Friday, March 14, 2008

Kuala Lumpur bound...

Berhubung menang lomba menulis wisata di Kompas, aku dapat hadiah paket tur 3 hari 2 malam Kualalumpur dari Best Tour. Sayang hadiahnya hanya untuk 1 orang. Jadi mau ga mau harus beli juga buat Ari. Setelah ditimbang-timbang, RaRa tidak diajak pergi. Sebabnya, kita belum berani bawa RaRa ke luar negeri walaupun sebenarnya waktu tempuh 2 jam yang relatif ga beda dengan ke Bali. Tapi ya namanya juga bukan negara sendiri.

Sebenarnya aku tidak terlalu eager jalan-jalan ke Kualalumpur. Alasannya karena sudah pernah (walau singkat juga) di tahun 2003 dan buatku Kualalumpur bukan tujuan wisata yang menarik. Tadinya mau aku alihkan hadiahnya, tapi ternyata tidak bisa dipindahnama. Jadi karena sayang kalau tidak digunakan, akhirnya kita memutuskan berangkat tanggal 14-16 Febuari. Ga bermaksud disama-samain dengan Valentine’s day, kebetulan saja milihnya bertepatan.

Karena sudah diatur dari biro travelnya, kita naik pesawat Lion Air. Sebelumnya kita belum pernah naik Lion Air. Untungnya RaRa tidak ikut (sebab detik-detik terakhir mau berangkat, kita kepikiran ingin bawa RaRa karena takut kangen). Soalnya walaupun masuk terminal internasional, ternyata berangkat tetap dari domestik. Jadi dari internasional harus naik bis ke domestik. Belum telatnya kurang lebih 1 jam. Wah ribet deh, kasihan RaRa kalau ikut. Berikut saran yang aku sampaikan ke CustomerCare@lionair.co.id (belum mendapat tanggapan):

Sebenarnya tidak ada yang jelek dalam penerbangan tersebut (walaupun pulang pergi ada keterlambatan terbang, tapi bisa ditolerir). Tapi ada satu hal yang ingin saya sampaikan sebagai masukan bagi Lion Air untuk memperbaiki image. Apalagi saya baca di Kompas hari ini, Lion Air baru saja membeli banyak pesawat baru.

Saran saya menyangkut hospitality pramugari. Pertama, Lion Air memberikan jasa pelayanan, selayaknya pramugari sebagai pihak yang bertemu langsung dengan pelanggan memberikan pelayanan yang ramah. Pramugari pada saat saya pergi dan kembali ke Jakarta tampak setengah2 dalam tersenyum dan malas mengucapkan selamat datang. Padahal jika pelanggan menunggu terlalu lama apalagi ada delay, kehangatan dari awak pesawat bisa menjadi hal yang menyenangkan.

Yang kedua, saya sungguh prihatin dengan sikap pramugari yang kurang membantu orang tua. Ketika terbang kembali ke Jakarta, saya melihat ada dua orang ibu yang sudah berumur (mungkin lebih dari 60 thn) yang hendak meletakkan kopernya di kabin. Pramugari yang tepat berdiri di samping 2 ibu tersebut hanya diam melihat dan sama sekali tidak memiliki intensi untuk menolong. Ibu yang pertama cukup tinggi sehingga ia bisa meletakkan tasnya sendiri. Tapi ibu yang kedua lebih kecil dan membawa koper. Sampai akhirnya si ibu tersebut berkata minta tolong pada sang pramugari (yang senyumnya pun mahal sekali) baru ia mau menolong. Bagi saya hal tersebut sungguh keterlaluan.

No comments: