Saturday, November 20, 2004

Kennedy School of Government Building

Suatu pagi yang ternyata sudah siang, aku jalan2 di pinggir sungai menuju kampus Ari. Sebenarnya ada banyak jalan menuju kampus Ari. Tapi yang paling gampang ya menyusuri sungai. Aku tiba dengan selamat. Kurang lebih 20 menit lamanya. Ehm, capek juga. Kampus Ari rupanya bukan gedung2 kuno seperti yang ada di gambar2. Yang kuno itu ya kampus utamanya. Gedung KSG terpisah dari kampus utama. Harvard Business School bahkan ada di Boston bukan di Cambridge walaupun sekedar sebarang sungai saja.

Karena sekolah Ari relatif baru, jadi gedungnya juga model baru. Dari luar tampak plain saja, gedung yang berwarna merah bata dan abu2. Setelah masuk, memang biasa2 saja tidak kelihatan besar, high-tech atau mewah. Malah seperti kantor. Tapi kalau diperhatikan bangunannya unik juga. Sebenarnya ada 3 gedung dengan nama berbeda, tapi ternyata jadi satu. Maksudnya supaya kalau musim dingin kita tidak perlu bersusah payah pindah gedung dan kedinginan. Jadi tak usah bongkar pasang jaket gitu. Selain itu ada 1 gedung lagi yang terpisah. Aula utamanya juga unik banget. Kelihatannya kecil, tapi kalau diperhatikan, tiap lantai (sampai lantai 4) sengaja dibuat memutari aula tersebut. Jadi kalau ada acara, bukan hanya orang dibawah di aula tersebut yang bisa hadir, tapi banyak orang yang bisa duduk di sekeliling di tiap lantai. Jadi seperti nonton opera.

Kalau tidak digunakan untuk seminar/debat, aula tersebut jadi kantin. Pokoknya semua tampak fungsional dan praktis. Kantinnya bisa dibilang mungil. Sodexo namanya. Isinya ada pizza, soup, sandwich, salad, burger, fruit platter, cookies, nuts, yoghurt, sushi, dan minuman2 standar. And I love that creamy broccoli soup! Kalau ada acara2 di kampus, ya semuanya pakai katering ini.

Di bagian yang mengarah ke sungai Charles, ada taman namanya JFK Park. Lumayan tenang loh padahal dikelilingi jalan Memorial dan jalan JFK yang ramai kendaraan. Jadi kalau lagi mau merenung boleh juga.

Simple and enough!

Juli

Thursday, November 18, 2004

Settling down

Jet lag itu benar2 kejam. Siang bagai malam dan malam bagai siang. Aku tidak bisa tidur di malam hari. Baru bisa menutup mata jam 3 atau 4. Alhasil bangun tidur jam 12 siang! Ya ampun seumur-umur belum pernah sesiang itu. Tidurnya padahal sudah cukup lama, tapi badan tidak enak. Apalagi harus langsung berhadapan dengan cuaca musim gugur yang berangin. Mata dibelai2 terus jadi maunya bobo aja. Kurang lebih ada 2 minggu aku jet lag. Lama banget ya? Kata Ari, dia tidak begitu waktu sampai di Florida (ada acara dulu disana dengan Fulbright sebelum ke Cambridge). Sebab Ari langsung punya aktivitas yang padat. Sampai di Cambridge Ari juga harus math camp. Jadi dipaksa untuk cepat menyesuaikan diri dengan waktu. Sementara aku kan tidak punya komitmen apa-apa. Jadinya ya gitu, malasnya dibawa terus selama 2 minggu. Kalau kata Markus iparku, biasanya jet lag itu lamanya begini: tiap 1 jam beda waktu sama dengan 1 hari jetlag. Jadi karena Jakarta bedanya 12 jam dengan Cambridge, maka aku bisa jetlag sampai 12 hari. Ehm, makanya aku error selama 2 minggu.

Oya, hari pertamaku (sesudah tidur nyenyak di ranjang kecil tapi empuk) berjalan-jalan keliling Harvard Square bersama Ari. Ari kan jago jadi tour guide. Aku ditunjukin semua sisi kampus tua Harvard. Dari Johnston Gate sampai Memorial Hall. Ehm jauh juga loh. Biarpun mata seperti Garfield, tapi tetap berfoto-foto. Lalu aku dapat es krim Ben & Jerry. Sebenarnya males banget makan es krim di musim gugur yang dingin juga ini. Tapi aku kalap lihat es krim yang macam2 gitu modelnya. Agak malam-an Ari mengajak aku naik bis No. 1 menuju Central Square. Ari mau kasitahu aku supermarket Shaws.

Lantas apa yang kulakukan di minggu2 awal? Sebelumnya aku tidak punya rencana harus ini itu. Yang jelas karena aku statusnya J2, maka aku ingin cari kerja. Saat aku tiba, Ari sudah sibuk kuliah, jadi tidak bisa nemenin Miss Jetlag ini terus kan. Tinggallah aku bersama peta. Yang jelas aku harus belajar area sekitar Harvard dulu. Dari petanya sih kelihatannya gampang juga. Selanjutnya aku berusaha jalan2 sendiri di sekitar Harvard. Patokannya kalau nyasar ya kudu nemuin sungai, pasti bisa deh balik ke apartment. Hehe…

Selanjutnya aku kalap dengan internet. Bayangkan, di Jakarta aku harus irit2 pakai dial up yang mahal tapi lamban. Disini hurah, tidak bayar dan 24 hours! Jadinya aku kerajingan surfing cari kerja atau kegiatan. Jadilah kerjaanku beres2 rumah (dengan malas2an), masak dan surfing tentunya!

Juli

Wednesday, November 10, 2004

Our Apartment, 2 Peabody Terrace #511

Musim gugur 2004, Boston & Cambridge MA. Ehm, cukup tenang tidak seperti hingar bingar pagi Jakarta. Pemandangan kurang terang, sedikit gloomy tapi lembut. Kurang konsentrasi melihat-lihat pemandangan karena tentunya Ari, Grace dan aku ngobrol. Rasa capek ko belum terasa. Yang ada begah banget ingin mandi. Soalnya hampir 2 hari tidak mandi.

Ternyata area Cambridge tempat tinggal kita cuma sepelemparan batu dari Boston. Tinggal sebrang sungai Charles saja. Apartment kita Peabody Terrace persis di pinggir sungai. Tapi apartment dan sungainya dipisahkan oleh jalan Memorial Drive. Tampaknya bakal menjadi tempat tinggal yang home sweet home. Semoga!

