Hai, hai,
Pernahkah kamu berpikir tentang persentase sifat feminin dan maskulin dalam dirimu?
Memang, apa pentingnya, apa gunanya?
Ehmm, apa ini malah jadinya berkaitan dengan masalah jender yang tidak perlu?
Begitukah?
Beberapa minggu yang lalu, temanku menyelenggarakan sebuah diskusi tentang 'Women Wave'. Begini sebagian cuplikannya:
We are living in an environment where masculine power is valued, which is the quality of men. Living in such an environment where men power is valued we are trying to act like men, taking place of the man and destroying the possibility of harmonious contact. What is the function of woman? What is her power?
Rasanya memang benar kalau dunia ini masih mengagungkan masculine power. Tapi, aku tidak memandang maskulinitas sebagai sebuah hal yang dapat merusak harmoni. But anyway, I don't really care about that sentence, it's all about relativity for me.
Bagiku yang menarik adalah kalimat selanjutnya, kalimat pertanyaan itu. Aku tidak punya saudara kandung laki-laki. Kakak-kakakku perempuan. Bapak, walaupun dibesarkan dalam lingkungan yang patriarkis, tapi sama sekali tidak patriarkis. Di rumah, memang ada peran yang berbeda antara bapak dan mami. Peran yang memang diasosiasikan dengan peran fungsional laki-laki dan perempuan. Namun, di saat tercipta perubahan kondisi, bapak dengan sendirinya menjalankan peran yang sehari-hari bukan perannya. Misalnya, mencuci baju dan memasak.
Aku tidak suka mendikotomi peran. Tidak suka mengatakan ini pekerjaan perempuan, itu pekerjaan laki-laki. Aku sebal ketika berada di lingkungan patriarkis yang memungkinkan laki-laki untuk duduk-duduk, ngopi, makan enak.... tapi tak ingat bahwa semua itu bukan sulap. Apalagi tak ingat untuk berterimakasih dan menghargai.
Aku bersekolah di sekolah perempuan yang bagiku mengondisikan kemandirian dan meniadakan ketergantungan (salah satunya pada laki-laki). Menjauhkan anganku dari cita-cita romantis mendapatkan 'gentlemen'. Membuatku menertawakan simbol-simbol materialistik sebagai ungkapan cinta.
Pada intinya, aku menjauhkan diri dari pemikiran tentang pemisahan peran, baik yang bersifat mentalitas maupun fisikal. Karena bagiku, semuanya bisa sama. Hmm kecuali hal yang berkaitan dengan perkara biologis.
Kembali pada diskusi Woman wave, kembali pada pertanyaan tentang sisi feminin dan pemberdayaannya. Menarikku berkontemplasi sejenak tentang diriku sendiri. Selama ini - bagiku - peran apa, sifat apa, seharusnya bisa ada di dalam aku. Tergantung diriku sendiri. Tapi apa sebenarnya sisiku? Dulu sekali, dulu, kemarin, saat ini, selanjutnya? Let me feel it then....
"To begin with - let’s not ignore our sex. If we do not realize the woman within us, we will not be able to understand her properly." (Djyldyz Kydyrova, Nov 21, 05)
Jul-dec 05
Sunday, December 04, 2005
Tuesday, November 29, 2005
Kura-kura mungil berterbangan
Apa yang dirasakan jika yang dinanti tak kunjung tiba?
Aku melihat ke luar jendela. Matahari datang dari satu arah yang salah. Tapi ia menciptakan bayangan kura-kura berterbangan. Tipis saja, harus diperhatikan dengan teliti. Aku tersenyum dan menanti. Kura-kura mungil tetap saja berterbangan dan belum mau mendarat. Matahari masih terlalu tinggi. Terlalu sulit untuk digapai.
Ada keengganan disana. Anehnya menyatu dengan keinginan yang menggebu. Berputar diantara kedua rasa yang bertolak belakang. Bergesekan tapi tak berpindah.
Kulihat sekali lagi... kura-kura mungil masih berterbangan. Belum mau turun....
Jul - Nov 05
Aku melihat ke luar jendela. Matahari datang dari satu arah yang salah. Tapi ia menciptakan bayangan kura-kura berterbangan. Tipis saja, harus diperhatikan dengan teliti. Aku tersenyum dan menanti. Kura-kura mungil tetap saja berterbangan dan belum mau mendarat. Matahari masih terlalu tinggi. Terlalu sulit untuk digapai.
Ada keengganan disana. Anehnya menyatu dengan keinginan yang menggebu. Berputar diantara kedua rasa yang bertolak belakang. Bergesekan tapi tak berpindah.
Kulihat sekali lagi... kura-kura mungil masih berterbangan. Belum mau turun....
Jul - Nov 05
Tuesday, November 15, 2005
The world of Peter Rabbit
"Once upon a time there were four little rabbits, and their names were - Flopsy, Mopsy, Cotton-tail and Peter. They lived with their Mother in a sand-bank, underneath the root of a very big fir-tree." (The Tale of Peter Rabbit by Beatrix Potter)
World of Peter Rabbit adalah karakter yang aku gemari sekarang. Walaupun judulnya World of Peter Rabbit, ternyata Peter tidak selalu menjadi tokoh sentral. Banyak sekali karakter yang ada dalam kisah-kisah menarik yang dibuat Beatrix Potter (1866-1943). Tapi memang Peter yang muncul menjadi karakter populer.
Selain Peter, si kelinci kecil yang selalu ingin tahu, tentu saja ada Flopsy, Mopsy dan Cotton-tail saudaranya. Ada juga Jemima Puddle-duck si bebek cantik yang ingin mandiri. Foxy Whiskered Gentlemen, rubah yang licik. Mr. McGregor, pemilik kebun yang kesal oleh ulah Peter. Benjamin Bunny, sepupu Peter yang juga selalu ingin tahu. Mrs. Tiggy-Winkle, ibu hedgehog, si tukang cuci yang baik hati. Squirrel Nutkin, tupai kecil yang cerdik. Karakter-karakter ini yang sudah aku baca ceritanya. Tapi masih banyak karakter lain seperti Tom Kitten, Jeremy Fisher,Hunca Munca, John Joiner, Samuel Whiskers, Mr. Tod, Miss. Moppet, dan Pigling Bland.
Gambar-gambar dalam cerita Beatrix Potter sangat detail, anggun, fasionable dan cute. Beatrix menggambar karakter-karakter tersebut bukan sekedar dari imajinasinya. Melainkan diperolah dari observasinya terhadap binatang-binatang peliharaannya. Ia adalah Victorian England girl dan dibesarkan di keluarga yang mampu. Oleh karena itu, Ia banyak belajar melukis.
Walaupun Beatrix tidak memiliki anak (Ia menikah di usia 47 tahun), namun cerita yang ia buat sungguh menarik untuk anak-anak (dan orang dewasa). Kisah-kisahnya memberikan detail tentang alam, binatang dan tumbuhan. Selalu ada nada bijaksana tapi tidak pernah menggurui. Peter si kelinci kecil yang selalu ingin tahu, tapi sebenarnya nakal.... tapi ya itu nakalnya anak-anak. ehmm tidak bisa bikin marah!
I love Peter Rabbit!
http://www.peterrabbit.co.uk/
Juli-Nov 05
Monday, November 14, 2005
Defensive stance, READY!
"Woman must NOT depend on the protection of man but must be taught to defend herself" (Susan B. Anthony, 1871)
Apa yang akan kulakukan jika aku diganggu seorang laki-laki?
Apa yang akan kulakukan jika segerombolan laki-laki melecehkan aku?
Apa yang akan kulakukan jika aku ada dalam situasi perkosaan?
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Selama 30 tahun hidupku, aku membaca, mendengar, dan menonton televisi tentang kisah perkosaan. Bahkan aku mempelajarinya di kuliah. Cerita yang kerap aku dengar, tapi seolah jauh dan mengawang. Hidupku sejauh ini adalah aman. Lingkunganku rasanya bersih. Orang-orang disekitarku tampaknya orang-orang yang normal. Pelecehan dan perkosaan, jauh dari pikiranku. Ia hanyalah mitos bagiku.
Entah mengapa aku tidak pernah berpikir 'is it any ways to avoid such condition?'.
Entah mengapa aku kadang berpikir hal tersebut adalah musibah, nasib buruk.
Such a destructive mindset!
Empat kali hari senin ini aku beruntung. Aku punya kesempatan untuk mengikuti RAD (rape aggression defense) training yang diselenggarakan Harvard Police. Sungguh pelajaran dan pengalaman yang berguna.
You have choices to do something to save your own life!
Awareness,
risk reduction,
avoidance and
defensive
The intention is not to injure or kill anyone, it is simply to survive, be escape, nothing more.
Defensive stance, ready!
- I feel good.
Juli- nov 05
Sunday, November 06, 2005
".... any moment might be our last ..."
"I'll tell you a secret. Something they don't teach you in your temple. The Gods envy us. They envy us because we're mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we're doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again." (Achilles - Troy, 2004)
Manusia tidak dapat dipisahkan dari kematian. Tidak juga Achilles, yang perkasa dan sangat tangguh dalam perang Trojan. Tidak juga Kurt Cobain, yang lagu-lagu spektakulernya sempat aku hapal. Tidak juga mamaku yang kupikir akan bersamaku hingga paling tidak usiaku 40 tahun. Kematian ada di depan mata sejak adanya kelahiran. Dua hal yang bertolak belakang namun tak terpisahkan bagai koin mata uang.
Manusia yang bertambah usia harus menerima ketuaannya. Keriput yang tak diundang, rambut putih yang menggoda, nafas yang terasa menipis, gerak yang melambat. Manusia detik ini, bisa jadi 180 derajat berbeda dari sebelumnya, bisa jadi 0,00001 derajat berbeda dari sebelumnya.
Muda adalah masa lalu, yang terkadang dikenang indahnya, terkadang dirindukan pedihnya. Pengalaman tidak akan berulang sama sebangun. Setiap kejadian adalah satu dan berbeda dari yang lainnya. Entah datar biasa saja, entah mengejutkan, entah memberi rasa. Adakalanya membuat terkenang, tertanam dalam memori. Adakalanya dibungkus dan disimpan untuk dilupakan.
