
Lebaran pertama buat RaRa. Kita menginap di rumah Bintaro dari malam takbiran. Lebaran biasanya punya baju baru. Tapi RaRa tidak punya baju baru. Soalnya baju RaRa yang belum dipakai aja masih banyak (pemberian sana-sini).
A story of our odyssesy. Now the journey continues...

Lebaran pertama buat RaRa. Kita menginap di rumah Bintaro dari malam takbiran. Lebaran biasanya punya baju baru. Tapi RaRa tidak punya baju baru. Soalnya baju RaRa yang belum dipakai aja masih banyak (pemberian sana-sini).
Yang kedua, soal mandi/sampoan. RaRa mandi paginya sama papai, biasanya sekalian sampo. Kalau mandi sore sama ami, tidak pakai sampo. Sejak 3 bulan lalu RaRa sudah diperkenalkan air dingin. Jadi mandinya pakai air hangat dan dingin. Awalnya RaRa panik banget sama air dingin. Sekarang RaRa sudah cuek, tapi kelihatan dia ga terlalu nyaman lama-lama disemprot air dingin. Papainya RaRa rada perfesionis dalam hal sampo menyampo. Jadi kalau nyampo tu lama sambil mijit-mijit kepala RaRa. Mungkin saking mantapnya, busa jatuh-jatuh ke muka. Lalu dibilasnya pakai shower air dingin. Yang pasti kena-kena ke mukanya dong.
Selasa pagi sesudah breakfast, RaRa fish feeding. Sayang tidak ketemu kak Stella. Lalu kita ke pantai lagi. Kali ini RaRa mau main di pasir walaupun gak excited amat. Ketika dibawa ke air laut, RaRa ga suka cenderung mau nangis. Yahh RaRa…. Mungkin RaRa masih recovery dari sakitnya, jadi ga mood. But we had some good pics here! Habis main pasir, RaRa mandi dan langsung bobok. sesudah itu, kita ke airport deh. Bye bye fish, bye bye beach and sand, bye bye Bali! Wish we’ll be back soon…
Sesudah mandi pagi, RaRa main dulu di Kids Club. Ternyata kosong, cuma RaRa saja yang main disitu. Padahal tamunya banyak, tapi jarang yang bawa anak. Umumnya oma opa atau young couple. Sejauh ini memang RaRa baru ketemu kak Stella saja yang umurnya 4 tahun. Jadi di Kids Club, RaRa menguasai semua boneka, bola, lego dll. Duh senangnya….. tibalah saatnya RaRa ngantuk berat. Sesudah bangun, RaRa mau mam siang, tapi ga dihabisin. Lalu kita pergi ke art market di sebelah hotel. Ketemu sama ibu-ibu pedagang yang manggilin RaRa. Kasihan juga art market nya sepi, tidak ramai seperti di area Kuta.
Habis itu, kita menunggu shuttle bus menuju Bali Collection Nusa Dua (dulu disebutnya Galleria Nusa Dua). Duh senangnya RaRa bisa liat air mancur! Ami sama papai mam, RaRa juga mam roti. Kelihatannya RaRa riang ketawa terus. Lama-lama mulai bosan dan berontak dari high chair nya. Sesudah itu, kita potret-potret di sekitar air mancur dan pura. Lalu ami dan papai seperti biasa ngopi. RaRa yang bosen di tempat duduk, jadi merangkak di lantai. Bisa ditebak, kaki RaRa hitam-hitam gak karuan!
Sampai di hotel, RaRa dan papai berenang di pool. Ketemu kak Stella yang pintar berenangnya. Tapi ternyata ga bisa lama-lama. Karena sudah mulai gelap, jadi dingin dan RaRa ngantuk. Sesudah bangun dan mam, kita pergi beli sandwich. Lalu jalan-jalan di sepanjang pantai. Gelap dan sunyi tapi indah. Bintangnya banyak sekali. Deru ombaknya tidak kencang. Hari ini RaRa sudah cukup sehat, sedikit-sedikit saja manjanya. Dan anehnya kali ini RaRa maunya sama papai terus. Kebalikan sama liburan di Jogya. Waktu itu kalau bete, RaRa maunya sama ami saja.
Di pesawat RaRa sama papai and being a good girl. RaRa mau tidur dan tidak menangis. Karena perjalanan lebih panjang dari waktu ke Jogya, RaRa bangun ketika masih di pesawat. Agak rewel karena maunya jalan-jalan. Ketika landing RaRa cukup tenang juga. Sesampai di Ngurah Rai, kita sudah dijemput Pak Nyoman. RaRa agak teler-teler gitu. Mungkin ngantuk dan lapar.
