kenyataan
dan hari esok adalah cita-cita

pengalaman yang membuat kita bijak menjalani kenyataan
serta memiliki harapan untuk meraih cita-cita

aku pun ingin segera kembali
untuk tertawa bersama2 pelangiku...

Juli's 2000

apakah hatiku
ketika detak jam pasir mengganggu telinga
mengingatkan harinya datang

apakah hatiku
ketika awan hitam menyapa kening kering
menyadarkan belaiannya takkan lama lagi

apakah hatiku
ketika biru membangunkan dari tidur
menyuntikkan ketidakadilan dunia

apakah hatiku apakah hatiku
aku inginkan sendu ini jadi indah
enam bulan lagi...

juli pada januari 11



Sempoyongan di sebuah…


Sempoyongan di sebuah jalanan berdebu, gelap dan galau
terlalu sunyi entah mengapa, sampai-sampai ketika ia mengatup bibirnya yang
kelabu terdengar giginya berdentangan.
Tak ada yang tahu, dia atau aku atau ketika bertanya pada langit yang
membisu dingin
sampai kapan pemberhentian kami.

Di tengah peluhnya malam, yang aneh, aku dan ia berkeringat
di antara gemeletuk batu-batu es.
Ia memecah kebekuan dan kesenduan, mengajak tertawa terbahak
dari yang diibuat-buat sampai yang benar-benar terpingkal-pingkal entah mengapa kami tertawa.
Lalu ia mengajak menangis dari yang sesenggukan hingga meratap ketakutan
entah mengapa kami menangis.

Dia dan aku masih tidak tahu sampai kapan pemberhentian kami.
Tapi ia dan aku masih ingin punya cerita.

Juls
Maret 16, 00




?

ketika pagi datang melarikan dari mimpi
aku berkata untuk mengunyah senyum

ketika embun menyentuh samar bulu-bulu halus di dengkulku
aku bergidik tapi biasa

ketika mentari terik menampar merengas mata untuk menyipit
aku mengaduh sepi

ketika langit melembut dan merona-rona jingga
aku sedikit lega mendapatkan waktu

ketika mentari belum lagi pergi dan bulan menyembul terlalu dini
aku teringat dua rasa

apakah hari ketika aku begitu malas untuk beranjak
apakah hari ketika aku begitu menantikan seseorang
apakah hari ketika bedug di dada tak henti menekan
apakah hari ketika aku ingin tertawa bersama dunia
apakah hari ketika salib menorehku berdarah
apakah hari ketika wajahku penuh bunga dan pendar

hari kemarin, ini dan esok?

Jun, 00


Katakan padanya


Katakan pada gadis kecilmu
Bunga mataharinya takkan lelah tersenyum
Bunga rose ungunya takkan layu menangis

Katakan pada kilat matanya
Jam pasirnya akan sampai pada bulan ke delapan
Pelangi di atas kepalanya akan bergurat kembali

Hatinya takkan meraba lagi
Gelaknya tak pasi lagi
Bibirnya mendapatkan bibirmu

Katakan padanya


***June 2000,sbh kangen



CUP

Empat tahun yang lewat menera-nera
Gejolak yang pernah datang untuk pertama kalinya
Seperti panas dan dingin yang sukar dilerai
Biar sudah mengadu pada siapa yang maha kuasa
Mengaduh marah tapi anehnya merasa lega

Menurutku…
Cup itu indah
Pada akhirnya
Dan ternyata
Belum berahkir
Dan aku tak ingin berakhir

November 2000
Ingatkah ?

Friday, December 31, 1999

Ari's, 1999

untuk pelangiku...

sudilah kiranya tuan tetap bersinar
menemani mentari yang tak ingin terbenam
menemani dua anak manusia
yang tengah meniti tangga harapan
untuk berdua bersua lagi di ujung pelangi...

ijul,don't go anywhere yah, wait for me to come back!

dear julie...

kalau ada satu penyesalan sekarang ini adalah
ketidakmampuanku untuk terus terjaga sepanjang malam kemarin
sehingga aku tak perlu menyiakan tiap detik yang ada
tapi tiap detik saatku terjaga bersamamu kemarin
berarti lebih besar dari seribu tahun sekalipun...