Aku ingin bisa menikmati setiap momen milikku, yang putih, hitam, ataupun abu-abu. Seperti kata Achilles ".... any moment might be our last ..."
juli- Nov 05
Manusia tidak dapat dipisahkan dari kematian. Tidak juga Achilles, yang perkasa dan sangat tangguh dalam perang Trojan. Tidak juga Kurt Cobain, yang lagu-lagu spektakulernya sempat aku hapal. Tidak juga mamaku yang kupikir akan bersamaku hingga paling tidak usiaku 40 tahun. Kematian ada di depan mata sejak adanya kelahiran. Dua hal yang bertolak belakang namun tak terpisahkan bagai koin mata uang.
Manusia yang bertambah usia harus menerima ketuaannya. Keriput yang tak diundang, rambut putih yang menggoda, nafas yang terasa menipis, gerak yang melambat. Manusia detik ini, bisa jadi 180 derajat berbeda dari sebelumnya, bisa jadi 0,00001 derajat berbeda dari sebelumnya.
Muda adalah masa lalu, yang terkadang dikenang indahnya, terkadang dirindukan pedihnya. Pengalaman tidak akan berulang sama sebangun. Setiap kejadian adalah satu dan berbeda dari yang lainnya. Entah datar biasa saja, entah mengejutkan, entah memberi rasa. Adakalanya membuat terkenang, tertanam dalam memori. Adakalanya dibungkus dan disimpan untuk dilupakan.
Aku ingin bisa menikmati setiap momen milikku, yang putih, hitam, ataupun abu-abu. Seperti kata Achilles ".... any moment might be our last ..."
juli- Nov 05
Wednesday, October 12, 2005
Apa yang kau cari?
"I subscribe to the European philosophy, my priorities leaning toward wine, women, and --well, actually that's it wine and women. Although women and women is the fun option." (Alfie Elkins)
Alfie, this film is a humorous, sexy and often touching tale of philosophical womenizer (Jude Law) who is forced to question his seemingly carefree existence. (Paramount Picture, 2004)
Being single..... isn't it great?
Alfie adalah single sejati. dia cinta kebebasannya. Bisa memiliki seorang Julie, single mom yang penuh cinta. Bisa mendapatkan malam yang liar dengan Dorie, istri orang. Bisa menikmati kemewahan bersama Liz, perempuan yang cocok jadi ibunya. Bisa mengisi malam tahun barunya dengan Nikki, muda dan naif.
Kebebasannya terusik karena malam yang salah. Yang tidak seharusnya terjadi. Alfie bermaksud baik, mendamaikan Marlon sahabatnya yang sedang bertengkar dengan kekasihnya Lonnette. Tapi Alfie sial, di saat yang sama, Julie mencampakkannya karena tahu Alfie bercinta dengan Dorie.
Alfie kalut, Lonnette marah. Alfie dan Lonnette larut pada malam yang dingin dan hujan deras. Padahal mereka berdansa dengan indah. Padahal mereka adalah sahabat. Tapi terlanjur....
Selanjutnya? tambah kacau..... karena Lonnette hamil.
Alfie kangen Julie dan Max anaknya. Tapi Julie sudah menganggapnya masa lalu. Alfie membutuhkan 2 sahabatnya, Marlon dan Lonnette, tapi mereka jauh. Alfie ingin memperindah hubungannya dengan Liz, tapi kali ini Alfie hanyalah salah satu kekasih bagi Liz. Bukan satu-satunya.
Seorang Alfie, mempertanyakan kesendiriannya. Kebebasan yang ia puja. Kebebasan yang penuh petualangan. Tapi ternyata, kebebasan yang ... sepi.... yang tidak tahu sampai dimana.... Apa yang kau cari, Alfie?
Aku pun menangis untukmu.
-juli, Oct 05
Saturday, August 13, 2005
Terima kasih Gie
"Cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan. Yang takkan pernah kutahu, dimana jawaban itu... Bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi. Sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati." (Theme Song Soe Hok Gie, 2005)
Sebuah senja yang padat manusia dan kata, tapi sepi rasanya. Pelangi ada di lain pulau. Hanya sebentar bagi hitungan kalender. Namun sejuta tahun bagi hatinya. Jam pasirnya berlalu sendirian, melupakan pikirannya. Menengok, membelalak, menengadah.... tanpa bisa menjamah, memeluk, mencinta. Angan ada dalam doa, tapi belum beranjak. Angan masih di alam mimpi.
Terima kasih Soe Hok Gie, untuk wajahmu, kisahmu, jalan pikiranmu dan puisimu. Begitu mengundang hatinya. Membawanya berlari, tapi tidak terengah. Membawanya menunduk, tapi tidak takut. Membawanya tersenyum, tapi juga menitikkan air mata.
Satu lagi, lagunya indah menusuk.
Jul-Aug 05
Friday, May 20, 2005
What to Eat around the Square
Hobi aku dan Ari ngemil dan ngopi. Sepertinya disini tersalurkan karena cukup banyak tempat yang nyaman dan membumi. Hehe.. maksudnya kalau di Jakarta tempat2 yang nyaman itu umumnya kinclong2, jadi suka ga enak kalau kita lagi butek. Aku coba list ya tempat2 yang suka kita datangi di Harvard Square.
Ngopi/ngeteh dan nyemil
1. Dunkin Donut di Arrow Street. Cukup besar karena gabung jadi satu dengan Baskin Robbins. Biasanya Dunkin ini jadi markasnya polisi Cambridge. Polisi disini kayaknya identik dengan kopi & donatnya Dunkin. Jadi mereka banyak yang gendut2, kebanyakan donat kali ya. Hehe… Kalau suka dengan Baskin, biasanya Tuesday is $1 loh. Pesanan kesukaan Ari adalah hot latte with caramel swirl, spice tea dan strawberry frosted donut. Pesanan aku adalah hot latte with mocha swirl dan hot chocolate
2. Dunkin Donut di JFK Street (dulunya Eliot Café). Tepatnya di depan KSG. Dunkin ini juga besar karena menyediakan menu lunch sandwich, burger & croissant. Oya toko roti/pastry disini umumnya juga jual buah pisang & apel. Jadi buat yang diet bisa lunch dengan salad dan buah juga. Yang asik di Dunkin sini, ada outdoornya walaupun kecil (yah emang cuma bisa saat musim semi/gugur yang ga dingin aja sih). Letaknya di pertigaan gitu. Jadi cukup strategis dan nyaman buat meeting point
3. Dado Tea di Church Street. Tempatnya terlalu cilik sih, padahal asik. Bisa buat internetan. Yang paling ok disini tentu menu minumannya. Seperti namanya, menu tehnya emang unik2. Ada teh lemon jahe yang gelasnya kayak mangkok gede gitu. Tapi kalau aku dan Ari kebanyakan tentu pesan black coffee, latte atau mocha. Gelasnya dari clay yang unik. Oya, disini juga jual kue mochi dan simple lunch. Satu lagi Dado Tea adalah bisnis lokal di Harvard Square. So, it’s unique! Selain itu Dado Tea ada juga di Massachussetts Avenue. Nah kalau ini tempatnya besar. Ada bangku2 yang dari batang kayu segala. Terus juga ada merchandise seperti teko dll
4. Paradiso di Church Street. Disini selain kopinya nyam2 juga ada gelato yg juga nyam2. Gelasnya juga gede. Tempatnya cukup besar dan kalau lagi cuaca hangat ada outdoor-nya.
5. La Burdick di Brattle Street. The best hot chocolate ever! Benar2 rich teksturnya. Ampun deh nyam2 kalau lagi dingin. Tapi yang nyebelin, tempatnya unyil banget. kalau lagi dingin, pasti engga dapet seat. Oya, disini juga dijual coklat batangan, tapi aku belum pernah beli. Makanya sampai di Jakarta menyesal tidak pernah merasakannya.
6. Peets Coffee & Tea di JFK Street. Excellent coffee with cozy place. Soalnya lokasinya persis di depan taman yang pada jaman baheula adalah pasar petani. Tamannya walaupun tidak besar tapi enak banget dengan rumput tebal, banyak burung dara yang berkumpul dan juga street performance yang oke. Kalau lagi ultah, Peets bener2 murah hati. Free coffee at noon and free bean for buying things!
7. Science Center di deket GSAS Sebenarnya rasa kopinya standar aja. Namanya juga kantin mahasiswa. Tapi tempatnya nyaman. Kaca2 gitu jadi indoor tapi berasa di taman.
Nah, selain itu aku list beberapa tempat lain yang jarang kita datangi tapi oke lah buat icip2.
1. Algiers Coffee House di Brattle Street. Tempatnya bagus seperti rumah dengan dekor yang menarik. Bertingkat pula. Tapi sayangnya kopinya tidak oke banget. mungkin buat dinner oke ya.
2. Tealuxe around the square Sebenarnya jualannya teh aja, tapi kemasannya oke banget. soalnya disini kita bisa liat canggihnya si bartender buat teh dengan alat2 yg unik. Padahal tempatnya kecil loh, tapi compact dan fungsional. Karena aku dan Ari lebih milih ngopi daripada ngeteh kalau hang out, jadi aku hanya sekali kesini. Itupun ditraktir Allison, student co-ordinator di kampus. Rasanya…. Ya bagi aku seperti beli twinnings sih ya….. but if you love tea, maybe this is the right place! And It’s in the heart of Harvard square.
3. Finale Bakery di Massachussetts Avenue. Memang kue2 disini enak banget. Tapi harganya juga mahal banget buat kantong kita. Jadi jarang2 banget kesini. Kalau bukan ditraktir ya biasanya kesini karena ada acara perpisahan. Soalnya tempat yang paling gampang ditemukan.
4. Au Bon Pain in the heart of the square. Nah ini tempat memang ikon banget ya. Soalnya bener2 eye catching. Besar banget tepat di jantung square. Ada permainan catur di bagian luarnya yang selalu jadi tontonan. Belum lagi street performance dan demonstrasi. Kopinya lumayan standar seperti starbuck lah. Sandwich nya lumayan enak. Tapi aku tidak terlalu suka kesini karena terlalu ramai dan sering ada orang yang aneh2. eh tapi ada au bon pain yg kecil di deket2 situ juga. Kecil tapi nyaman juga tempatnya.
5. Dudley House Cafetaria di dalam Harvard Yard di dekat Johnston Gate. Buat minum2 ketemu teman lumayan sekalian merasakan auranya mahasiswa lagi (undergrad pula).
6. Pamplona Café, yg hobi bikin pengumuman mau tutup, tapi ga jadi2. lumayan keren hehe.
7. Coffee House di lt 2 Harvard Book Store. Lumayan, setelah ngubek2 cari buku diskonan.
Makan gede
1. Pinocchio’s Pizza
2. Mr. Bartley’s Burger (ngantrinya buseett deh…. Rasanya? So so sodara2…. Tapi sepertinya minumannya canggih, namanya aja lucu2. Aku beli pernah beli, karena pelit)
3. Crepes @ Massachussetts Avenue (waaaa yummy for diet lunch)
4. 9 Tastes
5. Spice Thai
6. Bombay
7. Tamarind Bay (love the buffet lunch sooo much, affordable & yum yummy)
8. Tanjore
9. Pizza mba dewi (Campo de Fiore)
10. Pho Pasteur/ Lee’s (Fave place forever!)
11. Felipe’s Taqueria
12. Charlie’s Kitchen
13. Spangler
14. Grendel’s Den (looking for the lunch menu)
15. Bertucci’s
Ice cream
1. Herrell’s
2. Toscanini (my idol)
3. Ben & Jerry’s
4. Baskin & Robbins
5. Paradiso
#Juli#
Ngopi/ngeteh dan nyemil
1. Dunkin Donut di Arrow Street. Cukup besar karena gabung jadi satu dengan Baskin Robbins. Biasanya Dunkin ini jadi markasnya polisi Cambridge. Polisi disini kayaknya identik dengan kopi & donatnya Dunkin. Jadi mereka banyak yang gendut2, kebanyakan donat kali ya. Hehe… Kalau suka dengan Baskin, biasanya Tuesday is $1 loh. Pesanan kesukaan Ari adalah hot latte with caramel swirl, spice tea dan strawberry frosted donut. Pesanan aku adalah hot latte with mocha swirl dan hot chocolate
2. Dunkin Donut di JFK Street (dulunya Eliot Café). Tepatnya di depan KSG. Dunkin ini juga besar karena menyediakan menu lunch sandwich, burger & croissant. Oya toko roti/pastry disini umumnya juga jual buah pisang & apel. Jadi buat yang diet bisa lunch dengan salad dan buah juga. Yang asik di Dunkin sini, ada outdoornya walaupun kecil (yah emang cuma bisa saat musim semi/gugur yang ga dingin aja sih). Letaknya di pertigaan gitu. Jadi cukup strategis dan nyaman buat meeting point
3. Dado Tea di Church Street. Tempatnya terlalu cilik sih, padahal asik. Bisa buat internetan. Yang paling ok disini tentu menu minumannya. Seperti namanya, menu tehnya emang unik2. Ada teh lemon jahe yang gelasnya kayak mangkok gede gitu. Tapi kalau aku dan Ari kebanyakan tentu pesan black coffee, latte atau mocha. Gelasnya dari clay yang unik. Oya, disini juga jual kue mochi dan simple lunch. Satu lagi Dado Tea adalah bisnis lokal di Harvard Square. So, it’s unique! Selain itu Dado Tea ada juga di Massachussetts Avenue. Nah kalau ini tempatnya besar. Ada bangku2 yang dari batang kayu segala. Terus juga ada merchandise seperti teko dll
4. Paradiso di Church Street. Disini selain kopinya nyam2 juga ada gelato yg juga nyam2. Gelasnya juga gede. Tempatnya cukup besar dan kalau lagi cuaca hangat ada outdoor-nya.
5. La Burdick di Brattle Street. The best hot chocolate ever! Benar2 rich teksturnya. Ampun deh nyam2 kalau lagi dingin. Tapi yang nyebelin, tempatnya unyil banget. kalau lagi dingin, pasti engga dapet seat. Oya, disini juga dijual coklat batangan, tapi aku belum pernah beli. Makanya sampai di Jakarta menyesal tidak pernah merasakannya.
6. Peets Coffee & Tea di JFK Street. Excellent coffee with cozy place. Soalnya lokasinya persis di depan taman yang pada jaman baheula adalah pasar petani. Tamannya walaupun tidak besar tapi enak banget dengan rumput tebal, banyak burung dara yang berkumpul dan juga street performance yang oke. Kalau lagi ultah, Peets bener2 murah hati. Free coffee at noon and free bean for buying things!
7. Science Center di deket GSAS Sebenarnya rasa kopinya standar aja. Namanya juga kantin mahasiswa. Tapi tempatnya nyaman. Kaca2 gitu jadi indoor tapi berasa di taman.
Nah, selain itu aku list beberapa tempat lain yang jarang kita datangi tapi oke lah buat icip2.
1. Algiers Coffee House di Brattle Street. Tempatnya bagus seperti rumah dengan dekor yang menarik. Bertingkat pula. Tapi sayangnya kopinya tidak oke banget. mungkin buat dinner oke ya.
2. Tealuxe around the square Sebenarnya jualannya teh aja, tapi kemasannya oke banget. soalnya disini kita bisa liat canggihnya si bartender buat teh dengan alat2 yg unik. Padahal tempatnya kecil loh, tapi compact dan fungsional. Karena aku dan Ari lebih milih ngopi daripada ngeteh kalau hang out, jadi aku hanya sekali kesini. Itupun ditraktir Allison, student co-ordinator di kampus. Rasanya…. Ya bagi aku seperti beli twinnings sih ya….. but if you love tea, maybe this is the right place! And It’s in the heart of Harvard square.
3. Finale Bakery di Massachussetts Avenue. Memang kue2 disini enak banget. Tapi harganya juga mahal banget buat kantong kita. Jadi jarang2 banget kesini. Kalau bukan ditraktir ya biasanya kesini karena ada acara perpisahan. Soalnya tempat yang paling gampang ditemukan.
4. Au Bon Pain in the heart of the square. Nah ini tempat memang ikon banget ya. Soalnya bener2 eye catching. Besar banget tepat di jantung square. Ada permainan catur di bagian luarnya yang selalu jadi tontonan. Belum lagi street performance dan demonstrasi. Kopinya lumayan standar seperti starbuck lah. Sandwich nya lumayan enak. Tapi aku tidak terlalu suka kesini karena terlalu ramai dan sering ada orang yang aneh2. eh tapi ada au bon pain yg kecil di deket2 situ juga. Kecil tapi nyaman juga tempatnya.
5. Dudley House Cafetaria di dalam Harvard Yard di dekat Johnston Gate. Buat minum2 ketemu teman lumayan sekalian merasakan auranya mahasiswa lagi (undergrad pula).
6. Pamplona Café, yg hobi bikin pengumuman mau tutup, tapi ga jadi2. lumayan keren hehe.
7. Coffee House di lt 2 Harvard Book Store. Lumayan, setelah ngubek2 cari buku diskonan.
Makan gede
1. Pinocchio’s Pizza
2. Mr. Bartley’s Burger (ngantrinya buseett deh…. Rasanya? So so sodara2…. Tapi sepertinya minumannya canggih, namanya aja lucu2. Aku beli pernah beli, karena pelit)
3. Crepes @ Massachussetts Avenue (waaaa yummy for diet lunch)
4. 9 Tastes
5. Spice Thai
6. Bombay
7. Tamarind Bay (love the buffet lunch sooo much, affordable & yum yummy)
8. Tanjore
9. Pizza mba dewi (Campo de Fiore)
10. Pho Pasteur/ Lee’s (Fave place forever!)
11. Felipe’s Taqueria
12. Charlie’s Kitchen
13. Spangler
14. Grendel’s Den (looking for the lunch menu)
15. Bertucci’s
Ice cream
1. Herrell’s
2. Toscanini (my idol)
3. Ben & Jerry’s
4. Baskin & Robbins
5. Paradiso
#Juli#
Saturday, December 18, 2004
Urus ini Urus itu
Ada beberapa hal yang musti diurusin setelah aku tiba. Soalnya kita kan bukan turis yang dating cuma buat senang2 terus pulang. Ada dokumen dll yang harus diurus menyangkut status residen kita. Yang pertama aku melapor ke international office Harvard tentang kedatanganku. Selanjutnya membuat kartu identitas Harvard. Biarpun bukan mahasiswa, tapi dependen dapat privilese juga loh disini. Dengan kartu tersebut aku punya akses ke perpustakaan Harvard (tidak hanya di KSG) dan museum Harvard. Selain itu kartunya juga bisa jadi kartu debit. Bisa diisi dan digunakan untuk bayar laundry di Peabody terrace, makan di kantin Harvard dan juga beberapa tempat fotokopi. Sungguh nyaman deh.
Hal ketiga membuat kartu perpustakaan. Aku buat kartu di Boston dan juga di Cambridge. Perpustakaan disini sangat sangat nyaman. Bukan sekedar bisa minjam buku, vcd, dvd gratis, tapi juga bisa mendapatkan free pass masuk museum2 di Boston dan kebun binatang.
Berikutnya aku mengurus kartu kesehatan ke Cambridge Hospital. Aku tidak punya asuransi Harvard (alasan klise, kemahalan), jadi hanya punya asuransi standar yang murah. Enaknya disini, kesejahteraan bagi orang2 tak berpenghasilan cukup okeh. Karena status Ari adalah mahasiswa yang tidak berpenghasilan, maka aku eligible mendapat kartu kesehatan untuk digunakan di Cambridge Hospital dan klinik2nya. Tapi memang coverage-nya ga semualah.
#Juli#
Hal ketiga membuat kartu perpustakaan. Aku buat kartu di Boston dan juga di Cambridge. Perpustakaan disini sangat sangat nyaman. Bukan sekedar bisa minjam buku, vcd, dvd gratis, tapi juga bisa mendapatkan free pass masuk museum2 di Boston dan kebun binatang.