Sebelumnya sudah sedikit terbayang gedung apartment-nya. Soalnya sudah lihat gambar dari brosur waktu Ari diterima. Agak terkaget2 gitu tahu harganya. Maklum dari negera berkembang. Hehe… Habis sewa apartment 1 kamar sebulannya bisa buat sewa kos2an bagus selama setahun di Jakarta. Tapi kita cari amannya saja. Soalnya Peabody Terrace adalah apartment yang masuk bloknya Kennedy School. Maksudnya sudah ada jatah untuk mahasiswa KSG. Kalau mau apartment Harvard yang lain harus lottery dan saingannya seluruh mahasiswa baru Harvard yang banyak banget kan. Lagian harga apartment nya ya rata2 seperti itu. Kita belum berani cari apartment di luar Harvard. Takutnya ada masalah dengan owner dll. Kalau apartment kampus kan biasanya terima beres, artinya listrik, pemanas, perawatan, internet sudah diurusi.

Dari luar tampak oke dengan dominasi warna hijau, marun dan putih. Karena Ari tinggal duluan, Ari sudah cerita soal kekurangan apartment kita yang mahal ini. Kita tinggal di lantai 5 dengan lift yang hanya ada 2. Suatu ketika, kata Ari, pernah lift-nya macet. Padahal yang paling tinggi ada lantai 26. Bayangkan, turun tangga segitu banyak. Masih untung Ari di lantai 5. Belum lagi Ari cerita betapa minimnya lampu yang ada di dalam apartment.

Oya, lift tidak berhenti di setiap lantai (ada kaitan dengan harga tentunya!). lift berhenti di lantai 4 dan 6, tapi tidak di 5. Jadi koperku yang gendut2 itu harus digotong. Pekerjaan yang lumayan ya. Kalau tidak mengerti konsep arsitekturnya pasti bawaannya mau nyela apartment ini. Soalnya temboknya seperti tidak mulus ada yang bolong2, sengaja diperlihatkan seperti model di pabrik2 gitu. Katanya, gedung ini memang dibangun tahun 70-an dengan konsep industrial.

Ketika masuk, ya ampun memang kecil apartment ini. Sebenarnya sih sudah tahu, tapi ketika berhadapan sendiri tetap saja kaget. Masuk pintu berwarna hijau, disambut tempat sepatu dan kiri dikit pintu toilet. Kiri banget dapur yang jadi satu dengan ruang tv dan sebelah kanan kamar tidur. Itu thok. Oiya, ada balkon yang dipisahkan dari ruang tv dengan pintu kaca. Secara peraturan gedung, balkon itu sebenarnya jadi jalan darurat. Dipisahkan dari tetangga dengan connecting door dan kita tidak boleh meletakkan barang disana karena bisa menghalangi jalan. Tapi pada praktiknya banyak juga yang nakal. Ada yang meletakkan kursi malas, sepeda, jemuran etc. Kalau Ari meletakkan kardus2 bekas disitu.

Apartment-nya juga agak berantakan walaupun Ari sudah berusaha keras merapikannya. Hehe… Furnitur/perlengkapan yang sudah disediakan apartment yaitu kompor listrik plus oven, kulkas, banyak lemari di ruang tv, lemari baju serta meja belajar kecil di kamar tepat di jendela. Ehm posisi yang lumayan enak, bisa melamun kalau lagi di depan laptop. Barang2 yang sudah Ari beli ada tempat tidur, lampu, kursi kecil, meja dan rak pendek buat telepon. Jadi kamarnya sudah cukup nyaman. Tapi ruang tv kurang nih. Soalnya baru ada lampu, lemari buku, meja, kursi dan lampu belajar, 1 kursi duduk, rak tv dan microwave. Oya tentu beserta peralatan dapur dari panci, baskom, sodet, pisau, piring, gelas, talenan, sendok garpu, lap, tempat sampah, blender, coffee maker, rice cooker etc dan perlengkapan kamar mandi. Ternyata Ari pintar deh, beli pritil2nya lengkap juga. Nah kurang nyaman karena kurang satu hal, belum ada sofa buat nonton tv. Masa duduk di lantai atau di kursi kayu yang tidak empuk.

Anyway, glad to be here. Ketemu suamiku tersayang is most wanted!

Juli

Sunday, November 07, 2004

Ari and Cambridge, here I come!

Logan International Airport di pagi hari tanggal 5 November 2004. Lelah sekali setelah perjalanan sepanjang jalan tiada henti tiada ujung. Tati ga punya problem dengan tidur. Kalau aku susah tidur dengan posisi duduk begini. Biarpun sudah ikuti cara Tati, tetap saja uring-uringan. Mau tahu cara Tati? Minum wine secukupnya (atau sebanyak-banyaknya, hehe), tunggulah beberapa saat lagi anda akan tertidur pulas.

Anyway, it was tiring but fun. With Tati by my side. Kita baru kenal sejak urusan amerika2 ini, tapi cepat banget akrabnya. Dari Tati aku dapat ilmu spontanitas dan mostly enjoy the life and food to the fullest! Hehe… kalau kata Tati sih, dia belajar lebih organize dari aku. Pokoknya Tati banyak nurut deh sama apa kataku. Bahkan kadang lebih nurut sama aku daripada sama suaminya. Haha….

China Airlines was not so bad. Makanannya enak-enak aja tuh. Pramugarinya juga baik-baik. Tapi ya itu, banyak transitnya yang bikin capek. Ada untungnya juga sih, bisa olahraga jalan-jalan di airport. Bisa ngaso-ngaso di toilet yang jelas jauh lebih besar dari toilet pesawat.

Los Angeles International Airport adalah tempat perpisahan aku dengan Tati. Sedih tentunya. Karena kami ga tau kapan bertemu lagi. Mungkin di sebuah liburan yang menyenangkan. Tugas berat menanti (beneran berat!) soalnya kita harus ngangkat koper kita yang segede-gedenya itu keluar dari terminal internasional menuju domestik. Untung berdua, jadi saling bisa bawain. Sudah gitu banyak anjing herder lagi cium-cium. Huuu takut. Tapi ternyata ya di Amerika ada porter juga ya. Aku pikir cuma di Indonesia aja.Bye-bye Tati, have a pleasant flight to NYC and meet your silly Sahalio! Miss you.

Sekarang saatnya naik penerbangan domestik US. Aku naik Delta Airlines menuju Boston. Deg-degan gitu deh. Soalnya bawaanku yang masuk kabin juga berat. Pokonya ga mau rugi, semua kg harus tercapai sampai sekoma-komanya. Untungnya karena bule-bule suka dibilang gentlemen, jadi koper aku yang kecil tapi berat itu diangkut oleh si bule. Lagian tinggi juga ya, kayaknya lebih tinggi dari pesawat Indonesia. Hawa domestik terasa sudah. Dengan pramugari berumur yang tegas-tegas, aku cuma dapet air mineral sama pretzel (yang ga enak itu).