Tiba di hotel, RaRa kelihatan happy sama tempat tidurnya yang besar. RaRa guling-gulingan sambil ketawa-ketawa. RaRa juga happy karena kamarnya besar, jadi RaRa bisa merangkak sana sini. Tapi mungkin karena masih low fever, RaRa jadi gak mood. Kadang riang, kadang cengeng. Hari minggu itu RaRa habiskan untuk bobok, main-main di kamar dan lihat taman dan kolam yang indah. Sore-sore RaRa dibawa ke pantai hotel. Mungkin karena masih ngantuk juga, RaRa bete sama pasir. Diajak main pasir kayak ketakutan gitu. Jadi cuma sebentar saja, terus RaRa happy karena bath time. Habis mandi, RaRa langsung bobok lagi deh. Malam-malamnya RaRa malah ‘on’, ngajak main. Padahal ami dan papai mau bobok. RaRa suka ada-ada saja deh…
Setelah agak lama di tengah, RaRa bukannya happy tapi malah tambah bete menuju mau nangis. Akhirnya dibawa lagi ke darat. Diajak main pasir juga tidak begitu suka. Sudah pukul 11 dan ami mencoba memberi RaRa makan siang. Tapi RaRa tidak terlihat lapar karena memang biasanya RaRa makan jam 12. RaRa geratak sana geratak sini tapi kadang bete. Kelihatannya RaRa ngantuk. Papai coba gendong RaRa supaya bobok, RaRa tidak mau. Biasa deh banyak distraksi karena RaRa ingin lihat macam-macam. Termasuk lihat badut Chiki dan badut Cheetos. RaRa maunya ngeliatin terus, tapi kalau dideketin jadi takut dan mau menangis. Karena tidak mau bobok juga, RaRa makan lagi. RaRa sebenarnya mau, tapi ko terus malah muntah dan banyak lagi. Jadi susunya keluar semua. Jangan-jangan RaRa tidak tahan kena angin laut.
Memasukkan kartu pilihan ke dalam kotak suara.
Hari Minggu (5/8) sore Rara pergi ke Taman Menteng, sambil menunggu Ami ke gereja. Ini kali ketiga Rara main di sana. Rara kelihatan selalu happy kalau main di Taman Menteng. Ia paling suka melihat air mancur. Tapi ia juga suka melihat rumput hijau dan pohon serta orang ramai. Di sana juga ada bagian taman bermain anak-anak. Rara suka berdiri di besi-besi tempat memanjat. Kelihatan sih kalau ia akan suka, karena di rumah juga senang sekali berdiri di tempat tidur, berpegangan pada teralis jendela kamar. Kemarin Rara juga coba main ayunan, dipangku papai, berdesakan sama kakak Ben. Dia marah ketika harus berhenti. Tapi memang harus gantian karena banyak teman-teman yang antre main ayunan.
Tahun lalu pak Gubernur Sutiyoso memutuskan untuk merobohkan stadion yang katanya sudah kumuh dan tidak terawat, dan membangun taman untuk masyarakat. Memang sih cara beliau dalam mengambil keputusan agak otoriter. Banyak yang protes, termasuk pihak Persija, tidak didengar. Tapi ketika jadi, masyarakat suka. Terasa sekali kalau orang Jakarta memang kekurangan ruang terbuka yang bisa diakses umum. Apalagi untuk yang punya anak bayi menjelang belajar jalan yang maunya bergerak terus seperti Rara.
Hari Minggu (5/8) pagi, Rara kedatangan tamu spesial: rombongan topeng monyet. Papai dan Ami menanggap mereka main di depan rumah, dengan bayaran Rp10 ribu sekali pertunjukan. (Tahun 1981, papai kecil hanya membayar Rp500 untuk sekali pertunjukan). Rara kelihatan senang dan excited melihat si monyet jumpalitan. Ternyata kesenian topeng monyet masih ada juga ya, meski pastinya mereka harus berjuang keras untuk bisa bertahan hidup.
Beda dengan di tahun '80an, topeng monyet abad 21 tidak lagi menyertakan anjing dan ular. Dulu kan selalu ada ular sawah belang-belang kuning hitam. Sekarang sawahnya makin susah dicari, ya otomatis ular sawahnya juga...