Berikutnya aku mengurus kartu kesehatan ke Cambridge Hospital. Aku tidak punya asuransi Harvard (alasan klise, kemahalan), jadi hanya punya asuransi standar yang murah. Enaknya disini, kesejahteraan bagi orang2 tak berpenghasilan cukup okeh. Karena status Ari adalah mahasiswa yang tidak berpenghasilan, maka aku eligible mendapat kartu kesehatan untuk digunakan di Cambridge Hospital dan klinik2nya. Tapi memang coverage-nya ga semualah.
#Juli#
Saturday, November 20, 2004
Kennedy School of Government Building
Suatu pagi yang ternyata sudah siang, aku jalan2 di pinggir sungai menuju kampus Ari. Sebenarnya ada banyak jalan menuju kampus Ari. Tapi yang paling gampang ya menyusuri sungai. Aku tiba dengan selamat. Kurang lebih 20 menit lamanya. Ehm, capek juga. Kampus Ari rupanya bukan gedung2 kuno seperti yang ada di gambar2. Yang kuno itu ya kampus utamanya. Gedung KSG terpisah dari kampus utama. Harvard Business School bahkan ada di Boston bukan di Cambridge walaupun sekedar sebarang sungai saja.
Karena sekolah Ari relatif baru, jadi gedungnya juga model baru. Dari luar tampak plain saja, gedung yang berwarna merah bata dan abu2. Setelah masuk, memang biasa2 saja tidak kelihatan besar, high-tech atau mewah. Malah seperti kantor. Tapi kalau diperhatikan bangunannya unik juga. Sebenarnya ada 3 gedung dengan nama berbeda, tapi ternyata jadi satu. Maksudnya supaya kalau musim dingin kita tidak perlu bersusah payah pindah gedung dan kedinginan. Jadi tak usah bongkar pasang jaket gitu. Selain itu ada 1 gedung lagi yang terpisah. Aula utamanya juga unik banget. Kelihatannya kecil, tapi kalau diperhatikan, tiap lantai (sampai lantai 4) sengaja dibuat memutari aula tersebut. Jadi kalau ada acara, bukan hanya orang dibawah di aula tersebut yang bisa hadir, tapi banyak orang yang bisa duduk di sekeliling di tiap lantai. Jadi seperti nonton opera.
Kalau tidak digunakan untuk seminar/debat, aula tersebut jadi kantin. Pokoknya semua tampak fungsional dan praktis. Kantinnya bisa dibilang mungil. Sodexo namanya. Isinya ada pizza, soup, sandwich, salad, burger, fruit platter, cookies, nuts, yoghurt, sushi, dan minuman2 standar. And I love that creamy broccoli soup! Kalau ada acara2 di kampus, ya semuanya pakai katering ini.
Di bagian yang mengarah ke sungai Charles, ada taman namanya JFK Park. Lumayan tenang loh padahal dikelilingi jalan Memorial dan jalan JFK yang ramai kendaraan. Jadi kalau lagi mau merenung boleh juga.
Simple and enough!
Juli
Karena sekolah Ari relatif baru, jadi gedungnya juga model baru. Dari luar tampak plain saja, gedung yang berwarna merah bata dan abu2. Setelah masuk, memang biasa2 saja tidak kelihatan besar, high-tech atau mewah. Malah seperti kantor. Tapi kalau diperhatikan bangunannya unik juga. Sebenarnya ada 3 gedung dengan nama berbeda, tapi ternyata jadi satu. Maksudnya supaya kalau musim dingin kita tidak perlu bersusah payah pindah gedung dan kedinginan. Jadi tak usah bongkar pasang jaket gitu. Selain itu ada 1 gedung lagi yang terpisah. Aula utamanya juga unik banget. Kelihatannya kecil, tapi kalau diperhatikan, tiap lantai (sampai lantai 4) sengaja dibuat memutari aula tersebut. Jadi kalau ada acara, bukan hanya orang dibawah di aula tersebut yang bisa hadir, tapi banyak orang yang bisa duduk di sekeliling di tiap lantai. Jadi seperti nonton opera.
Kalau tidak digunakan untuk seminar/debat, aula tersebut jadi kantin. Pokoknya semua tampak fungsional dan praktis. Kantinnya bisa dibilang mungil. Sodexo namanya. Isinya ada pizza, soup, sandwich, salad, burger, fruit platter, cookies, nuts, yoghurt, sushi, dan minuman2 standar. And I love that creamy broccoli soup! Kalau ada acara2 di kampus, ya semuanya pakai katering ini.
Di bagian yang mengarah ke sungai Charles, ada taman namanya JFK Park. Lumayan tenang loh padahal dikelilingi jalan Memorial dan jalan JFK yang ramai kendaraan. Jadi kalau lagi mau merenung boleh juga.
Simple and enough!
Juli
Thursday, November 18, 2004
Settling down
Jet lag itu benar2 kejam. Siang bagai malam dan malam bagai siang. Aku tidak bisa tidur di malam hari. Baru bisa menutup mata jam 3 atau 4. Alhasil bangun tidur jam 12 siang! Ya ampun seumur-umur belum pernah sesiang itu. Tidurnya padahal sudah cukup lama, tapi badan tidak enak. Apalagi harus langsung berhadapan dengan cuaca musim gugur yang berangin. Mata dibelai2 terus jadi maunya bobo aja. Kurang lebih ada 2 minggu aku jet lag. Lama banget ya? Kata Ari, dia tidak begitu waktu sampai di Florida (ada acara dulu disana dengan Fulbright sebelum ke Cambridge). Sebab Ari langsung punya aktivitas yang padat. Sampai di Cambridge Ari juga harus math camp. Jadi dipaksa untuk cepat menyesuaikan diri dengan waktu. Sementara aku kan tidak punya komitmen apa-apa. Jadinya ya gitu, malasnya dibawa terus selama 2 minggu. Kalau kata Markus iparku, biasanya jet lag itu lamanya begini: tiap 1 jam beda waktu sama dengan 1 hari jetlag. Jadi karena Jakarta bedanya 12 jam dengan Cambridge, maka aku bisa jetlag sampai 12 hari. Ehm, makanya aku error selama 2 minggu.
Oya, hari pertamaku (sesudah tidur nyenyak di ranjang kecil tapi empuk) berjalan-jalan keliling Harvard Square bersama Ari. Ari kan jago jadi tour guide. Aku ditunjukin semua sisi kampus tua Harvard. Dari Johnston Gate sampai Memorial Hall. Ehm jauh juga loh. Biarpun mata seperti Garfield, tapi tetap berfoto-foto. Lalu aku dapat es krim Ben & Jerry. Sebenarnya males banget makan es krim di musim gugur yang dingin juga ini. Tapi aku kalap lihat es krim yang macam2 gitu modelnya. Agak malam-an Ari mengajak aku naik bis No. 1 menuju Central Square. Ari mau kasitahu aku supermarket Shaws.
Lantas apa yang kulakukan di minggu2 awal? Sebelumnya aku tidak punya rencana harus ini itu. Yang jelas karena aku statusnya J2, maka aku ingin cari kerja. Saat aku tiba, Ari sudah sibuk kuliah, jadi tidak bisa nemenin Miss Jetlag ini terus kan. Tinggallah aku bersama peta. Yang jelas aku harus belajar area sekitar Harvard dulu. Dari petanya sih kelihatannya gampang juga. Selanjutnya aku berusaha jalan2 sendiri di sekitar Harvard. Patokannya kalau nyasar ya kudu nemuin sungai, pasti bisa deh balik ke apartment. Hehe…
Selanjutnya aku kalap dengan internet. Bayangkan, di Jakarta aku harus irit2 pakai dial up yang mahal tapi lamban. Disini hurah, tidak bayar dan 24 hours! Jadinya aku kerajingan surfing cari kerja atau kegiatan. Jadilah kerjaanku beres2 rumah (dengan malas2an), masak dan surfing tentunya!
Juli
Oya, hari pertamaku (sesudah tidur nyenyak di ranjang kecil tapi empuk) berjalan-jalan keliling Harvard Square bersama Ari. Ari kan jago jadi tour guide. Aku ditunjukin semua sisi kampus tua Harvard. Dari Johnston Gate sampai Memorial Hall. Ehm jauh juga loh. Biarpun mata seperti Garfield, tapi tetap berfoto-foto. Lalu aku dapat es krim Ben & Jerry. Sebenarnya males banget makan es krim di musim gugur yang dingin juga ini. Tapi aku kalap lihat es krim yang macam2 gitu modelnya. Agak malam-an Ari mengajak aku naik bis No. 1 menuju Central Square. Ari mau kasitahu aku supermarket Shaws.
Lantas apa yang kulakukan di minggu2 awal? Sebelumnya aku tidak punya rencana harus ini itu. Yang jelas karena aku statusnya J2, maka aku ingin cari kerja. Saat aku tiba, Ari sudah sibuk kuliah, jadi tidak bisa nemenin Miss Jetlag ini terus kan. Tinggallah aku bersama peta. Yang jelas aku harus belajar area sekitar Harvard dulu. Dari petanya sih kelihatannya gampang juga. Selanjutnya aku berusaha jalan2 sendiri di sekitar Harvard. Patokannya kalau nyasar ya kudu nemuin sungai, pasti bisa deh balik ke apartment. Hehe…
Selanjutnya aku kalap dengan internet. Bayangkan, di Jakarta aku harus irit2 pakai dial up yang mahal tapi lamban. Disini hurah, tidak bayar dan 24 hours! Jadinya aku kerajingan surfing cari kerja atau kegiatan. Jadilah kerjaanku beres2 rumah (dengan malas2an), masak dan surfing tentunya!
Juli
Wednesday, November 10, 2004
Our Apartment, 2 Peabody Terrace #511
Musim gugur 2004, Boston & Cambridge MA. Ehm, cukup tenang tidak seperti hingar bingar pagi Jakarta. Pemandangan kurang terang, sedikit gloomy tapi lembut. Kurang konsentrasi melihat-lihat pemandangan karena tentunya Ari, Grace dan aku ngobrol. Rasa capek ko belum terasa. Yang ada begah banget ingin mandi. Soalnya hampir 2 hari tidak mandi.
Ternyata area Cambridge tempat tinggal kita cuma sepelemparan batu dari Boston. Tinggal sebrang sungai Charles saja. Apartment kita Peabody Terrace persis di pinggir sungai. Tapi apartment dan sungainya dipisahkan oleh jalan Memorial Drive. Tampaknya bakal menjadi tempat tinggal yang home sweet home. Semoga!
Sebelumnya sudah sedikit terbayang gedung apartment-nya. Soalnya sudah lihat gambar dari brosur waktu Ari diterima. Agak terkaget2 gitu tahu harganya. Maklum dari negera berkembang. Hehe… Habis sewa apartment 1 kamar sebulannya bisa buat sewa kos2an bagus selama setahun di Jakarta. Tapi kita cari amannya saja. Soalnya Peabody Terrace adalah apartment yang masuk bloknya Kennedy School. Maksudnya sudah ada jatah untuk mahasiswa KSG. Kalau mau apartment Harvard yang lain harus lottery dan saingannya seluruh mahasiswa baru Harvard yang banyak banget kan. Lagian harga apartment nya ya rata2 seperti itu. Kita belum berani cari apartment di luar Harvard. Takutnya ada masalah dengan owner dll. Kalau apartment kampus kan biasanya terima beres, artinya listrik, pemanas, perawatan, internet sudah diurusi.
Dari luar tampak oke dengan dominasi warna hijau, marun dan putih. Karena Ari tinggal duluan, Ari sudah cerita soal kekurangan apartment kita yang mahal ini. Kita tinggal di lantai 5 dengan lift yang hanya ada 2. Suatu ketika, kata Ari, pernah lift-nya macet. Padahal yang paling tinggi ada lantai 26. Bayangkan, turun tangga segitu banyak. Masih untung Ari di lantai 5. Belum lagi Ari cerita betapa minimnya lampu yang ada di dalam apartment.
Oya, lift tidak berhenti di setiap lantai (ada kaitan dengan harga tentunya!). lift berhenti di lantai 4 dan 6, tapi tidak di 5. Jadi koperku yang gendut2 itu harus digotong. Pekerjaan yang lumayan ya. Kalau tidak mengerti konsep arsitekturnya pasti bawaannya mau nyela apartment ini. Soalnya temboknya seperti tidak mulus ada yang bolong2, sengaja diperlihatkan seperti model di pabrik2 gitu. Katanya, gedung ini memang dibangun tahun 70-an dengan konsep industrial.
Ketika masuk, ya ampun memang kecil apartment ini. Sebenarnya sih sudah tahu, tapi ketika berhadapan sendiri tetap saja kaget. Masuk pintu berwarna hijau, disambut tempat sepatu dan kiri dikit pintu toilet. Kiri banget dapur yang jadi satu dengan ruang tv dan sebelah kanan kamar tidur. Itu thok. Oiya, ada balkon yang dipisahkan dari ruang tv dengan pintu kaca. Secara peraturan gedung, balkon itu sebenarnya jadi jalan darurat. Dipisahkan dari tetangga dengan connecting door dan kita tidak boleh meletakkan barang disana karena bisa menghalangi jalan. Tapi pada praktiknya banyak juga yang nakal. Ada yang meletakkan kursi malas, sepeda, jemuran etc. Kalau Ari meletakkan kardus2 bekas disitu.
Apartment-nya juga agak berantakan walaupun Ari sudah berusaha keras merapikannya. Hehe… Furnitur/perlengkapan yang sudah disediakan apartment yaitu kompor listrik plus oven, kulkas, banyak lemari di ruang tv, lemari baju serta meja belajar kecil di kamar tepat di jendela. Ehm posisi yang lumayan enak, bisa melamun kalau lagi di depan laptop. Barang2 yang sudah Ari beli ada tempat tidur, lampu, kursi kecil, meja dan rak pendek buat telepon. Jadi kamarnya sudah cukup nyaman. Tapi ruang tv kurang nih. Soalnya baru ada lampu, lemari buku, meja, kursi dan lampu belajar, 1 kursi duduk, rak tv dan microwave. Oya tentu beserta peralatan dapur dari panci, baskom, sodet, pisau, piring, gelas, talenan, sendok garpu, lap, tempat sampah, blender, coffee maker, rice cooker etc dan perlengkapan kamar mandi. Ternyata Ari pintar deh, beli pritil2nya lengkap juga. Nah kurang nyaman karena kurang satu hal, belum ada sofa buat nonton tv. Masa duduk di lantai atau di kursi kayu yang tidak empuk.
Anyway, glad to be here. Ketemu suamiku tersayang is most wanted!
Juli
Ternyata area Cambridge tempat tinggal kita cuma sepelemparan batu dari Boston. Tinggal sebrang sungai Charles saja. Apartment kita Peabody Terrace persis di pinggir sungai. Tapi apartment dan sungainya dipisahkan oleh jalan Memorial Drive. Tampaknya bakal menjadi tempat tinggal yang home sweet home. Semoga!
Sebelumnya sudah sedikit terbayang gedung apartment-nya. Soalnya sudah lihat gambar dari brosur waktu Ari diterima. Agak terkaget2 gitu tahu harganya. Maklum dari negera berkembang. Hehe… Habis sewa apartment 1 kamar sebulannya bisa buat sewa kos2an bagus selama setahun di Jakarta. Tapi kita cari amannya saja. Soalnya Peabody Terrace adalah apartment yang masuk bloknya Kennedy School. Maksudnya sudah ada jatah untuk mahasiswa KSG. Kalau mau apartment Harvard yang lain harus lottery dan saingannya seluruh mahasiswa baru Harvard yang banyak banget kan. Lagian harga apartment nya ya rata2 seperti itu. Kita belum berani cari apartment di luar Harvard. Takutnya ada masalah dengan owner dll. Kalau apartment kampus kan biasanya terima beres, artinya listrik, pemanas, perawatan, internet sudah diurusi.
Dari luar tampak oke dengan dominasi warna hijau, marun dan putih. Karena Ari tinggal duluan, Ari sudah cerita soal kekurangan apartment kita yang mahal ini. Kita tinggal di lantai 5 dengan lift yang hanya ada 2. Suatu ketika, kata Ari, pernah lift-nya macet. Padahal yang paling tinggi ada lantai 26. Bayangkan, turun tangga segitu banyak. Masih untung Ari di lantai 5. Belum lagi Ari cerita betapa minimnya lampu yang ada di dalam apartment.
Oya, lift tidak berhenti di setiap lantai (ada kaitan dengan harga tentunya!). lift berhenti di lantai 4 dan 6, tapi tidak di 5. Jadi koperku yang gendut2 itu harus digotong. Pekerjaan yang lumayan ya. Kalau tidak mengerti konsep arsitekturnya pasti bawaannya mau nyela apartment ini. Soalnya temboknya seperti tidak mulus ada yang bolong2, sengaja diperlihatkan seperti model di pabrik2 gitu. Katanya, gedung ini memang dibangun tahun 70-an dengan konsep industrial.
Ketika masuk, ya ampun memang kecil apartment ini. Sebenarnya sih sudah tahu, tapi ketika berhadapan sendiri tetap saja kaget. Masuk pintu berwarna hijau, disambut tempat sepatu dan kiri dikit pintu toilet. Kiri banget dapur yang jadi satu dengan ruang tv dan sebelah kanan kamar tidur. Itu thok. Oiya, ada balkon yang dipisahkan dari ruang tv dengan pintu kaca. Secara peraturan gedung, balkon itu sebenarnya jadi jalan darurat. Dipisahkan dari tetangga dengan connecting door dan kita tidak boleh meletakkan barang disana karena bisa menghalangi jalan. Tapi pada praktiknya banyak juga yang nakal. Ada yang meletakkan kursi malas, sepeda, jemuran etc. Kalau Ari meletakkan kardus2 bekas disitu.
Apartment-nya juga agak berantakan walaupun Ari sudah berusaha keras merapikannya. Hehe… Furnitur/perlengkapan yang sudah disediakan apartment yaitu kompor listrik plus oven, kulkas, banyak lemari di ruang tv, lemari baju serta meja belajar kecil di kamar tepat di jendela. Ehm posisi yang lumayan enak, bisa melamun kalau lagi di depan laptop. Barang2 yang sudah Ari beli ada tempat tidur, lampu, kursi kecil, meja dan rak pendek buat telepon. Jadi kamarnya sudah cukup nyaman. Tapi ruang tv kurang nih. Soalnya baru ada lampu, lemari buku, meja, kursi dan lampu belajar, 1 kursi duduk, rak tv dan microwave. Oya tentu beserta peralatan dapur dari panci, baskom, sodet, pisau, piring, gelas, talenan, sendok garpu, lap, tempat sampah, blender, coffee maker, rice cooker etc dan perlengkapan kamar mandi. Ternyata Ari pintar deh, beli pritil2nya lengkap juga. Nah kurang nyaman karena kurang satu hal, belum ada sofa buat nonton tv. Masa duduk di lantai atau di kursi kayu yang tidak empuk.
Anyway, glad to be here. Ketemu suamiku tersayang is most wanted!
Juli
Sunday, November 07, 2004
Ari and Cambridge, here I come!
Logan International Airport di pagi hari tanggal 5 November 2004. Lelah sekali setelah perjalanan sepanjang jalan tiada henti tiada ujung. Tati ga punya problem dengan tidur. Kalau aku susah tidur dengan posisi duduk begini. Biarpun sudah ikuti cara Tati, tetap saja uring-uringan. Mau tahu cara Tati? Minum wine secukupnya (atau sebanyak-banyaknya, hehe), tunggulah beberapa saat lagi anda akan tertidur pulas.
Anyway, it was tiring but fun. With Tati by my side. Kita baru kenal sejak urusan amerika2 ini, tapi cepat banget akrabnya. Dari Tati aku dapat ilmu spontanitas dan mostly enjoy the life and food to the fullest! Hehe… kalau kata Tati sih, dia belajar lebih organize dari aku. Pokoknya Tati banyak nurut deh sama apa kataku. Bahkan kadang lebih nurut sama aku daripada sama suaminya. Haha….
China Airlines was not so bad. Makanannya enak-enak aja tuh. Pramugarinya juga baik-baik. Tapi ya itu, banyak transitnya yang bikin capek. Ada untungnya juga sih, bisa olahraga jalan-jalan di airport. Bisa ngaso-ngaso di toilet yang jelas jauh lebih besar dari toilet pesawat.
Los Angeles International Airport adalah tempat perpisahan aku dengan Tati. Sedih tentunya. Karena kami ga tau kapan bertemu lagi. Mungkin di sebuah liburan yang menyenangkan. Tugas berat menanti (beneran berat!) soalnya kita harus ngangkat koper kita yang segede-gedenya itu keluar dari terminal internasional menuju domestik. Untung berdua, jadi saling bisa bawain. Sudah gitu banyak anjing herder lagi cium-cium. Huuu takut. Tapi ternyata ya di Amerika ada porter juga ya. Aku pikir cuma di Indonesia aja.Bye-bye Tati, have a pleasant flight to NYC and meet your silly Sahalio! Miss you.
Sekarang saatnya naik penerbangan domestik US. Aku naik Delta Airlines menuju Boston. Deg-degan gitu deh. Soalnya bawaanku yang masuk kabin juga berat. Pokonya ga mau rugi, semua kg harus tercapai sampai sekoma-komanya. Untungnya karena bule-bule suka dibilang gentlemen, jadi koper aku yang kecil tapi berat itu diangkut oleh si bule. Lagian tinggi juga ya, kayaknya lebih tinggi dari pesawat Indonesia. Hawa domestik terasa sudah. Dengan pramugari berumur yang tegas-tegas, aku cuma dapet air mineral sama pretzel (yang ga enak itu).
Deg-degan nya juga karena mau bertemu Ari. Halah….hehe… iya bener, soalnya sudah hamper 3 bulan tidak ketemu. Jadi kangen dan ga tau mau bilang apa. Come on, kayak orang baru pacaran aja. Begitulah….
Ketika sampai, aku takut juga kalau Ari belum jemput. Soalnya nih, aku bingung itu koper gede2 mau dikemanain kalau ga ada yang bantuin. Logan International Airport. Jauh lebih kecil dan senyap dibanding LAX. Iyalah, kan aku tiba pagi-pagi gitu. Eh ternyata tidak perlu bingung dan takut, ternyata Ari sudah ada di depan mata, siap bawa trolley segala. Hehe…. Bagus deh soalnya aku kan tidak punya koin US. Ari jemput aku sama Grace. Grace ini teman SMP & SMA Sanur. Jadi advisorku sebelum berangkat. Tempat aku bertanya-tanya tentang bagaimana cuaca disana dan apa yang harus kubawa. Grace baik banget deh pokonya. Thank you Grace!
Juli
Anyway, it was tiring but fun. With Tati by my side. Kita baru kenal sejak urusan amerika2 ini, tapi cepat banget akrabnya. Dari Tati aku dapat ilmu spontanitas dan mostly enjoy the life and food to the fullest! Hehe… kalau kata Tati sih, dia belajar lebih organize dari aku. Pokoknya Tati banyak nurut deh sama apa kataku. Bahkan kadang lebih nurut sama aku daripada sama suaminya. Haha….
China Airlines was not so bad. Makanannya enak-enak aja tuh. Pramugarinya juga baik-baik. Tapi ya itu, banyak transitnya yang bikin capek. Ada untungnya juga sih, bisa olahraga jalan-jalan di airport. Bisa ngaso-ngaso di toilet yang jelas jauh lebih besar dari toilet pesawat.
Los Angeles International Airport adalah tempat perpisahan aku dengan Tati. Sedih tentunya. Karena kami ga tau kapan bertemu lagi. Mungkin di sebuah liburan yang menyenangkan. Tugas berat menanti (beneran berat!) soalnya kita harus ngangkat koper kita yang segede-gedenya itu keluar dari terminal internasional menuju domestik. Untung berdua, jadi saling bisa bawain. Sudah gitu banyak anjing herder lagi cium-cium. Huuu takut. Tapi ternyata ya di Amerika ada porter juga ya. Aku pikir cuma di Indonesia aja.Bye-bye Tati, have a pleasant flight to NYC and meet your silly Sahalio! Miss you.
Sekarang saatnya naik penerbangan domestik US. Aku naik Delta Airlines menuju Boston. Deg-degan gitu deh. Soalnya bawaanku yang masuk kabin juga berat. Pokonya ga mau rugi, semua kg harus tercapai sampai sekoma-komanya. Untungnya karena bule-bule suka dibilang gentlemen, jadi koper aku yang kecil tapi berat itu diangkut oleh si bule. Lagian tinggi juga ya, kayaknya lebih tinggi dari pesawat Indonesia. Hawa domestik terasa sudah. Dengan pramugari berumur yang tegas-tegas, aku cuma dapet air mineral sama pretzel (yang ga enak itu).
Deg-degan nya juga karena mau bertemu Ari. Halah….hehe… iya bener, soalnya sudah hamper 3 bulan tidak ketemu. Jadi kangen dan ga tau mau bilang apa. Come on, kayak orang baru pacaran aja. Begitulah….
Ketika sampai, aku takut juga kalau Ari belum jemput. Soalnya nih, aku bingung itu koper gede2 mau dikemanain kalau ga ada yang bantuin. Logan International Airport. Jauh lebih kecil dan senyap dibanding LAX. Iyalah, kan aku tiba pagi-pagi gitu. Eh ternyata tidak perlu bingung dan takut, ternyata Ari sudah ada di depan mata, siap bawa trolley segala. Hehe…. Bagus deh soalnya aku kan tidak punya koin US. Ari jemput aku sama Grace. Grace ini teman SMP & SMA Sanur. Jadi advisorku sebelum berangkat. Tempat aku bertanya-tanya tentang bagaimana cuaca disana dan apa yang harus kubawa. Grace baik banget deh pokonya. Thank you Grace!
Juli
Monday, October 18, 2004
Make a list, please. (The journey starts)
5 November 2004. Adalah hari keberangkatanku ke Cambridge, USA. Hari yang aku nantikan dengan beragam perasaan. Dinantikan sekali, senang banget, tapi juga takut. Hidupku di pertengahan 2004 bagai rollercoaster. Aku masih harus menyelesaikan tugas akhir kuliah paskasarjana di bulan Agustus dan harus lulus. Kalau tidak bagaimana aku bisa tenang menyusul Ari ke USA. Jalan menuju lulus berliku juga. Setelah gonta ganti topik dan akhirnya menemukan topik yang pas, ternyata masih banyak kesulitan yang datang. Ehm cukup diingat jadi nostalgia saja, jangan sampai terulang. Well, pada akhirnya aku memang bisa menyelesaikannya dengan nilai baik dan diwisuda di bulan September (tanpa suami yang hadir mendampingi, hik hik…).
Lalu bagaimana dengan persiapan keberangkatan? Saking girangnya karena akan tinggal di tempat baru, malah jadi bingung apa saja yang harus dipersiapkan. Ok ok, make a list, please! Pertama, yang jelas penting adalah urusan dokumen-dokumen untuk mendapatkan visa. Beruntung sekali, sebagai istri penerima Fulbright Scholarship, aku masih dibantu dalam proses mendapatkan visa. Yang juga membuat aku senang, aku tidak sendirian dalam penerbangan yang hampir 30 jam. Aku berangkat bersama Tati. Sahal suami Tati juga sudah ada di New York City sejak Agustus.
Sempat ada panic attack karena dokumen penting untuk visa yang dikirim Ari tidak sampai-sampai juga. Mengutuklah aku pada PT Pos. Sampai-sampai Ari harus mengirim lagi via ekspres. Selanjutnya mengisi dokumen untuk visa harus teliti dan berulang-ulang diperiksa. Membuat foto untuk visa juga harus tepat, jangan sampai harus difoto ulang. Selain itu harus mempersiapkan diri untuk wawancara di kedutaan, seperti menebak-nebak apa isi wawancaranya. Aku belum pernah ke USA dan terlalu banyak cerita-cerita sedih susahnya dapat visa bukan...
Hal kedua adalah urusan mencari tiket. Nah yang ini seperti berburu hantu. Musti rajin telpon berbagai biro travel, musti bawel tanya berbagai airline dan berbagai alternatif tanggal, musti siap line teleponnya disambung sana sini, musti sabar menghadapi mbak atau mas yang kurang ramah. Ya, semua demi mendapatkan tiket murah tentunya. Ketika akhirnya ditemukan tiket yang paling murah, ternyata ada hal lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Masalah keribetan membayar dalam US dollar. Ampun ampun negeriku penyembah dollar licin. Uang dollar yang aku punya hampir sebagian besar ditolak karena inilah dan itulah. Setelah tukar sana sini lewat nepotisme, akhirnya kugenggam juga tiket one way, destination Logan Airport Boston, dengan itinerary yang panjang banget karena stop sana stop sini.
Rencananya kami akan tinggal di Cambridge hingga pertengahan 2006. Jangka waktu 2 tahun bisa dibilang singkat, bisa panjang juga. Jadi hal ketiga yang harus dipikirkan adalah mengurusi banyak hal menyangkut properti. Tidak banyak sih (apalagi semakin berkurang karena dipakai untuk tambahan biaya di USA), tapi biar bagaimanapun juga harus diurus kan. Rumah yang kami tempati adalah pinjaman dari orang tua. Barang-barangnya seperti furnitur, elektronik dll sudah banyak. Kami tidak bisa membuang atau menjualnya begitu saja, karena 2 tahun lagi kami akan balik dan membutuhkan barang-barang tersebut kembali. Jadi aku berusaha mencari orang yang mau mengisi rumahku, beserta isinya. Walaupun kami meninggalkan rumah beserta isinya, tapi tetap saja banyak barang pribadi yang harus dibereskan dan dititipkan di rumah orang tua. Kalau begini, baru sadar deh bahwa ternyata barang kita banyak banget. Padahal rumahnya kecil mungil! Lah tapi jadinya juga ada kesempatan mengumpulkan barang-barang yang ternyata sudah tidak kita butuhkan tapi masih bisa disalurkan untuk orang lain yang memerlukannya. Urusan rumah ini agak tricky juga. Setelah dapat penyewa, aku harus membuat daftar-daftar seperti misalnya cara pakai mesin cuci, tanggal-tanggal bayar tagihan macam-macam, mengenalkan si penyewa dengan tetangga dekat dan ketua RT. Pritil-pritil tapi jangan sampai kelupaan daripada ada masalah di kemudian hari.
Selanjutnya properti sektor perbankan. Hayo diselesaikan supaya efisien. Masing-masing dari kami memiliki lebih dari satu bank tabungan. Oleh karena itu kami harus menutup atau menguras isinya supaya masing-masing punya 1 tabungan saja. Tabungan tersebut akan dititipkan ke orang tua aku maupun Ari. Sebab bagaimanapun juga ada transaksi-transaksi yang terjadi selama kami tidak di Jakarta. Seperti misalnya pembayaran asuransi, pemasukan honor Ari menulis di koran atau hal-hal insidentil seperti angpaw pernikahan dan uang duka.
Selanjutnya hal keempat adalah urusan putus memutus langganan. Telepon seluler, internet, koran majalah, fitness centre. Telepon genggamnya perlu dijual atau dikasih saja ke saudara atau sekalian dibawa ke US nih?
Lalu lalu sekarang pikirkan apa yang akan aku bawa ke USA? Nah untuk hal yang kelima ini perlu tanya banyak orang supaya tidak kecele. Yang bisa jadi sumber berita adalah orang yang benar-benar pernah atau tinggal di daerah yang kita tuju. Urusan pakaian dan perlengkapannya tentu jadi penting di negara 4 musim. Tapi seberapa perlu beli ini itu, maka tanyalah pada yang lebih tahu. Kalau punya banyak uang sih, ga perlu repot mikir.
Pergi meninggalkan kota Jakarta yang kutinggali selama kurang lebih 27 tahun (2 tahun pertama hidupku di Jayapura) membuat aku senang sekali. Akhirnya oh akhirnya aku bisa juga pergi untuk waktu yang lama menghindari kemacetan dan kejahatan polusi Jakarta. Tapi biar bagaimanapun juga jeleknya Jakarta, tapi aku punya banyak teman dan keluarga disini. Friends and family are priceless, isn’t it? Jadi hal keenam yang harus diingat adalah pamit sana sini. Dengan grup ini grup itu. Mengatur jadwal supaya semua pada bisa. Makan-makan terus deh. Aku sangat suka bagian ini (bukan makan-makannya maksudnya, tapi acara pamitannya itu). Menjaga tali kebersamaan penting, sehingga walau kita sibuk urus sana sini harus ingat acara pamitan.
Hi Ari @ Cambridge, I’ll be there soon!
Juli
Lalu bagaimana dengan persiapan keberangkatan? Saking girangnya karena akan tinggal di tempat baru, malah jadi bingung apa saja yang harus dipersiapkan. Ok ok, make a list, please! Pertama, yang jelas penting adalah urusan dokumen-dokumen untuk mendapatkan visa. Beruntung sekali, sebagai istri penerima Fulbright Scholarship, aku masih dibantu dalam proses mendapatkan visa. Yang juga membuat aku senang, aku tidak sendirian dalam penerbangan yang hampir 30 jam. Aku berangkat bersama Tati. Sahal suami Tati juga sudah ada di New York City sejak Agustus.
Sempat ada panic attack karena dokumen penting untuk visa yang dikirim Ari tidak sampai-sampai juga. Mengutuklah aku pada PT Pos. Sampai-sampai Ari harus mengirim lagi via ekspres. Selanjutnya mengisi dokumen untuk visa harus teliti dan berulang-ulang diperiksa. Membuat foto untuk visa juga harus tepat, jangan sampai harus difoto ulang. Selain itu harus mempersiapkan diri untuk wawancara di kedutaan, seperti menebak-nebak apa isi wawancaranya. Aku belum pernah ke USA dan terlalu banyak cerita-cerita sedih susahnya dapat visa bukan...
Hal kedua adalah urusan mencari tiket. Nah yang ini seperti berburu hantu. Musti rajin telpon berbagai biro travel, musti bawel tanya berbagai airline dan berbagai alternatif tanggal, musti siap line teleponnya disambung sana sini, musti sabar menghadapi mbak atau mas yang kurang ramah. Ya, semua demi mendapatkan tiket murah tentunya. Ketika akhirnya ditemukan tiket yang paling murah, ternyata ada hal lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Masalah keribetan membayar dalam US dollar. Ampun ampun negeriku penyembah dollar licin. Uang dollar yang aku punya hampir sebagian besar ditolak karena inilah dan itulah. Setelah tukar sana sini lewat nepotisme, akhirnya kugenggam juga tiket one way, destination Logan Airport Boston, dengan itinerary yang panjang banget karena stop sana stop sini.
Rencananya kami akan tinggal di Cambridge hingga pertengahan 2006. Jangka waktu 2 tahun bisa dibilang singkat, bisa panjang juga. Jadi hal ketiga yang harus dipikirkan adalah mengurusi banyak hal menyangkut properti. Tidak banyak sih (apalagi semakin berkurang karena dipakai untuk tambahan biaya di USA), tapi biar bagaimanapun juga harus diurus kan. Rumah yang kami tempati adalah pinjaman dari orang tua. Barang-barangnya seperti furnitur, elektronik dll sudah banyak. Kami tidak bisa membuang atau menjualnya begitu saja, karena 2 tahun lagi kami akan balik dan membutuhkan barang-barang tersebut kembali. Jadi aku berusaha mencari orang yang mau mengisi rumahku, beserta isinya. Walaupun kami meninggalkan rumah beserta isinya, tapi tetap saja banyak barang pribadi yang harus dibereskan dan dititipkan di rumah orang tua. Kalau begini, baru sadar deh bahwa ternyata barang kita banyak banget. Padahal rumahnya kecil mungil! Lah tapi jadinya juga ada kesempatan mengumpulkan barang-barang yang ternyata sudah tidak kita butuhkan tapi masih bisa disalurkan untuk orang lain yang memerlukannya. Urusan rumah ini agak tricky juga. Setelah dapat penyewa, aku harus membuat daftar-daftar seperti misalnya cara pakai mesin cuci, tanggal-tanggal bayar tagihan macam-macam, mengenalkan si penyewa dengan tetangga dekat dan ketua RT. Pritil-pritil tapi jangan sampai kelupaan daripada ada masalah di kemudian hari.
Selanjutnya properti sektor perbankan. Hayo diselesaikan supaya efisien. Masing-masing dari kami memiliki lebih dari satu bank tabungan. Oleh karena itu kami harus menutup atau menguras isinya supaya masing-masing punya 1 tabungan saja. Tabungan tersebut akan dititipkan ke orang tua aku maupun Ari. Sebab bagaimanapun juga ada transaksi-transaksi yang terjadi selama kami tidak di Jakarta. Seperti misalnya pembayaran asuransi, pemasukan honor Ari menulis di koran atau hal-hal insidentil seperti angpaw pernikahan dan uang duka.
Selanjutnya hal keempat adalah urusan putus memutus langganan. Telepon seluler, internet, koran majalah, fitness centre. Telepon genggamnya perlu dijual atau dikasih saja ke saudara atau sekalian dibawa ke US nih?
Lalu lalu sekarang pikirkan apa yang akan aku bawa ke USA? Nah untuk hal yang kelima ini perlu tanya banyak orang supaya tidak kecele. Yang bisa jadi sumber berita adalah orang yang benar-benar pernah atau tinggal di daerah yang kita tuju. Urusan pakaian dan perlengkapannya tentu jadi penting di negara 4 musim. Tapi seberapa perlu beli ini itu, maka tanyalah pada yang lebih tahu. Kalau punya banyak uang sih, ga perlu repot mikir.
Pergi meninggalkan kota Jakarta yang kutinggali selama kurang lebih 27 tahun (2 tahun pertama hidupku di Jayapura) membuat aku senang sekali. Akhirnya oh akhirnya aku bisa juga pergi untuk waktu yang lama menghindari kemacetan dan kejahatan polusi Jakarta. Tapi biar bagaimanapun juga jeleknya Jakarta, tapi aku punya banyak teman dan keluarga disini. Friends and family are priceless, isn’t it? Jadi hal keenam yang harus diingat adalah pamit sana sini. Dengan grup ini grup itu. Mengatur jadwal supaya semua pada bisa. Makan-makan terus deh. Aku sangat suka bagian ini (bukan makan-makannya maksudnya, tapi acara pamitannya itu). Menjaga tali kebersamaan penting, sehingga walau kita sibuk urus sana sini harus ingat acara pamitan.
Hi Ari @ Cambridge, I’ll be there soon!
Juli
Friday, January 02, 2004
Monday, January 20, 2003
to be continued.....
Bongkarlah aku
jauh malam yang pekat menggetarkan
dengusanku mendesah sunyi
tatapanku menembus dinding
jangan sampai air mata darah yang jatuh
gemetarku sejuta lebah gemuk
melagukan nyanyian sumbang kepedihan
ada apa lagi hatiku?
kekasihku indah, kekasihku bunga
kekasihku takutku, kekasihku pedihku
satu malam bisa menjelma jutaan malam
jutaan malam bisa terburai satu malam
kekasihku, bongkarlah aku.
Jul
Jan 03
Sunday, July 07, 2002
A love odyssey 4

4. Dinding-dinding itu
Dinding-dinding itu
Yang kasat mata,
namun keberadaannya nyata
Satu hari nanti mungkin kita akan
menabrakkan diri
Namun genggaman tanganmu
Masih membuatku enggan untuk berlalu
Feb ’97
Tapi langkah mencari emas di ujung pelangi tidaklah ringan. Di hadapan kami ternyata ada sebuah dinding yang tebal. Entah siapa yang mendirikannya, yang jelas kami tak pernah merasa mendirikannya. Dan kami pun tak tahu kenapa dinding itu harus ada, dan untuk apa ia ada.