Deg-degan nya juga karena mau bertemu Ari. Halah….hehe… iya bener, soalnya sudah hamper 3 bulan tidak ketemu. Jadi kangen dan ga tau mau bilang apa. Come on, kayak orang baru pacaran aja. Begitulah….

Ketika sampai, aku takut juga kalau Ari belum jemput. Soalnya nih, aku bingung itu koper gede2 mau dikemanain kalau ga ada yang bantuin. Logan International Airport. Jauh lebih kecil dan senyap dibanding LAX. Iyalah, kan aku tiba pagi-pagi gitu. Eh ternyata tidak perlu bingung dan takut, ternyata Ari sudah ada di depan mata, siap bawa trolley segala. Hehe…. Bagus deh soalnya aku kan tidak punya koin US. Ari jemput aku sama Grace. Grace ini teman SMP & SMA Sanur. Jadi advisorku sebelum berangkat. Tempat aku bertanya-tanya tentang bagaimana cuaca disana dan apa yang harus kubawa. Grace baik banget deh pokonya. Thank you Grace!

Juli

Monday, October 18, 2004

Make a list, please. (The journey starts)

5 November 2004. Adalah hari keberangkatanku ke Cambridge, USA. Hari yang aku nantikan dengan beragam perasaan. Dinantikan sekali, senang banget, tapi juga takut. Hidupku di pertengahan 2004 bagai rollercoaster. Aku masih harus menyelesaikan tugas akhir kuliah paskasarjana di bulan Agustus dan harus lulus. Kalau tidak bagaimana aku bisa tenang menyusul Ari ke USA. Jalan menuju lulus berliku juga. Setelah gonta ganti topik dan akhirnya menemukan topik yang pas, ternyata masih banyak kesulitan yang datang. Ehm cukup diingat jadi nostalgia saja, jangan sampai terulang. Well, pada akhirnya aku memang bisa menyelesaikannya dengan nilai baik dan diwisuda di bulan September (tanpa suami yang hadir mendampingi, hik hik…).

Lalu bagaimana dengan persiapan keberangkatan? Saking girangnya karena akan tinggal di tempat baru, malah jadi bingung apa saja yang harus dipersiapkan. Ok ok, make a list, please! Pertama, yang jelas penting adalah urusan dokumen-dokumen untuk mendapatkan visa. Beruntung sekali, sebagai istri penerima Fulbright Scholarship, aku masih dibantu dalam proses mendapatkan visa. Yang juga membuat aku senang, aku tidak sendirian dalam penerbangan yang hampir 30 jam. Aku berangkat bersama Tati. Sahal suami Tati juga sudah ada di New York City sejak Agustus.

Sempat ada panic attack karena dokumen penting untuk visa yang dikirim Ari tidak sampai-sampai juga. Mengutuklah aku pada PT Pos. Sampai-sampai Ari harus mengirim lagi via ekspres. Selanjutnya mengisi dokumen untuk visa harus teliti dan berulang-ulang diperiksa. Membuat foto untuk visa juga harus tepat, jangan sampai harus difoto ulang. Selain itu harus mempersiapkan diri untuk wawancara di kedutaan, seperti menebak-nebak apa isi wawancaranya. Aku belum pernah ke USA dan terlalu banyak cerita-cerita sedih susahnya dapat visa bukan...


Hal kedua adalah urusan mencari tiket. Nah yang ini seperti berburu hantu. Musti rajin telpon berbagai biro travel, musti bawel tanya berbagai airline dan berbagai alternatif tanggal, musti siap line teleponnya disambung sana sini, musti sabar menghadapi mbak atau mas yang kurang ramah. Ya, semua demi mendapatkan tiket murah tentunya. Ketika akhirnya ditemukan tiket yang paling murah, ternyata ada hal lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Masalah keribetan membayar dalam US dollar. Ampun ampun negeriku penyembah dollar licin. Uang dollar yang aku punya hampir sebagian besar ditolak karena inilah dan itulah. Setelah tukar sana sini lewat nepotisme, akhirnya kugenggam juga tiket one way, destination Logan Airport Boston, dengan itinerary yang panjang banget karena stop sana stop sini.

Rencananya kami akan tinggal di Cambridge hingga pertengahan 2006. Jangka waktu 2 tahun bisa dibilang singkat, bisa panjang juga. Jadi hal ketiga yang harus dipikirkan adalah mengurusi banyak hal menyangkut properti. Tidak banyak sih (apalagi semakin berkurang karena dipakai untuk tambahan biaya di USA), tapi biar bagaimanapun juga harus diurus kan. Rumah yang kami tempati adalah pinjaman dari orang tua. Barang-barangnya seperti furnitur, elektronik dll sudah banyak. Kami tidak bisa membuang atau menjualnya begitu saja, karena 2 tahun lagi kami akan balik dan membutuhkan barang-barang tersebut kembali. Jadi aku berusaha mencari orang yang mau mengisi rumahku, beserta isinya. Walaupun kami meninggalkan rumah beserta isinya, tapi tetap saja banyak barang pribadi yang harus dibereskan dan dititipkan di rumah orang tua. Kalau begini, baru sadar deh bahwa ternyata barang kita banyak banget. Padahal rumahnya kecil mungil! Lah tapi jadinya juga ada kesempatan mengumpulkan barang-barang yang ternyata sudah tidak kita butuhkan tapi masih bisa disalurkan untuk orang lain yang memerlukannya. Urusan rumah ini agak tricky juga. Setelah dapat penyewa, aku harus membuat daftar-daftar seperti misalnya cara pakai mesin cuci, tanggal-tanggal bayar tagihan macam-macam, mengenalkan si penyewa dengan tetangga dekat dan ketua RT. Pritil-pritil tapi jangan sampai kelupaan daripada ada masalah di kemudian hari.

Selanjutnya properti sektor perbankan. Hayo diselesaikan supaya efisien. Masing-masing dari kami memiliki lebih dari satu bank tabungan. Oleh karena itu kami harus menutup atau menguras isinya supaya masing-masing punya 1 tabungan saja. Tabungan tersebut akan dititipkan ke orang tua aku maupun Ari. Sebab bagaimanapun juga ada transaksi-transaksi yang terjadi selama kami tidak di Jakarta. Seperti misalnya pembayaran asuransi, pemasukan honor Ari menulis di koran atau hal-hal insidentil seperti angpaw pernikahan dan uang duka.

Selanjutnya hal keempat adalah urusan putus memutus langganan. Telepon seluler, internet, koran majalah, fitness centre. Telepon genggamnya perlu dijual atau dikasih saja ke saudara atau sekalian dibawa ke US nih?

Lalu lalu sekarang pikirkan apa yang akan aku bawa ke USA? Nah untuk hal yang kelima ini perlu tanya banyak orang supaya tidak kecele. Yang bisa jadi sumber berita adalah orang yang benar-benar pernah atau tinggal di daerah yang kita tuju. Urusan pakaian dan perlengkapannya tentu jadi penting di negara 4 musim. Tapi seberapa perlu beli ini itu, maka tanyalah pada yang lebih tahu. Kalau punya banyak uang sih, ga perlu repot mikir.

Pergi meninggalkan kota Jakarta yang kutinggali selama kurang lebih 27 tahun (2 tahun pertama hidupku di Jayapura) membuat aku senang sekali. Akhirnya oh akhirnya aku bisa juga pergi untuk waktu yang lama menghindari kemacetan dan kejahatan polusi Jakarta. Tapi biar bagaimanapun juga jeleknya Jakarta, tapi aku punya banyak teman dan keluarga disini. Friends and family are priceless, isn’t it? Jadi hal keenam yang harus diingat adalah pamit sana sini. Dengan grup ini grup itu. Mengatur jadwal supaya semua pada bisa. Makan-makan terus deh. Aku sangat suka bagian ini (bukan makan-makannya maksudnya, tapi acara pamitannya itu). Menjaga tali kebersamaan penting, sehingga walau kita sibuk urus sana sini harus ingat acara pamitan.

Hi Ari @ Cambridge, I’ll be there soon!

Juli

Friday, January 02, 2004

Monday, January 20, 2003

to be continued.....




Bongkarlah aku

jauh malam yang pekat menggetarkan
dengusanku mendesah sunyi
tatapanku menembus dinding
jangan sampai air mata darah yang jatuh

gemetarku sejuta lebah gemuk
melagukan nyanyian sumbang kepedihan
ada apa lagi hatiku?

kekasihku indah, kekasihku bunga
kekasihku takutku, kekasihku pedihku
satu malam bisa menjelma jutaan malam
jutaan malam bisa terburai satu malam

kekasihku, bongkarlah aku.

Jul
Jan 03

Sunday, July 07, 2002

A love odyssey 4





4. Dinding-dinding itu

Dinding-dinding itu
Yang kasat mata,
namun keberadaannya nyata
Satu hari nanti mungkin kita akan
menabrakkan diri
Namun genggaman tanganmu
Masih membuatku enggan untuk berlalu

Feb ’97

Tapi langkah mencari emas di ujung pelangi tidaklah ringan. Di hadapan kami ternyata ada sebuah dinding yang tebal. Entah siapa yang mendirikannya, yang jelas kami tak pernah merasa mendirikannya. Dan kami pun tak tahu kenapa dinding itu harus ada, dan untuk apa ia ada.

Pada mulanya, kami tak terlalu hirau akan keberadaannya. “Nantilah suatu saat kita pikirkan bagaimana cara memanjatnya. Sekarang ini, nikmatilah hari-hari yang kita miliki.” Tapi waktu terus bergulir. Dinding itu semakin dekat, semakin jelas. Dan semakin terlihat bahwa ia begitu kokoh.

Kutanya pada orang-orang yang lalu lalang, untuk apa dinding itu ada? Kenapa ia harus ada?

Tradisi. Iman. Kepercayaan. Itulah jawaban yang selalu kudapat. Tapi apakah iman dan kepercayaan dibuat untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai? Kalau begitu kenapa si pencipta menciptakan cinta dan dinding sekaligus? Apakah si pencipta memang suka bercanda? Ah, jawaban-jawaban itu tak pernah memuaskanku.

Tapi ada satu-dua yang berbisik padaku. Tidak, iman dan kepercayaan tidak dibuat untuk menghambat cintamu. Sayangnya suara mereka terlalu lemah, dan jumlah mereka terlalu sedikit. Meskipun bisikan itu tetap memberiku semangat dan keyakinan untuk terus melangkah.

Lalu beberapa mencoba memberikan jawaban yang (mereka anggap) lebih bijak. Katanya, dinding itu ada untuk melindungimu. Untuk menghindarkanmu dari masalah yang mungkin timbul kalau kau berjalan meniti pelangi. Kutanya, memang kenapa dengan berjalan meniti pelangi? Mereka jawab, karena pelangi punya terlalu banyak warna. Tak mudah berjalan di antara berbagai warna. Lebih baik kau berjalan dalam satu warna.

Aku tetap tak bisa menerima penjelasan mereka. Menurutku, setiap keputusan adalah risiko. Dan tidak mungkin kita mengeliminir risiko. Yang bisa kita lakukan adalah membangun keyakinan bahwa kita bisa mengatasinya. Sekarang berikanlah aku kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku mampu. (Tidak, tetap tidak bisa, kata mereka).

Lama-kelamaan aku pun menyadari bahwa apapun pendapatku, mereka tak akan mendengarkan. Karena masalahnya, bukan masalah apa yang akan timbul kalau AKU melalui dinding itu. Tapi masalah apa yang akan MEREKA dapatkan kalau mereka membiarkanku melewati dinding itu. Ternyata diriku, pikiranku, bukanlah semata-mata milikku. (Karena kita orang Timur, dan bagi orang Timur keluarga adalah segalanya…) (Dan salah satu konsekuensinya kita bukanlah lagi seorang individu yang memiliki kehendak bebas).

Tapi buatku, diriku adalah milik diriku. Dan masa depanku bersamanya adalah milik kami. Kutanya padanya, apakah kau siap untuk menabrakkan diri ke dinding itu? Dan ia pun menyatakan kesiapannya. Kami pun lalu mengatur langkah untuk itu.

(Sebuah yayasan pimpinan seorang tokoh yang sering diasosiasikan sebagai ‘Islam liberal’ membantu kami menunjukkan jalan. Baju dan barang-barang sudah mulai dimasukkan kopor. Akankah aku menulis kisah ‘anak durhaka’ abad 21?).


#ari
7 Juli 2002- kami menikah

Wednesday, July 03, 2002

A love odyssey 3



3. Hujan, Pelangi, dan Matahari

Kaukah itu
Yang membukakan saat pintumu kuketuk
Menyilakan masuk
hadir dalam ruang tamumu

Dan tak menghentikanku
Untuk memulai membicarakan awan
dan hujan dan matahari dan pelangi
Juga tak memintaku pulang
Walaupun hari telah larut?

Well, aku salahkan kau untuk itu!

Feb ‘97

Kehadirannya dalam kehidupanku membawa beragam perasaan (dan juga sebaliknya, yang belakangan ku sadari). Terkadang ada penyangkalan tentang apa yang ada di antara kami. Terkadang ada ketakutan untuk jujur terhadap diri sendiri. Tapi si ‘stupid cupid’ sudah menembakkan panahnya; ‘the crazy little thing called love’ datang tanpa tertahan. Mungkin kau bisa bohong pada semua orang, tapi tidak pada diri sendiri! Sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengalah pada perasaan.