13/1/99



HUJAN DI CANBERRA 1

Ada rinduku yang jatuh bersama butiran2 hujan itu
Maka biarkan ia ikut meresap ke tanah
Dialirkan oleh sungai, dan dibawa ke laut

Karena oleh matahari ia akan diajak menguap
Bergabung bersama butiran2 rinduku yang lain di awan...
dan ia adalah embun yang akan kau temui
di dedaunan, pagi hari saat kau bangun...

Feb '99


DELUSI 1

Di antara daun-daun musim gugur, di sini
aku berkawan dengan bayang-bayang,
bercakap dengan imaji
yang selalu menambahkan dalamnya kerinduan
ketika hanya kudapati ruang kosong
tiap kali aku menggapainya

Mar '99

DELUSI 2

Kaukah itu, ah bukan...
tidak, kau tidak di sini, kau di situ
ya, di tempatmu sekarang berpijak
dan aku di bawah langitku berpayung

Lantas kalau hanya ilusi,
bagaimana bisa kau tetap membuat inderaku
tidak merasakan ketidakhadiranmu?

Mar '99


Setiap detik di sini adalah kerinduan
Setiap langkah di sini adalah penantian
Setiap desir angin di sini adalah pesan
Setiap ketikan keyboard di sini adalah pelampiasan

Dan jam pasirku masih tetap perlahan bergulir

Mar '99



Tiap langkah kutapaki kota asing ini
jejak-jejakku membekaskan bait demi bait kerinduan
yang akan kujalani, melewati saat-saat
daun menguning dan berguguran,
menantikan salju yang enggan turun
hingga bunga-bunga kembali bermekaran

Detik demi detik adalah saat
dimana ada celah di dalam sini...
yang hanya bisa diisi oleh imajimu

Summer '99


semoga
masih ada spasi
sedikit saja di kamusmu
untuk empat huruf
yang sangat mahal ini

andaikan saja
aku bisa menggapai pelangi
dan menukarkannya padamu
walau ku tahu
tak kan kuasa ku menjadikannya nyata

semoga
maaf itu belum punah...


satu kebodohan
sudah terlalu banyak
untuk menghancurkan
sebukit keindahan yang sudah dibangun
tapi bukit kepercayaan
memang tak bisa dibangun
hanya dari penyesalan


kamu menuntut kepercayaan
aku menjawab dengan kebodohan
yang berbaur dengan cemburu

aku berharap maaf
kamu meminta waktu
aku hanya berharap
akhirnya waktu mampu membawakan maaf

99



Musim Semi

ketika musim semi mengetuk
matahari membawakan bunga-bunga
dan angin membawakan keceriaan
pohon-pohon cherry mengundang
para lebah dan burung
harapan yang didendamkan
membuyarkan kebekuan semusim lalu
menyambut kembalinya dewi persefone
dari kegelapan hades
ketika musim semi mengetuk
rindu pun tak bisa kubendung

sept '99

Juli's 1999

sebuah nama dalam lamunanku....
kugores-gores dengan sepenuh hati...
lewat pena yg berjingkat anggun di kertas seputih pengantin...
tiada lelah untuk mencapai persinggahan...
menerobos dengan lembut sepinya daratan hampanya lautan...
yang kadang begitu kejam memainkan panggungnya...

sebuah sosok dalam heningnya mata ini menutup...
mampu menyeka matahari sengit yg melecut kepedihan...
menyisipkan rona jambon pada pasinya rembulan...
menambah satu kilat pada sepinya langit hitam...
menengahi sebuah kegalauan yg datang tanpa diminta...

sebuah harapan kulilit di loyang cintaku...
menanti lohincvar-ku

maret 99


adalah aku

adakalanya aku memaksa bunga tidurku
adalah aku mengacak barisan awan putih
adalah aku memutar matahari lebih cepat
adalah aku mengganti musim sesegera
adalah aku menyeret tanggal demi tanggal

karena aku merindukannya...


AKU SANG BULIR LUKA

buat si dia yang mengaku2 turunan matahari,
ada bulir luka yang menganga berharap diseka
tapi dimanakah dia?
sang dewi murung masih mengitarinya dengan segala teka tekinya

aku sang bulir luka
sungguh ingin segera menyulap diri
dan lepas dari magnit sang dewi murung
karena
aku sang bulir luka
merasakan dentaman hebat menggugah rasa
menyeruak diantara aura mereka
diantara jalinan bintang milik mereka

....
juls des 99