Pada mulanya, kami tak terlalu hirau akan keberadaannya. “Nantilah suatu saat kita pikirkan bagaimana cara memanjatnya. Sekarang ini, nikmatilah hari-hari yang kita miliki.” Tapi waktu terus bergulir. Dinding itu semakin dekat, semakin jelas. Dan semakin terlihat bahwa ia begitu kokoh.
Kutanya pada orang-orang yang lalu lalang, untuk apa dinding itu ada? Kenapa ia harus ada?
Tradisi. Iman. Kepercayaan. Itulah jawaban yang selalu kudapat. Tapi apakah iman dan kepercayaan dibuat untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai? Kalau begitu kenapa si pencipta menciptakan cinta dan dinding sekaligus? Apakah si pencipta memang suka bercanda? Ah, jawaban-jawaban itu tak pernah memuaskanku.
Tapi ada satu-dua yang berbisik padaku. Tidak, iman dan kepercayaan tidak dibuat untuk menghambat cintamu. Sayangnya suara mereka terlalu lemah, dan jumlah mereka terlalu sedikit. Meskipun bisikan itu tetap memberiku semangat dan keyakinan untuk terus melangkah.
Lalu beberapa mencoba memberikan jawaban yang (mereka anggap) lebih bijak. Katanya, dinding itu ada untuk melindungimu. Untuk menghindarkanmu dari masalah yang mungkin timbul kalau kau berjalan meniti pelangi. Kutanya, memang kenapa dengan berjalan meniti pelangi? Mereka jawab, karena pelangi punya terlalu banyak warna. Tak mudah berjalan di antara berbagai warna. Lebih baik kau berjalan dalam satu warna.
Aku tetap tak bisa menerima penjelasan mereka. Menurutku, setiap keputusan adalah risiko. Dan tidak mungkin kita mengeliminir risiko. Yang bisa kita lakukan adalah membangun keyakinan bahwa kita bisa mengatasinya. Sekarang berikanlah aku kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku mampu. (Tidak, tetap tidak bisa, kata mereka).
Lama-kelamaan aku pun menyadari bahwa apapun pendapatku, mereka tak akan mendengarkan. Karena masalahnya, bukan masalah apa yang akan timbul kalau AKU melalui dinding itu. Tapi masalah apa yang akan MEREKA dapatkan kalau mereka membiarkanku melewati dinding itu. Ternyata diriku, pikiranku, bukanlah semata-mata milikku. (Karena kita orang Timur, dan bagi orang Timur keluarga adalah segalanya…) (Dan salah satu konsekuensinya kita bukanlah lagi seorang individu yang memiliki kehendak bebas).
Tapi buatku, diriku adalah milik diriku. Dan masa depanku bersamanya adalah milik kami. Kutanya padanya, apakah kau siap untuk menabrakkan diri ke dinding itu? Dan ia pun menyatakan kesiapannya. Kami pun lalu mengatur langkah untuk itu.
(Sebuah yayasan pimpinan seorang tokoh yang sering diasosiasikan sebagai ‘Islam liberal’ membantu kami menunjukkan jalan. Baju dan barang-barang sudah mulai dimasukkan kopor. Akankah aku menulis kisah ‘anak durhaka’ abad 21?).
#ari
7 Juli 2002- kami menikah
Wednesday, July 03, 2002
A love odyssey 3
3. Hujan, Pelangi, dan Matahari
Kaukah itu
Yang membukakan saat pintumu kuketuk
Menyilakan masuk
hadir dalam ruang tamumu
Dan tak menghentikanku
Untuk memulai membicarakan awan
dan hujan dan matahari dan pelangi
Juga tak memintaku pulang
Walaupun hari telah larut?
Well, aku salahkan kau untuk itu!
Feb ‘97
Kehadirannya dalam kehidupanku membawa beragam perasaan (dan juga sebaliknya, yang belakangan ku sadari). Terkadang ada penyangkalan tentang apa yang ada di antara kami. Terkadang ada ketakutan untuk jujur terhadap diri sendiri. Tapi si ‘stupid cupid’ sudah menembakkan panahnya; ‘the crazy little thing called love’ datang tanpa tertahan. Mungkin kau bisa bohong pada semua orang, tapi tidak pada diri sendiri! Sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengalah pada perasaan.
Semenjak itu, hari-hari kami selalu diisi oleh diskusi mengenai hujan, pelangi dan matahari. Kukatakan padanya, aku mencintai hujan karena hujan membawa kesejukan. Tapi ia tidak. Katanya, hujan membawa kesenduan. Ia lebih suka pada matahari. Dan begitulah hari-hari kami terisi. Tapi satu hal, ia begitu mencintai pelangi. Masalahnya, ketika kukatakan bahwa tak mungkin ada pelangi tanpa ada hujan, ia selalu membantah dengan mengatakan, “mataharilah yang menjadikan pelangi!”
Dan ketika lelah berdebat tentang siapa yang lebih berperan dalam menjadikan pelangi, kami akhirnya berkhayal berjalan menyusuri pelangi, mencari pundi berisi emas di ujung pelangi…
#ari
Tuesday, July 02, 2002
A love odyssey 2
2. Awalnya, dan Selanjutnya…
Mungkin Plato benar bahwa cinta adalah bagian dari sebuah grand design. Karena ketika pertama aku menyadari kehadirannya di dunia ini (spesifiknya, di kampus Depok nun panas itu), aku sepertinya diingatkan akan sebuah konsep yang begitu indah dan luhur, ketika aku masih ada di alam ide, sebelum dipindahkan oleh si pencipta ke alam materi.
Samar-samar aku merasa bahwa sebelum menjalani kehidupan ini, aku sudah dipertemukan di alam ide oleh si pencipta dengannya. Dan samar-samar aku bisa mengingat bahwa si pencipta pernah menjanjikan bahwa satu masa di alam material, aku akan kembali dipertemukan dengannya, seperti halnya kami dipersatukan di alam ide.
Tapi mungkin juga Aristoteles yang benar. Sejak perjumpaan itu, sejak berbagai interaksi yang terjadi di antara kami, aku diperkenalkan oleh sebuah konsep, sebuah gagasan tentang hubungan antara dua manusia, yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gagasan itu terdiri dari berbagai faktor. Kebahagiaan saat aku bersamanya, kehilangan saat aku tidak bersamanya, ketakutan bahwa aku tidak bisa bersamanya, dan sebagainya.
Atau mungkin lebih tepat jika kukatakan, aku membangun sebuah gagasan yang belum pernah ada sebelumnya, setidaknya dalam diriku. Mungkin gagasan itulah yang dinamakan cinta. “But I know that love is just another word to say what I’m feeling…” (Europe).
Hari-hari selanjutnya, semuanya mengalir seperti sungai. Aku sudah tidak hirau lagi pada Plato atau Arisoteles. Pada cinta sebagai ide, atau cinta sebagai pengalaman empiris. Hingga aku kembali membuka buku filsafat itu dan menemukan chapter tentang Immanuel Kant. Katanya, jangan bergantung hanya pada rasio, atau hanya pada indra dan perasaan. Keduanya bisa menipumu. Ketika kau ragu pada keduanya, maka itulah saatnya kau menggunakan ‘kepercayaan’ (belief).
Dan aku pun percaya, aku memang telah jatuh cinta…
#ari
Monday, July 01, 2002
A love odyssey 1
1. Prolog
How do I know when it’s love? I can’t tell you but it lasts forever.
How does it feel when it’s love? It’s just something together… (van Halen)
Aku mencari di buku-buku filsafat, mengapa orang jatuh cinta dan mengapa orang harus jatuh cinta.
Ku buka chapter mengenai Plato. Kata Plato, di belakang semua yang terjadi di alam materi ini, ada sebuah ‘ide’. Ide itu milik siapapun yang menciptakan dunia dan isinya. Ide itulah yang menjadikan dunia seperti ini. Dan siapapun si pencipta itu, ia pasti menciptakan dunia beserta isinya dengan sebuah maksud. “Tuhan (nama bagi si pencipta menurut orang-orang beriman) tidak bermain dadu dengan alam semesta,” kata Einstein.
Fakta bahwa cinta adalah sesuatu yang eksis membawaku pada kesimpulan rasional: cinta ada karena si pencipta menghendaki manusia (ciptaannya) saling jatuh cinta. Cinta adalah konsekuensi logis (rasional) bagi manusia, karena cinta adalah bagian dari ‘grand design’ si pencipta atas ciptaannya. Maka manusia dan cinta, semua ada karena grand design tersebut. Dan karena tidak ada makhluk yang eksis selain karena dikehendaki, maka sekarang aku memproklamirkan, “I love, therefore I am… Aku mencintai, maka aku ada…!”
Tapi di chapter selanjutnya, Aristoteles mengatakan bahwa bukan rasionalitas yang membuat manusia sadar akan eksistensi cinta. Ia memang tidak menolak kalau dunia ini ada karena ide si pencipta. Tapi segera setelah manusia tercipta sebagai materi (fisik), manusia tidak lagi tahu apa sesungguhnya ide besar tersebut. Sebaliknya, kata Aristoteles, manusia mengonstruksi konsep-konsep, ide-ide atau gagasan mengenai dunia ini melalui indra dan perasaan (sense).
Demikian juga pendapatnya mengenai konsepsi atas cinta. Kata Aristoteles, cinta ada di antara manusia melalui pengalaman empiris. Baik secara fisik (melihat, menyentuh, mencium), maupun secara perasaan (membutuhkan, melindungi). Dari pengalaman empiris itulah manusia membangun gagasan mengenai cinta.
Mana yang benar jadinya? Tak tahulah. Seorang Platonis-rasionalistis akan mengatakan pada kekasihnya, “I knew I loved you before I met you..” (Savage Garden). Tapi seorang Arisotelian-empirisis akan mengatakan, “I’ve never known love until I met you…”
#ari
Subscribe to:
Posts (Atom)