Semenjak itu, hari-hari kami selalu diisi oleh diskusi mengenai hujan, pelangi dan matahari. Kukatakan padanya, aku mencintai hujan karena hujan membawa kesejukan. Tapi ia tidak. Katanya, hujan membawa kesenduan. Ia lebih suka pada matahari. Dan begitulah hari-hari kami terisi. Tapi satu hal, ia begitu mencintai pelangi. Masalahnya, ketika kukatakan bahwa tak mungkin ada pelangi tanpa ada hujan, ia selalu membantah dengan mengatakan, “mataharilah yang menjadikan pelangi!”

Dan ketika lelah berdebat tentang siapa yang lebih berperan dalam menjadikan pelangi, kami akhirnya berkhayal berjalan menyusuri pelangi, mencari pundi berisi emas di ujung pelangi…

#ari

Tuesday, July 02, 2002

A love odyssey 2



2. Awalnya, dan Selanjutnya…

Mungkin Plato benar bahwa cinta adalah bagian dari sebuah grand design. Karena ketika pertama aku menyadari kehadirannya di dunia ini (spesifiknya, di kampus Depok nun panas itu), aku sepertinya diingatkan akan sebuah konsep yang begitu indah dan luhur, ketika aku masih ada di alam ide, sebelum dipindahkan oleh si pencipta ke alam materi.

Samar-samar aku merasa bahwa sebelum menjalani kehidupan ini, aku sudah dipertemukan di alam ide oleh si pencipta dengannya. Dan samar-samar aku bisa mengingat bahwa si pencipta pernah menjanjikan bahwa satu masa di alam material, aku akan kembali dipertemukan dengannya, seperti halnya kami dipersatukan di alam ide.

Tapi mungkin juga Aristoteles yang benar. Sejak perjumpaan itu, sejak berbagai interaksi yang terjadi di antara kami, aku diperkenalkan oleh sebuah konsep, sebuah gagasan tentang hubungan antara dua manusia, yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gagasan itu terdiri dari berbagai faktor. Kebahagiaan saat aku bersamanya, kehilangan saat aku tidak bersamanya, ketakutan bahwa aku tidak bisa bersamanya, dan sebagainya.

Atau mungkin lebih tepat jika kukatakan, aku membangun sebuah gagasan yang belum pernah ada sebelumnya, setidaknya dalam diriku. Mungkin gagasan itulah yang dinamakan cinta. “But I know that love is just another word to say what I’m feeling…” (Europe).

Hari-hari selanjutnya, semuanya mengalir seperti sungai. Aku sudah tidak hirau lagi pada Plato atau Arisoteles. Pada cinta sebagai ide, atau cinta sebagai pengalaman empiris. Hingga aku kembali membuka buku filsafat itu dan menemukan chapter tentang Immanuel Kant. Katanya, jangan bergantung hanya pada rasio, atau hanya pada indra dan perasaan. Keduanya bisa menipumu. Ketika kau ragu pada keduanya, maka itulah saatnya kau menggunakan ‘kepercayaan’ (belief).

Dan aku pun percaya, aku memang telah jatuh cinta…

#ari

Monday, July 01, 2002

A love odyssey 1



1. Prolog

How do I know when it’s love? I can’t tell you but it lasts forever.
How does it feel when it’s love? It’s just something together… (van Halen)

Aku mencari di buku-buku filsafat, mengapa orang jatuh cinta dan mengapa orang harus jatuh cinta.

Ku buka chapter mengenai Plato. Kata Plato, di belakang semua yang terjadi di alam materi ini, ada sebuah ‘ide’. Ide itu milik siapapun yang menciptakan dunia dan isinya. Ide itulah yang menjadikan dunia seperti ini. Dan siapapun si pencipta itu, ia pasti menciptakan dunia beserta isinya dengan sebuah maksud. “Tuhan (nama bagi si pencipta menurut orang-orang beriman) tidak bermain dadu dengan alam semesta,” kata Einstein.

Fakta bahwa cinta adalah sesuatu yang eksis membawaku pada kesimpulan rasional: cinta ada karena si pencipta menghendaki manusia (ciptaannya) saling jatuh cinta. Cinta adalah konsekuensi logis (rasional) bagi manusia, karena cinta adalah bagian dari ‘grand design’ si pencipta atas ciptaannya. Maka manusia dan cinta, semua ada karena grand design tersebut. Dan karena tidak ada makhluk yang eksis selain karena dikehendaki, maka sekarang aku memproklamirkan, “I love, therefore I am… Aku mencintai, maka aku ada…!”

Tapi di chapter selanjutnya, Aristoteles mengatakan bahwa bukan rasionalitas yang membuat manusia sadar akan eksistensi cinta. Ia memang tidak menolak kalau dunia ini ada karena ide si pencipta. Tapi segera setelah manusia tercipta sebagai materi (fisik), manusia tidak lagi tahu apa sesungguhnya ide besar tersebut. Sebaliknya, kata Aristoteles, manusia mengonstruksi konsep-konsep, ide-ide atau gagasan mengenai dunia ini melalui indra dan perasaan (sense).

Demikian juga pendapatnya mengenai konsepsi atas cinta. Kata Aristoteles, cinta ada di antara manusia melalui pengalaman empiris. Baik secara fisik (melihat, menyentuh, mencium), maupun secara perasaan (membutuhkan, melindungi). Dari pengalaman empiris itulah manusia membangun gagasan mengenai cinta.

Mana yang benar jadinya? Tak tahulah. Seorang Platonis-rasionalistis akan mengatakan pada kekasihnya, “I knew I loved you before I met you..” (Savage Garden). Tapi seorang Arisotelian-empirisis akan mengatakan, “I’ve never known love until I met you…”


#ari

Monday, December 31, 2001

Juli's 2001

Kota apa yang paling tidak kusukai

Selamat pagi kepada siapapun yang merasakan pagi memberi enerji yang indah untuk menjalani hari baru. Mau tahu tidak kota apa di dunia ini yang paling tidak kusukai? Jakarta? Ya betul aku memang tidak suka dengan kota bejat ini, tapi ternyata ada lagi kota yang lebih menghantuiku. Kota Canberra. Kota kecil yang teratur dan tentram. Aku pernah kesana dan merasakan keteraturan di antara kesepiannya. Ketentraman di antara kesenduannya. Kota impian di masa berumur bukan?

Tanpa sengaja Canberra menoreh nanah di pelupuk hatiku. Merekam ingatan akannya mengalirkan gigil di telapak tanganku yang patah. Senandungkan nada sumbang di detak jantungku yang pipih. Merengaskan kulitku menjadi keriput sakit. Menguliti bibirku yang kering berdarah. Menyumbat lenggang tenggorokan yang sudah terengah-engah.

Canberra, jangan ada lagi kejutan peluru tandan yang tersisa. Atau jangan kautularkan kota lain untuk menelanjangi hatiku jadi beku.

Canberra, berikan aku senyum bintang yang paling manis. Dia dan aku memang masih tidak tahu sampai kapan pemberhentian kami. Tapi ia dan aku masih ingin punya cerita.

*November entah mengapa tidak ramah padaku


satu... jangan...

satu saja.
jangan dua.
yang kemarin sudah cukup membuat ledakan sebuncah bunga

satu noda.
jangan lagi.
yang dulu sekali pun masih pucat menebas kukuhnya seuntai perisai

satu mauku.
jangan usik dengan permainan sundal yang kasat mata.

satu hujan satu badai satu pelangi satu senja merah satu titik titik
jangan lebih perih jangan lebih gelap jangan lebih merona jangan lebih nikmat
jangan lebih titik titik

karena aku hanya manusia biasa
yang hanya kadang-kadang suka hal yang tidak biasa

*nopember pasi

Sunday, December 31, 2000

Ari's, 2000



sekarang musim semi ceritanya.
kata orang yunani,
musim semi adalah saat2 kembalinya dewi persefone kebumi.
persefone adalah putri zeus, dia dewi pemberi kesuburan di bumi.
kecantikannya memikat hati pluto,raja hades.
hades adalah kerajaan bawah tanah, tempat kegelapan dan jiwa orang2 mati.
dengan keretanya yang ditarik kuda2 berwarna hitam,
pluto menculik persefone ke hades dan menikahinya.
hera, sang ibu, begitu sedih.
stl 'negosiasi', pluto mengijinkan persefone untuk kembali ke permukaan bumi,
selama tiga bulan dalam setahun.
saat ia kembali itulah bunga2 merekah,
dan bumi mengakhiri saat2dingin dan kelam.
itulah musim semi.

kalo orang bule bilang,
spring is hope. musim semi adalah harapan.
memang sih, stl musim dingin yang membuat orang hanya ingin di dalam ruangan,
musim semi seolah2 menawarkan nuansa dan semangat baru.
makanya,aku ingin mengimpor musim semi ke indonesia kalau bisa.
biar negaraku itu bisa punya sedikit harapan...


"selalu ada cahaya di ujung lorong..."
kata orang bijak
dan untuk mencapainya,
tak ada pilihan lain
kita harus berjalan terus
karena berhenti atau mundur berarti hancur (taufik ismail)

di sanalah peri tengah menunggumu
bersama sayapnya yang kemilau
menantimu meniti tangga pelangi
menuju pundi2 emas di ujungnya

ap



hey...

katanya,
hari kemarin adalah pengalaman
hari ini adalah kenyataan
dan hari esok adalah cita-cita

pengalaman yang membuat kita bijak menjalani kenyataan
serta memiliki harapan untuk meraih cita-cita

aku pun ingin segera kembali
untuk tertawa bersama2 pelangiku...

Juli's 2000

apakah hatiku
ketika detak jam pasir mengganggu telinga
mengingatkan harinya datang

apakah hatiku
ketika awan hitam menyapa kening kering
menyadarkan belaiannya takkan lama lagi

apakah hatiku
ketika biru membangunkan dari tidur
menyuntikkan ketidakadilan dunia

apakah hatiku apakah hatiku
aku inginkan sendu ini jadi indah
enam bulan lagi...

juli pada januari 11



Sempoyongan di sebuah…


Sempoyongan di sebuah jalanan berdebu, gelap dan galau
terlalu sunyi entah mengapa, sampai-sampai ketika ia mengatup bibirnya yang
kelabu terdengar giginya berdentangan.
Tak ada yang tahu, dia atau aku atau ketika bertanya pada langit yang
membisu dingin
sampai kapan pemberhentian kami.

Di tengah peluhnya malam, yang aneh, aku dan ia berkeringat
di antara gemeletuk batu-batu es.
Ia memecah kebekuan dan kesenduan, mengajak tertawa terbahak
dari yang diibuat-buat sampai yang benar-benar terpingkal-pingkal entah mengapa kami tertawa.
Lalu ia mengajak menangis dari yang sesenggukan hingga meratap ketakutan
entah mengapa kami menangis.

Dia dan aku masih tidak tahu sampai kapan pemberhentian kami.
Tapi ia dan aku masih ingin punya cerita.

Juls
Maret 16, 00




?

ketika pagi datang melarikan dari mimpi
aku berkata untuk mengunyah senyum

ketika embun menyentuh samar bulu-bulu halus di dengkulku
aku bergidik tapi biasa

ketika mentari terik menampar merengas mata untuk menyipit
aku mengaduh sepi

ketika langit melembut dan merona-rona jingga
aku sedikit lega mendapatkan waktu

ketika mentari belum lagi pergi dan bulan menyembul terlalu dini
aku teringat dua rasa

apakah hari ketika aku begitu malas untuk beranjak
apakah hari ketika aku begitu menantikan seseorang
apakah hari ketika bedug di dada tak henti menekan
apakah hari ketika aku ingin tertawa bersama dunia
apakah hari ketika salib menorehku berdarah
apakah hari ketika wajahku penuh bunga dan pendar

hari kemarin, ini dan esok?

Jun, 00


Katakan padanya


Katakan pada gadis kecilmu
Bunga mataharinya takkan lelah tersenyum
Bunga rose ungunya takkan layu menangis

Katakan pada kilat matanya
Jam pasirnya akan sampai pada bulan ke delapan
Pelangi di atas kepalanya akan bergurat kembali

Hatinya takkan meraba lagi
Gelaknya tak pasi lagi
Bibirnya mendapatkan bibirmu

Katakan padanya


***June 2000,sbh kangen



CUP

Empat tahun yang lewat menera-nera
Gejolak yang pernah datang untuk pertama kalinya
Seperti panas dan dingin yang sukar dilerai
Biar sudah mengadu pada siapa yang maha kuasa
Mengaduh marah tapi anehnya merasa lega

Menurutku…
Cup itu indah
Pada akhirnya
Dan ternyata
Belum berahkir
Dan aku tak ingin berakhir

November 2000
Ingatkah ?

Friday, December 31, 1999

Ari's, 1999

untuk pelangiku...

sudilah kiranya tuan tetap bersinar
menemani mentari yang tak ingin terbenam
menemani dua anak manusia
yang tengah meniti tangga harapan
untuk berdua bersua lagi di ujung pelangi...

ijul,don't go anywhere yah, wait for me to come back!

dear julie...

kalau ada satu penyesalan sekarang ini adalah
ketidakmampuanku untuk terus terjaga sepanjang malam kemarin
sehingga aku tak perlu menyiakan tiap detik yang ada
tapi tiap detik saatku terjaga bersamamu kemarin
berarti lebih besar dari seribu tahun sekalipun...

13/1/99



HUJAN DI CANBERRA 1

Ada rinduku yang jatuh bersama butiran2 hujan itu
Maka biarkan ia ikut meresap ke tanah
Dialirkan oleh sungai, dan dibawa ke laut

Karena oleh matahari ia akan diajak menguap
Bergabung bersama butiran2 rinduku yang lain di awan...
dan ia adalah embun yang akan kau temui
di dedaunan, pagi hari saat kau bangun...

Feb '99


DELUSI 1

Di antara daun-daun musim gugur, di sini
aku berkawan dengan bayang-bayang,
bercakap dengan imaji
yang selalu menambahkan dalamnya kerinduan
ketika hanya kudapati ruang kosong
tiap kali aku menggapainya

Mar '99

DELUSI 2

Kaukah itu, ah bukan...
tidak, kau tidak di sini, kau di situ
ya, di tempatmu sekarang berpijak
dan aku di bawah langitku berpayung

Lantas kalau hanya ilusi,
bagaimana bisa kau tetap membuat inderaku
tidak merasakan ketidakhadiranmu?

Mar '99


Setiap detik di sini adalah kerinduan
Setiap langkah di sini adalah penantian
Setiap desir angin di sini adalah pesan
Setiap ketikan keyboard di sini adalah pelampiasan

Dan jam pasirku masih tetap perlahan bergulir

Mar '99



Tiap langkah kutapaki kota asing ini
jejak-jejakku membekaskan bait demi bait kerinduan
yang akan kujalani, melewati saat-saat
daun menguning dan berguguran,
menantikan salju yang enggan turun
hingga bunga-bunga kembali bermekaran

Detik demi detik adalah saat
dimana ada celah di dalam sini...
yang hanya bisa diisi oleh imajimu

Summer '99


semoga
masih ada spasi
sedikit saja di kamusmu
untuk empat huruf
yang sangat mahal ini

andaikan saja
aku bisa menggapai pelangi
dan menukarkannya padamu
walau ku tahu
tak kan kuasa ku menjadikannya nyata

semoga
maaf itu belum punah...


satu kebodohan
sudah terlalu banyak
untuk menghancurkan
sebukit keindahan yang sudah dibangun
tapi bukit kepercayaan
memang tak bisa dibangun
hanya dari penyesalan


kamu menuntut kepercayaan
aku menjawab dengan kebodohan
yang berbaur dengan cemburu

aku berharap maaf
kamu meminta waktu
aku hanya berharap
akhirnya waktu mampu membawakan maaf

99



Musim Semi

ketika musim semi mengetuk
matahari membawakan bunga-bunga
dan angin membawakan keceriaan
pohon-pohon cherry mengundang
para lebah dan burung
harapan yang didendamkan
membuyarkan kebekuan semusim lalu
menyambut kembalinya dewi persefone
dari kegelapan hades
ketika musim semi mengetuk
rindu pun tak bisa kubendung

sept '99

Juli's 1999

sebuah nama dalam lamunanku....
kugores-gores dengan sepenuh hati...
lewat pena yg berjingkat anggun di kertas seputih pengantin...
tiada lelah untuk mencapai persinggahan...
menerobos dengan lembut sepinya daratan hampanya lautan...
yang kadang begitu kejam memainkan panggungnya...

sebuah sosok dalam heningnya mata ini menutup...
mampu menyeka matahari sengit yg melecut kepedihan...
menyisipkan rona jambon pada pasinya rembulan...
menambah satu kilat pada sepinya langit hitam...
menengahi sebuah kegalauan yg datang tanpa diminta...

sebuah harapan kulilit di loyang cintaku...
menanti lohincvar-ku

maret 99


adalah aku

adakalanya aku memaksa bunga tidurku
adalah aku mengacak barisan awan putih
adalah aku memutar matahari lebih cepat
adalah aku mengganti musim sesegera
adalah aku menyeret tanggal demi tanggal

karena aku merindukannya...


AKU SANG BULIR LUKA

buat si dia yang mengaku2 turunan matahari,
ada bulir luka yang menganga berharap diseka
tapi dimanakah dia?
sang dewi murung masih mengitarinya dengan segala teka tekinya

aku sang bulir luka
sungguh ingin segera menyulap diri
dan lepas dari magnit sang dewi murung
karena
aku sang bulir luka
merasakan dentaman hebat menggugah rasa
menyeruak diantara aura mereka
diantara jalinan bintang milik mereka

....
juls des 99

Thursday, December 31, 1998

Ari's, 1998

Menapaki langkah demi langkah
Terlalui di tempat asing ini
"Ini adalah satu langkah kecil", kata Neil Armstrong
ketika pertama kali melangkah di bulan
"tapi merupakan langkah raksasa umat manusia..."
Mungkin ini bukan apa-apa bagi umat manusia
Tapi bisa jadi langkah penting buatku

Dinding-dinding batu yang angkuh
Perlahan mulai bersahabat
Walaupun matahari musim panas tetap ganas
(karena kemarau, mereka menghidupkan sprinkler
di mana-mana, dan menciptakan banyak pelangi kecil)...
tapi selalu aku menoleh
dan mendapati aku tak sedang bersamamu...

Canberra, Jan 7, 1998

Hei,
jangan kau curi bunga-bunga
yang sedang kumekarkan dan kurekahkan
kala aku tengah mengagumi embun
pasrah menggantung di kelopaknya,
jangan kau usik kupu-kupu dari serbuk sari
kala mereka tengah menimba madu
biarkan bunga-bungaku merambati dinding
tempatnya bertajuk sehingga nanti
perlahan ia membuatnya lapuk

Hei,
jangan kau curi mimpi-mimpi
yang tengah kurangkaikan dengan untaian
benang-benang asa dan serpihan-serpihan cita,
jangan kau buyarkan lamunan
tentang jalan yang panjang dan terjal yang akan kutiti
walaupun berserakan kerikil namun
senantiasa disejukkan oleh putra-putra Eolia

Hei,
jangan kau curi pelangiku
yang menjadi jembatanku merengkuh emas di kaki langit
dan kendaraanku untuk pergi meninggalkan sejuta bukit
yang memberati punggungku,
jangan kau berani menghentikan hujan dari
membiaskan cahaya matahari
memberikan warna-warni kahyangan
membawa ketenangan atas kegundahan
menyiratkan keindahan...

yang Aphrodite pun cemburu

November 1998



Katakan pada pelangi,
Aku mencintainya
Walau kata-kata tak dapat mewakilinya
Tapi perasaan tetap indah untuk diungkapkan
Katakan pada pelangi,
Jangan renggut sinarnya dari hidupku

A.P.


It's Saturday night
and this city has nowhere to go
while I'm alone in my room
thinking about my darling
wondering what she's doing now
curious if she'll be missing me

it's getting cloudy outside
and the thunder starts to roar
I think it's going to rain
I used to love rain so much
but now it only makes me feel blue
because it should be me and my darling
enjoying the rain together

rain -- it just makes me more lonely

only that little penguin in my bed
with its tiny naughty eyes staring at me
being the representative of my baby
hope she's feeling the same feeling...

Ari

Juli's, 1998

Undo

“I guess it’s kind of right
Life is best played without a script”

Ketika mencoba untuk berbuat
Sesuatu yang manis, yang bisa
Dikenang dengan senyum
Ternyata berantakan…

Ketika skenario terlalu matang
Diangankan
Berharap pelangi membela
Ternyata gugur…

Keinginan yang hanya sederhana,
Yang hanya butuhkan segenggam
Waktu, yang hanya pentaskan niat
Ternyata memerahkan rasa…

Lagi,
Terulang ketololan
Yang katanya coba dihapus
Ternyata khayal masih menguntit…

Jul
Jan 2’ 1998
The sad new year



Selamat ulang tahun buat ari

Dengan cara apapun kamu merajuk
Umur tak akan pernah mau mengalah
Perintahkan saja dia
Agar merayumu untuk menengok ke belakang sejenak
Dan merakitkan satu lagi kedewasaan

Ari,
Ulang tahun mungkin memang bukan hari yang harus diistimewakan dibanding hari-hari lain,
Tapi menjadi istimewa karena kamu istimewa bagi juli

Feb 8’ 1998



menatap matanya
adalah membuka segala impian berbunga
adalah meletup detak nadi ke permukaan
adalah mereka-reka ke arah mana pena menggiring

menelusuri dirinya
kuingin hanyutkan bayang berduri
kuingin tidak peduli esok
kuingin genggaman tangannya

juls
march 16'1998
pagi-pagi



Heaven's tear

sepertinya tidak bisa lagi aku congkak membenci hujan
tidak sanggup aku mencinta kemarau yang merajam halusnya pipi
tidak tahan aku membiarkan panas membawa api jahanam
lalu menghantarkan angin memporakporandakan sang dewa hijau

saat kemarau tiba
tidak bisa tidak kurindukan hujan
menyirami sela2 rambutku, pipiku dan tubuhku
kembali merasakan bangkitnya kegalauan menjadi kedamaian

airmataku memang jatuh menderas akhir2 ini
jangan katakan kemarau lagi
aku masih berharap
dia dan aku punya senyum

hei, jangan lagi hujan dalam nada c minor.....

juls'heaven's tear ...... (laura)mei 18'98

ape-ku tersayang

sesegera cincin matahari yang lalu

yang menyadarkan manusia dari roda2nya

kuterjaga di sebuah detik yang terus berlanjut

menatap jendela berharap senyumnya

memejamkan mata aku membayang

siluet dia dan aku pada tengah cincin

menari, merebah dan mencinta

Penghujung 1998

aku ingin kamu mengenangku,

dengan segenggam potret cerita kita,

tiap kamu membuka mata menyambut dunia,

tiap kamu menutup mata menera mimpi.

jul sayang ar

Wednesday, December 31, 1997

Ari's, 1997

Dinding-dinding itu
Yang kasat mata,
namun keberadaannya nyata

Satu hari nanti mungkin
kita akan menabrakkan diri
Namun genggaman tanganmu
Masih membuatku enggan untuk berlalu

Feb '97


Katakan pada pelangi
Aku mencintainya
tanpa kata-kata
dan ungkapan rasa

Dan beritahukan ia
Tentang ketakutanku
akan kehilangan warna-warninya

Feb '97

Juli's, 1997




Being abused

Penyesalan tak kan ada di awal
Buih yang sudah berserak
Letih untuk dikumpulkan kembali


Aku benci !!!


Saat badai menampar
Yang diharap tak kunjung

Tiba-tiba datangnya
Mengejutkan dan menyejukkan

*when I ate and saw family 100, he came.
Emang sih bukan karena gue nya, tapi karena dia keilangan dompet
Tapi damai juga because he trusts me

march 19



Menyanyi hatiku,
Menari,
Merajuk,
Mencinta,
Di awan yang paling kupuja


# March 22, after MKSE


Pertikaian terkadang harus ada
Memasung pelangi tanpa warna


Apr 1, after boe open house



Tak ada ….
Yang ada ….

Tak ada sengaja
Dia dan aku menantang belantara

Tak ada niat
Dia dan aku mengoyak nafas sang raja

Yang ada hanya
Dia dan aku dalam pelangi yang sama


jul, 5 april 97


You give me ‘kling’


Dua peluh
Yang menyatu lebur
Yang meredam detak jantung
Yang memburu lega
Yang menetas ‘kling’ di penjuru ubun2

Pun takkan mampu menerangkan
Nuansa yang dirasa

Awasi satu malam
Nikmati satu rasa yang tak terkira
Walau ternyata
Kusisakan sepertiga kecemasan


Jul, April 5’97
Tidak (usah) berpikir rumit
Rasakan saja …let it flow …
(mungkin) itu jawabnya (sekarang)



gamang

Mengapa terkadang harus ada rasa pahit di tenggorokan
???

Yang menawarkan keragu-raguan
Yang menerawangkan pikiran kemana-mana
Yang mengeringkan diriku dari dalam

Aku hanya bisa berharap dengan sangat
Bila pagi membangunkanku

*tembok … kenapa harus ada???
April sebelas



lochinvar

Karena yang dirasa
Betapa tak bosan-bosannya
Tiap detik dalam kesendirian
Menera hati2 mosaik
Yang menjelmakan sang lochinvar

Saat menatap lazuardi nan cantik
Ketika temaramnya malam berbisik
Berkhayal merangkai bintang
Di padang hijau nan ramah

Menggapai mimpi
Berharap pagi mengubah skenario
Karena begitu inginnya aku berkelana
Merasakan lekuk indah di atas matanya
Merasakan tiap jengkal sentuhannya

Dan tak kan melepasnya

# kayaknya aku makin cinta…. 12 april 1997


selamat sore cupid,
kamu memanah tepat pada sasaran
dua bintang kecil ber-slam-dunk
di pelangi yang paling indah
yang pernah ada

ya…
once more
sentuhan bagai sebuah magnit
rasionalitas jauh tertinggal di belakang

april dua enam sembilan tujuh