Wednesday, July 03, 2002

A love odyssey 3



3. Hujan, Pelangi, dan Matahari

Kaukah itu
Yang membukakan saat pintumu kuketuk
Menyilakan masuk
hadir dalam ruang tamumu

Dan tak menghentikanku
Untuk memulai membicarakan awan
dan hujan dan matahari dan pelangi
Juga tak memintaku pulang
Walaupun hari telah larut?

Well, aku salahkan kau untuk itu!

Feb ‘97

Kehadirannya dalam kehidupanku membawa beragam perasaan (dan juga sebaliknya, yang belakangan ku sadari). Terkadang ada penyangkalan tentang apa yang ada di antara kami. Terkadang ada ketakutan untuk jujur terhadap diri sendiri. Tapi si ‘stupid cupid’ sudah menembakkan panahnya; ‘the crazy little thing called love’ datang tanpa tertahan. Mungkin kau bisa bohong pada semua orang, tapi tidak pada diri sendiri! Sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengalah pada perasaan.

Semenjak itu, hari-hari kami selalu diisi oleh diskusi mengenai hujan, pelangi dan matahari. Kukatakan padanya, aku mencintai hujan karena hujan membawa kesejukan. Tapi ia tidak. Katanya, hujan membawa kesenduan. Ia lebih suka pada matahari. Dan begitulah hari-hari kami terisi. Tapi satu hal, ia begitu mencintai pelangi. Masalahnya, ketika kukatakan bahwa tak mungkin ada pelangi tanpa ada hujan, ia selalu membantah dengan mengatakan, “mataharilah yang menjadikan pelangi!”

Dan ketika lelah berdebat tentang siapa yang lebih berperan dalam menjadikan pelangi, kami akhirnya berkhayal berjalan menyusuri pelangi, mencari pundi berisi emas di ujung pelangi…

#ari

No comments: